HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Jum'at, 29 April 2011 - 06:38
Perayaan dan Pengagungan pada Otomotif
oleh Argus Firmansah
“Beetle Box”, patung karya Ichwan Noor yang berdimensi 160 x 160 x 160 cm dengan medium cast alumunium & polyester serta aksesoris asli mobil VolksWagen 1967. (foto: argus)
PAMERAN “Indonesia Art & Motoring #1: Motion & Reflection” yang diselenggarakan Adira Finance baru saja digelar di Galeri Nasional mulai 25 April dan akan berlangsung hingga 1 Mei 2011. Delapan puluh empat seniman Indonesia menyajikan karya seni lukis, seni instalasi, patung, grafis, fotografi, digital imaging, cukil kayu dibayangi tema spesifik yang dikurasi oleh Rizki A. Zaelani dan Riktik Kusmara. Delapan seniman di antaranya menyajikan karya commission art.

Seniman pada pameran ini menanggapi kuratorial yang dibuat kurator pameran, yaitu menempatkan makna dan tanggapan tentang nilai pergerakan atau perpindahan sebagai manifestasi dari kondisi peralihan, perubahan, bahkan hijrah, manusia dari satu kondisi ke kondisi yang lainnya. Teknologi dan seni tentu saja tidak dapat dipisahkan dalam sejarah kebudayaan manusia sejak jaman prasejarah hingga saat ini. seniman dalam hal ini berupaya menjawab atau mengajukan tesis mengenai hubungan mutual seni dan teknologi – keduanya merupakan tanda-tanda budaya yang selalu eksis hingga saat ini.

Beragam tanggapan estetik berupa karya seni rupa oleh seniman tentu pula mengacu pada batasan kuratorial yaitu bagaimana membaca hubungan antara aspek-aspek bentuk, fungsi dan nilai simbolik dari hasil kebudayaan masyarakat modern – kendaraan – di jamannya yang hingga kini terus berevolusi seiring dengan perubahan alam.

Life style. Kata itu nampaknya merepresentasikan hampir seluruh karya seni rupa – kalau boleh disebut seni rupa kontemporer – yang disajikan 82 seniman muda hingga seniman mapan seperti Sunaryo. Ya, memang hanya Sunaryo yang tidak secara verbal membahasan spirit dari objek kendaraan bermotor yang menjadi pijakan semua seniman dalam penyajian karyanya. Sunaryo menyajikan lukisan abstrak yang mengartikulasikan semangat mobilitas ruang dan waktu budaya manusia dari jaman ke jaman. Sementara seniman yang lain memang memotret kendaraan bermotor sebagai entitas objektifikasi kekaryaannya. Tak heran bila bagian-bagian tubuh dari kendaraan bermotor sampai aksesorisnya tampil di atas bidang karya para seniman.

Para seniman yang terlibat dalam pameran ini adalah, AB Soetikno (BHINEKA), Agus Budiyanto, Awan Simatupang (commision), Danny Irawan, Nesther Sinaga, Hanafi, Indah Arsyad, Indra Leonardi, Indyra, Ito Joyoatmodjo, Jerry Thung, Nus Salomo, Syah Fadil, Yani Halim, Yani Maryani S., Gede Puja, Agung Fitriana, Ali Robin (commision), Benny Messa, Budi Adi Nugroho (commision), Cecep M. Taufik, Dadan Setiawan, Dadang MA, Deden Hendan Durrahman, Dikdik Sayahkudimullah, Diman Arif Nugroho, 3RD Droom, Ferry Widiantoro, Handy Hermansyah, Harry Cahaya, Hilman Hendarsyah, Irfan Winoto (Dechan), Irman A. Rahman, Monika Ary Kartika, M. Rizal Fauzi Koswara, Nurdian Ichsan, Panca DZ, R.O. Dimitri, Reggie Aquara, Rosid, Rudi St Darma, Sunaryo, Theo Frids M. Hutabarat, Tinton Satrio, Wastuwidyawan Paramaputra, Willy Himawan, Yogie A. Ginanjar, Wahyu Srikaryadi, Agus Triyanto BR., Bambang ‘Toko’ W., Budi Kustarto, Erica hestu Wahyuni, Eddy Prabandono, Edo Pillu, Entang Wiharso, Farhan Siki, Hedi Harianto (commision), Heri Dono, Ichwan Noor (commision), Komroden Haro, Lutse Lambert DM (commision), Nasirun, Putu Sutawijaya, S. Teddy D., TeguhS. Priyono (commision), Tommy Tanggara, Kelompok Hitam Manis, Adin Widyardini, Deddy PAW, Putut W. Widodo, Oktar Abrianto, Agung Tato Suryanto, Meirza Said, Waluyo Hadi, Ketut Moniarta, Nyoman Wijaya, Polenk Rediasa, I Wayan Sudjana Suklu, I Wayan Suja Chusin Setiadikara, Bestrizal Besta, dan Cadio Tarompo.

Karya-karya seni rupa yang merefleksikan entitas dominan yang sekaligus menjadi tanda kemajuan teknologi manusia itu hadir di Gedung A dan Gedung B – Galeri Nasional Indonesia, Jakarta – sementara karya-karya yang tidak serta-merta menempatkan bagian anatomi kendaraan bermotor banyak dipajang di Gedung C. Sebut saja karya Wayan Sujana Suklu, Rudi St. Darma, misalnya, dua seniman ini tidak secara verbal merefleksikan teknologi terkini dalam budaya mesin penggerak transportasi manusia. Rudi St. Darma menghadirkan objek kuda di atas kanvasnya dengan kode-kode tekstual pada tubuh kuda yang sedang in-motion itu. Suklu menggambar roda pedati. Karya dua seniman ini dianggap mewakili teknologi awal budaya transportasi masyarakat sebelum mesin penggerak diciptakan menggunakan minyak bumi.

Karya Ichwan Noor, “Beetle Box”, berdimensi 160 x 160 x 160 cm dengan medium cast alumunium & polyester serta aksesoris asli mobil VolksWagen 1967 yang dipajang di Gedung A menjadi salah satu fokus apresiasi pengunjung pameran “Indonesia Art Motoring #1: Motion & Reflection” di malam pembukaan pameran Senin (25/4) malam. Ichwan Noor, salah satu commission artist dalam pameran itu, memang tidak main-main dengan permainan estetis yang digarapnya dengan membuat kubus sebuah mobil VolksWagen tahun 1967 itu. Sebelumnya pengunjung memang sangat akrab dengan karya Heri Dono, “Oxymoronia”. Heri Dono menyajikan karya tiga patung manusia bersayap mengendarai motor tua.

Sesuatu yang tidak lazim dalam pameran seni rupa kali ini adalah display koleksi mobil dan motor klasik dari Indonesia Classic Car Owners Club dan komunitas motor tua dari Jakarta di antara penyajian karya-karya seni rupa. Sehingga nampak sebuah kolaborasi wacana karya seni yang menitikberatkan pada nilai desain dan fungsi benda dengan karya seni tinggi serta ideologinya masing-masing. Dalam hal ini nampak jelas pula bahwa objek riil yang seakan-akan diapropriasi atau dengan kata lain direfleksikan pada karya seni rupa [lukisan, grafis, fotografi, seni instalasi] hadir di ruang dan waktu apresiasi yang sama. Tentu saja kekuatan ekspresi dan pemaknaannya jelas berbeda antara kedua objek karya yang dipamerkan secara bersamaan itu – terlepas dari pemahaman penyelenggara atas determinisme dua karya seni yang ditampilkan. Kemudian pameran ini dapat saja dikatakan sebuah arts festival atau Art festival – dalam terminologi art (huruf ‘a’) dengan Art (huruf ‘A’) sebagai manifestasi pewacanaan seni rupa tinggi dan yang lainnya.

Namun demikian pameran ini sungguh menampilkan kekayaan imajinasi dan daya tafsir para seniman dalam menanggapi metoda kurasi pameran serta produk budaya berbasis teknologi yang terus berevolusi hingga saat ini. Akan tetapi ada satu hal yang saya kira belum tergarap atau belum diartikulasikan dalam pameran ini yaitu persoalan kondisi alam atau wacana global warming dimana kendaraan bermotor yang sangat massif mengisi ruang-ruang budaya kota saat ini turut menyumbangkan polusi dan racun bagi generasi baru. Seperti yang sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kota-kota besar saat ini terus dijejali kendaraan bermotor roda dua dan roda empat yang tiada henti memadati jalan-jalan atau pergerakan manusia urban – hingga menimbulkan kemacetan.

Sesuatu yang paradoks memang. Kendaraan bermotor difungsikan untuk mendukung mobilitas manusia yang membutuhkan percepatan guna membangun ekonomi masyarakat sementara yang terjadi saat ini, di Jakarta khususnya, kemacetan tidak tertanggulangi dengan baik. Kendaraan bermotor pada satu masa menghadirkan budaya kemacetan yang juga berdampak pada ekonomi mikro masyarakatnya.

Pameran ini memang tidak menyinggung persoalan global warming atau situasi kemacetan di Jakarta yang dikeluhkan oleh hampir seluruh masyarakat Jakarta dan kota besar lainnya. Pameran ini murni sebuah perayaan atau festival ekspresi seniman dan kolektor kendaraan klasik yang mengagungkan maha karya kendaraan bermotor – meskipun hal itu menjadi sesuatu yang paradoks.

Indonesia, di satu sisi, dituntut oleh kemajuan budayanya dengan menghadirkan produksi artistik dan estetik yang harus baru. Di sisi lain Indonesia pula yang masih banyak menyimpan artefak produk budaya modern yang di negara asalnya justru sudah menjadi benda museum. Meskipun demikian, di Indonesia pulalah manusia kreatif bisa hidup memanfaatkan artefak budaya modern itu sehingga diacungi jempol oleh masyarakat dunia karena artefak budaya itu masih bisa tunggang langgang di jalan-jalan dengan kemasan modifikasi yang tidak kalah inovatifnya – terlepas dari polusi karbon yang diproduksi mesin-mesin tua tersebut.

Pameran Indonesia Art Motoring ini, menurut para kurator, akan dirancang menjadi event dua tahunan yang akan digarap dengan lebih matang karena memang memilih tema garapan yang spesifik, yaitu esensi dari movement, mobile, transformation. ***
*) Independent Art Photographer, photo curator, Art journalist, stay in Bandung.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Rabu, 08 Oktober 2014 - 10:31
Mr Frank - frankwoodloan@gmail.com
Semoga Damai Sejahtera Dari Tuhan Be With You. Apakah Anda seorang pengusaha atau wanita? Apakah Anda dalam setiap tekanan keuangan atau apakah Anda perlu dana untuk memulai bisnis Anda sendiri? a) Personal Loan, Ekspansi Bisnis. b) Business Start-up dan Pendidikan. c) Konsolidasi Utang. D) Xmas Pinjaman Nama: .......................................... Negara: ......................................... Alamat: .......................................... Pernikahan Status: ....................................... Jenis Kelamin: .................... Umur ....................... Jumlah Pinjaman Dibutuhkan: ......................... Jangka waktu pinjaman: ................................... Personal Nomer HP: ....................... Bulanan Penghasilan: ..................................... Terima kasih Dan memberkati Tuhan email: frankwoodloan@gmail.com
Kamis, 07 Agustus 2014 - 23:01
Cary - ejnhgxwynhotmail.com
Thank you ever so for you post.Really looking forward to read more. Cary http://www.purevolume.com/FridaMoss/posts/1365431/Leg+Length+Asymmetry
Rabu, 23 Juli 2014 - 08:10
Alexandra - vbqduhdjzb@yahoo.co.uk
Is it alright to put a portion of this in my site if I post a reference point to this web-site? Alexandra http://ultimateshoelifts.bloghi.com/2013/07/09/flaws-of-leg-lengthening-surgery-treatment.html
Jum'at, 29 April 2011 - 17:32
lukmantoro - lukmantoro.jogja@gmail.com
Foto yang dahsyat untuk karya yang dahsyaaatttttt....
15-12-2014 s/d 10-01-2015
Pameran Tunggal Angga Yuniar Santosa: “Holes Arround Me”
di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta, Jl. Parangtritis Km 8.4 Tembi, Timbulharjo, Sewon. Bantul
13-12-2014
Seni Masa Kini: Catatan tentang “Kontemporer” oleh Mitha Budhyarto
di Langgeng Art Foundation jl. Suryodiningratan no 37 Yogyakarta
12-12-2014 s/d 12-12-2014
"Identity Parade", Pameran tunggal Maradita Sutantio
di ViaVia Café & Alternative Art Space, Jl. Prawirotaman 30 Yogyakarta
12-12-2014 s/d 13-12-2014
Gandari: Sebuah Opera Tari
di Teater Jakarta ,Taman Ismail Marzuki, Jl. Cikini Raya, Jakarta
11-12-2014
Anak Wayang (Belajar Memaknai Hidup)
di Gedung PKKH (Purna Budaya) UGM
07-12-2014
"CHEMISTRY" (Charity, Music and Art for Unity)
di Cafe Catherius, Jl. Sawojajar 38 Bogor (belakang Yogya Bogor Junction)
06-12-2014 s/d 07-12-2014
JATENG ARTFEST 2014: "KONSERVASI BUDAYA, MERAJUT KERAGAMAN"
di Wisma Perdamaian Tugu Muda Semarang
05-12-2014
"INFERNO", Visual Art Exhibition
di DANES ART VERANDA Jl. Hayam Wuruk No.159 Denpasar 80235 Bali Indonesia
05-12-2014 s/d 28-12-2014
“The 3rd Jakarta International Photo Summit 2014: City of Waves”
di Galeri Nasional Indonesia, Jl. Medan Merdeka Timur 14, Jakarta
25-11-2014 s/d 28-11-2014
Pameran Seni Rupa "Art/East/Ism"
di Gedung Sasana Krida, Kompleks Universitas Malang (UM)
read more »
Senin, 22-12-2014
Karya Kerja Memaksimalkan Panca Indera
oleh Oleh Palupi. S, M.A
Rabu, 03-12-2014
Upaya Menemu Kebaruan
oleh Kuss Indarto
Kamis, 06-11-2014
Street Art di Yogyakarta, sebagai Karya Kreatif dan Politis
oleh Oleh Michelle Mansfield dan Gregorius Ragil Wibawanto
Senin, 13-10-2014
Menguji Kembali(nya) Faizal
oleh Oleh Kuss Indarto
Rabu, 01-10-2014
Kota Butuh Festival Seni
oleh Muchammad Salafi Handoyo
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
read more »
22/10/2014 14:34 | alfa poetra | salam semangart para karya indonesia. infonya untuk event or apapun itu tentang lukisan,.
02/10/2014 23:26 | Taink Takhril | ISTIMEWA, ak akan selalu belajar bareng Indonesia art news
01/10/2014 15:25 | Fatonah Winiarum | saya ingin bergabung
05/08/2014 18:31 | jupri abdullah | tururt bergabung sebagai media komunikasi seni rupa
04/07/2014 03:04 | Rev. Ana cole | Apakah Anda perlu bantuan keuangan/pinjaman untuk melunasi tagihan Anda, mulai atau memperluas bisnis Anda? Roya pinjaman perusahaan telah terakreditasi oleh kreditur Dewan memberikan pinjaman pinjaman persentase untuk klien lokal dan internasional. Mohon jawaban jika tertarik. Terima kasih. Wahyu Ana cole Telp: + 447012955490 Email:roya_loans@rocketmail.com
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id