HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Selasa, 16 April 2013 - 16:13
Gelar Rupa (Pemandangan) Pertama di Oudetrap
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Lukisan "The Champion", karya Abdul Basori, yang dilukis dengan akrilik di atas kanvas, dan berukuran 180x130 cm. (foto: Christian Heru Cahyo Saputro)
SEBUAH perhelatan seni rupa baru saja usai digelar di Semarang. Pameran yang bertajuk The First View of Art in Oudetrap ini digelar sebagai sebuah momentum awal langkah dan sekaligus peresmian gallery yang berlokasi di Jalan Srigunting no. 3, Kota Lama, Semarang.

Pameran ini digelar berkat kerjasama arsiSKETur, Badan Pengelola Kawasan Kota Lama (BPK2L) dan Raden Saleh Community Semarang. Pameran yang diorganisasi oleh arsiSKETur ini yang ditaja antara 2-15 Maret 2013 lalu tak kurang diikuti 32 pelukis dengan mengusung 75 karya lukis. Gedung yang bertetangga dengan gereja blenduk yang mempunyai  ciri khas ada tangga putar (oudetrap)-nya ini jadi saksi bangkitnya kembali para perupa Semarang. Yang beberapa tahun belakangan ini merasa asing di negeri sendiri, khususnya buat pelukis realis.

Karena dua buah galeri yang ada di Semarang yaitu H2Art dan Semarang Gallery dan kini tinggal yang terakhir yang masih aktif banyak mengusung karya-karya kontemporer. Dan kebanyakan yang diusung pun karya perupa dari daerah lain dan luar negeri. Meski beberapa tahun terakhir juga memberi kesempatan pada perupa Semarang termasuk pameran sketsa yang belum lama ini digelar.

Mengaparesiasi Perupa Semarang

Ketua Komunitas Sketser Arsitektur (arsiSKETur) Sugiarto mengatakan sebagai organizer pameran ini merupakan rentetan kegiatan arsiSKETur yang memiliki visi dan misi yang berbasis dokumentasi bangunan di Kota Lama ikut ambil bagian dalam memberi warna kehidupan di kota Lama. Untuk yang perdana pihaknya mengusung dan memberi kesempatan Komunitas pelukis Raden Saleh untuk berpameran. “Kami berusaha akan menjadikan Oudetrap Gallery menjadi wadah kegiatan seni budaya di Kota Lama,” tekad Sugiarto.

Menurut Ketua Pelaksana Noesantoro, momentum ini bukanlah suatu kebetulan, namun sesuatu yang harus terjadi.“ Ini merupakan bentuk kolaborasi antar-pekerja seni. Bermodalkan kebersamaan kami mencoba mengolah Oudetrap yang dengan ikhlas disediakan pemilik gedung bapak Budhy Pranoto untuk di kelola untuk panggung kreativitas seniman,” papar Noesantoro.

Hal senada juga diungkapkan Wibowo Sanjoyo, salah satu perupa senior peserta dari Komunitas Pelukis Raden Saleh, momentum ini memang kami rindukan. “Selama ini banyak perupa Semarang justru banyak berkiprah dan berpameran di kota lain seperti; Solo, dan Jogyakarta.Maka kami dari Komunitas Raden Saleh langsung merespon pameran ini,” ujar Bowo yang sudah berkiprah melukis sejak tahun delapan puluhan ini.

Harapan ke depannya, Oudetrap Gallery ini, bisa jadi galeri yang bisa menjadi sekaligus rumah perupa Semarang. “Bisa dijadikan tempat berdiskusi, saling belajar, bukan hanya sekadar tempat memajang karya,” ujar Bowo yang pernah pameran di Pasar Seni Ancol.

Ruang Apresiasi

Helat pertama di Oudetrap ini menggelar karya para perupa dari Komunitas Raden Saleh. Komunitas ini sendiri sudah merekam jejak sejarah panjang. Bahkan komunitas Raden Saleh sudah eksis pada dekade 80-an di Semarang.

Menurut catatan pengamat seni rupa dan juga pengajar seni rupa di Universitas Negeri Semarang Aryo Sunaryo. Komunitas Raden Saleh ini para anggotanya menekuni dunia seni rupa secara otodidak. “Dalam keseharian mereka hidup dari dunia seni lukis,” ujar Aryo.

Beberapa anggota komunitas ini secara diam-diam terus berkarya dan punya peminat atau pasar tersendiri. “Bahkan mereka secara berkelompok pernah berpameran di Taman Budaya Jawa Tengah, Surakarta. “Maka dalam pameran ini mereka mempunyai spirit untuk bertumbuh di kampong halamannya,” imbuh Aryo.

Ditambahkannya, karya-karya yang dipamerkan para perupa tidak punya pretense mengusung wacana yang jauh dari trend saat ini yang mengedepankan wacana kontemporer.Seperti pernah diungkapkan perupa dan pengamat dari Bandung, kalau Semarang sesungguhnya merupakan gudangnya realisme.

Tema yang diusung pun tema keseharian, tentang keindahan alam, tetumbuhan, binatang dan kehidupan sosial, “Perupa mengusung yang selama ini diakrabinya. Rata-rata pada aliran representative khususnya karya yang realistik,” papar Aryo.

Kehadiran pameran karya Komunitas Raden Saleh ini, lanjur Aryo, setidaknya membuka ruang lain sebagi eksistensi dan bentuk dan jenis kesenian. “Mudah-mudahan kehadiran pameran ini ikut menggairahkan kehidupan berkesenian di Semrang dan memarakkan kawasan Kota Lama,” imbuh Aryo.

Pengurus BP2KL sekaligus pemilik gedung Budhy Pranoto, berharap kegiatan pameran ini merupakan titik tolak untuk rangkaian kegitan kesenian yang bermutu yang bakal digelar di Oudetrap. “Mudah-mudahan galeri ini dapat mewadahi apresiasi dan kegiatan untuk beraktivitas positif demi kemajuan pendidikan seni dan budaya di Semarang,” ujar Budhy Pranoto.

Sementara itu,Ketua BPK2L H. Surachman, S.IP mengatakan tampilnya Komunitas Rden Saleh pada gelaran ini dua hal penting yang perlu dimaknai. Pertama, Oudetrap sendiri bangunan yang dulunya memikiliki dua tangga putar ini sebagai tempat pameran mempunyai karakter. Melalui Oudetrap komunitas ini mengingatkan akan pentingnya sebuah karakter. “Di jaman yang karut-marutnya kebudayaan ini karakter sangat dibutuhkan. Kita harus kembali sebagai bangsa yang berkarakter,” ujar Surachman mengingatkan.

Kedua, lanjut, Ketua BPK2L ini, tokoh Raden Saleh (1811), tokoh pelukis modern yang pernah tinggal di di luar negeri merupakan salah satu tokoh penting. “Dan pelukis ternama itu berasal dari Semarang. Perlu dicatat Semarang punya catatan emas pada sejarah seni rupa Indonesia,” paparnya.

Untuk itu, Surachman berharap spirit yang sangat bagus ini terus dapa ditingkatkan sehingga pada gilirannya masyakat Semarang sadar punya tinggalan warisan heritage Kotalama yang sangat berharga. “Apalagi Kota Lama yang sering di sebut Little Netherland ini sedang diusulkan ke UNESCO menuju World Heritage 2018,” tambah Surachman. ***

*) Pengamat Seni Rupa bermukim di Tembalang.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Jum'at, 12 Juli 2013 - 11:40
Gerard - gerardocavalera@gmail.com
A GREAT SPIRIT FOR THE NEXT ELEMENTS GROWT IN KOTALAMA ZONE.SALUTE!
28-04-2014 s/d 03-05-2014
"Okomama: Bianglala Rupa Flobamorata", Pameran Keliling Koleksi Pilihan Galeri Nasional Indonesia dan karya seniman NTT
di Taman Budaya Nusa Tenggara Timur, Kupang
26-04-2014
Jagongan Wagen Edisi April 2014: NGGARAP(i) Kenyataan
di Padepokan Seni Bagong Kussudiardja. Dusun Kembaran RT 04/ RW 05 Bantul, DI Yogyakarta
23-04-2014
Useful Thinking: on Evaluating Community Arts for Social Change
di Indonesia Visual Arts Archive (IVAA) Jalan Ireda, Gang Hiperkes MG I/ 188 A-B Kampung Dipowinatan, Keparakan Yogyakarta 55152, Indonesia Tel./Fax: +62 274 375 262
23-04-2014
Pentas Wayang Manuk
di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo.
22-04-2014 s/d 27-04-2014
Pameran Seni Rupa "PRASANGKA MEMBAWA NIKMAT"
di JOGJA GALLERY, Jl. Pekapalan, Alun-alun Utara no.7 Yogyakarta, Indonesia
21-04-2014 s/d 30-04-2014
Pembukaan pameran karya seni untuk novel "NAWUNG: Putri Malu dari Jawa"
di Tirana Artspace. Jl Suryodiningratan 53-55 Yogyakarta
20-04-2014
Diskusi "DISCOURSE OF THE PAST"
di The READING ROOM, Jl Kemang Timur 57 Jaksel
19-04-2014
KONSER MUSIC BATAK " Di Jou Au Mulak"
di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardja Soemantri (Purna Budaya) UGM
15-04-2014
Simposium INISIATIF WARGA DALAM SENI DAN SAINS
di Auditorium Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Jl. Flora, Bulaksumur, Yogyakarta
15-04-2014
Pembukaan NALARROEPA Ruang Seni dan Pameran Seni Rupa MJK club
di Karangjati RT.05, RW. XI. Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
read more »
Sabtu, 19-04-2014
Dari Dunia Pengkoleksian Seni Rupa Indonesia
oleh Syakieb Sungkar
Minggu, 13-04-2014
Upacara Tradisional, Kohesi Sosial, dan Bangunan Kebangsaan
oleh Ayu Sutarto
Selasa, 01-04-2014
Membela dengan Sastra (Sebuah Pidato Kebudayaan)
oleh Ahmad Tohari
Rabu, 26-03-2014
Warisan Demokrasi Gorontalo
oleh Hasanuddin
Selasa, 18-03-2014
Demokrasi Berbudaya Minahasa
oleh Jultje Rattu
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
Grants for Media Art 2014 of the Foundation of Lower Saxony at the Edith-Russ-Haus, Germany
read more »
20/04/2014 09:31 | Syakieb Sungkar | terima kasih
20/04/2014 09:27 | Syakieb Sungkar |
07/04/2014 00:46 | abdul aziz | mohon bantuan untuk penerbitan buku topeng blantek
03/04/2014 21:13 | Aprimas | Selamat dan Sukses untuk "Guru" Seni Rupa di seluruh Indonesia, Smoga kedepan semakin kreatif, produktif dan inovatif, sehingga dapat sebagai acuan dan pacuan kreativitas bagi generasi masa epan,...Salam
15/03/2014 18:09 | Lilik Indrawati | Ok. I will tray... matur nuwun Pak Kuss.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id