HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
CONTEMPORARY ARCHEOLOGY CHAPTER TWO A Group Exhibition by Young Sculptors
Waktu: 12-03-2011 s/d 27-03-2011
di SIGIarts Gallery, Jl. Mahakam 1 No. 11, Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan
CONTEMPORARY ARCHEOLOGY CHAPTER TWO
A Group Exhibition by Young Sculptors

March 12th - 27th, 2011
Opening exhibition & Discussion, March 12th starts at 1pm

Curated by Asmudjo Jono Irianto

The artists are:

Dita Gambiro
Faisal Reza
Hary Mahardika
Itsnataini Rahmadillah
Indrani Ashe
Leonardiansyah Allenda
Maria Indriasari
Mulyana
Ostheo Andre
Putriani Mulyadi
Rangga Aditya
Rini Maulina
Risa Astrini
Teguh Agus Priyatno

Contemporary Archeology Chapter Two

“…objects are culturally powerful because in practice they connect physical and mental manipulation.” (Ian Woodward)

Tak berbeda jauh dengan pameran Contemporary Archeology pertama, pameran Contemporary Archeology Chapter Two ini juga dominan menampilkan karya-karya objek. Hal itu tak lepas dari pengertian istilah archeology, yaitu disiplin yang berupaya memahami sejarah manusia dan masyarakat masa lalu melalui analisis terhadap benda-benda atau artefak buatan manusia. Archeology terutama terfokus pada masyarakat prasejarah, di mana tak tersedia catatan tertulis bagi para sejarawan untuk memahami masyarakat bersangkutan. Archeology secara etimologis memang berarti “sejarah kuno”, dari “masa lalu”. Karena itu istilah contemporary archeology terdengar paradoks, yaitu archeology yang merujuk pada masyarakat masa kini. Namun demikian istilah contemporary archeology merupakan istilah yang dipergunakan dalam disiplin archeology, dan mengacu pada riset archeology yang terfokus pada the most recent past,

“Contemporary Archeology is a field of archeological research that focuses on the most recent (20th and 21st century) past, and also increasingly explores the application of archeological thinking to the contemporary world….Unlike ethnoarchaelogy, contemporary archaeology studies the recent and contemporary past in its own right,…. Often informed by anthropological material culture studies, but characterized by putting traditional archaeological methods and practices to new uses, research in this field generally aims to make an archaeological contribution to broader social scientific studies of the contemporary world, focusing especially upon contributing methods of studying material things (objects, landscapes, buildings, material heritage, etc) to sociological, geographical and political studies of the modern world.”

Sebagaimana ditunjukkan oleh kutipan di atas bahwa contemporary archeology dekat dengan studi material culture yang menempatkan materialitas sebagai bagian penting dari kebudayaan. Yang dimaksud dengan kebudayaan material tak lain adalah artefak atau objek dalam kebudayaan manusia, “Studies of material culture have as their primary concern the mutual relations between people and objects.” Dalam konteks kebudayaan kontemporer, maka yang diteropong adalah benda-benda dalam keseharian manusia masa kini. Relasi dan persepsi manusia dengan objek ditentukan dan bergantung pada aspek-aspek sosial dan kultural. Persoalan identitas, sosial, ekonomi dan politik bisa “dibaca” melalui keberadaan objek di lingkungan manusia. Dalam hal ini objek-objek tersebut dilihat sebagai tanda yang dianalisis melalui berbagai disiplin keilmuan seperti semiotik, material culture, visual culture, cultural study dan lainnya. Semiotik misalnya, memanfaatkan objek sebagai penanda untuk sesuatu yang lain di luar dirinya,

“The essential principle of the semiotic approach to studying material culture is that objects are signs referring to something other than themselves. As Eco (1976) beguilingly put it—the sign is intrinsically a lie. That is, an object is held to be a ‘sign’ of something else, a proxy for other social meaning.”

Karya seni sebagai objek (-estetik) juga bisa ditempatkan sebagai konstruk visual untuk memahami masyarakat pembentuknya. Karya-karya seni rupa kontemporer memang dipercaya merefleksikan situasi dan kondisi kebudayaan kontemporer. Karena itu karya seni dianggap bernilai karena konten representasinya. Dengan kata lain karya seni berharga karena potensinya sebagai “penanda” bagi persoalan yang diperkarakan oleh seniman. Memang tak sekadar sebagai representasi atau penanda semata, karya seni juga diapresiasi kerena “kualitas seni” atau “kualitas estetik”nya. Namun apsek estetik atau bisa juga disebut “aspek keindahan” tak hanya tampak pada karya seni, tetapi juga pada barang-barang yang memiliki fungsi praktis. Saat ini, barang-barang buatan industri sangat sadar pada penampilannya—karena barang-barang tersebut secara persuasif harus membujuk masyarakat untuk membelinya. Sebaliknya dalam seni rupa modern dan kontemporer karya seni kerap menghindari keindahan, yang sering disebut oleh para seniman sebagai keindahan permukaan, atau keindahan yang melenakan—yang menurut mereka hanya pantas tampil pada wilayah low-art atau kebudayaan populer. Karena itu, Bordieu menyebut adanya dua wilayah estetik, yaitu popular aesthetic dan ‘pure’ aesthetic.

Sejarah seni rupa modern Barat sejak awal abad dua puluh, baik yang modernis formalis maupun anti-estetik (Marchel Duchamp) sesungguhnya curiga dengan “keindahan” tipe popular aesthetic. Karena itu para modernis formalis berupaya mencari esensi seni yang menunjukkan kualitas estetik yang ultima. Sebaliknya Duchamp dari awal bermain dalam arus anti-estetik, yang ironisnya juga harus dicatat sebagai kecenderungan estetik. Karena itu, sebagai parameter mutu, tampaknya istilah “kualitas seni” lebih masuk akal dari pada istilah “kualitas estetik”. Kendati apa yang disebut “kualitas seni” dalam era pluralisme ini berifat sangat kontekstual bergantung wilayah dan intensi seni sang seniman. Sebagai contoh karya-karya dengan kecenderungan unmonumental tampak sangat tidak indah, namun bukan berarti tak memiliki “kualitas seni”. Bisa jadi pengamat atau pemirsa yang menyukai “keindahan” akan menilai tampilan karya-karya unmonumental sebagai tidak memiliki kualitas seni. Penilaian tersebut tersebut bisa dikatakan keluar dari konteks konsep dan tujuan karya-karya unmonumental.

Karya seni juga kerap dipakai sebagai jastifikasi akan adanya cita rasa tingkat tinggi. Cita rasa atau taste memainkan peranan penting dalam menentukan identitas kelas sosial dalam masyarakat,
“Bordieu emphasises the role of aesthetic choice—one’s tastes—in reproducing social inequality. Bordieu usurped the (Kantian) idea that judgements of taste are based upon objective and absolute criteria by showing that particular social and class fractions tended to have distinctive taste preferences, which amounts to professing a liking for certain objects over others. Moreover, dominant social groups have the authority to define the parameters of cultural value (e.g. notions of what is ‘highbrow’ and ‘lowbrow’ culture) thus devaluing working class modes of judgement as ‘unaesthetic’.”

Dalam hal ini jelas bahwa karya seni dikontruksikan dalam posisi tinggi sebagai objek high art dalam wilayah high culture. Objek seni merupakan titik puncak cita rasa kaum borjuis, karenanya disebut sebagai wilayah pure aesthetic yang bahkan dalam perkembangannya pun mengakomodasi aspek dekonstruktif seperti anti-estetik. Hal ini bisa dilihat sebagai konsekuensi logis dari aspek disinterested dari disposisi estetik Kantian. Sudah sering dikatakan bahwa segala hal yang berkaitan dengan nilai dan posisi seni rupa modern dan kontemporer tak lepas dari konstruksi sosial, khususnya mengacu pada kebudayaan Barat. Kesadaran bahwa aspek-aspek kebudayaan merupakan hal yang dikonstruksikan telah mendorong banyak seniman membuat karya-karya yang kritis terhadap konstruk high art, kendati nanti pada gilirannya karya-karya tersebut juga menyimpan paradoksnya sendiri, menentang high art, namun tak bisa lepas dari pola produksi dan konsumsi high art.

Saat ini banyak dipercaya bahwa batas-batas high art dan low art telah melebur, “Distinction between art and the larger visual culture are dissolving and even disappearing.” Tampaknya memang terjadi saling silang antara wilayah seni tinggi dan seni rendah,
“The use of found object objects and readymade, along with the appropriation and remixing of images and styles, remains significant, frequently involving, borrowings from consumer and popular culture.”

Karya-karya dalam pameran Contemporary Archeology sedikit banyak menunjukkan apa yang diutarakan oleh kutipan di atas. Tidak dapat disangkal bahwa kebudayan kontemporer dilumasi oleh kapitalisme. Karena itu keberadaan segala macam barang atau objek dalam masyarakat masa kini tak lepas dari paradigma kapital. Istilah konsumtivisme, konsumerisme, komodifikasi dan komoditisasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keberadaan barang-barang yang “dibutuhkan” oleh manusia. Sering dikatakan masyarakat masa kini, khususnya di negara kaya dan maju mengkonsumsi komoditas apapun secara berlebihan. Hal ini kerap dikaitkan dengan menyusutnya ketersediaan sumber daya alam dan kemampuan bumi menyangga kebutuhan manusia. Sudah menjadi kenyataan global bahwa pemanasan bumi disebabkan oleh konsumsi, khususnya enerji, yang berlebihan.

Sepertinya tak mudah mengurangi kebutuhan manusia terhadap konsumsi benda-benda. Sebab teori ekonomi meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi hanya terjadi jika konsumsi terus tumbuh. Karena itu pemilik modal, untuk menggandakan kapitalnya, akan terus membujuk masyarakat meningkatkan konsumsinya. Bujukan dan rayuan melalui iklan terus dibangkitkan. Demikian pula gaya hidup dengan aneka kebutuhan disebarkan dan disiarkan melalui semua saluran media massa. Gaya hidup tentu saja merupakan konstruksi yang merefleksikan adanya lapisan sosial dalam masyarakat. Untuk itu produk branding sengaja diciptakan sebagai penanda perbedaan kelas. Dalam kaitan ini maka karya seni pun merupakan “produk” branding. Jika seni memang tak memiliki guna praktis, maka “branding” agaknya bisa dikatakan sebagai salah satu fungsi utamanya. Hal ini yang nantinya menjadi salah satu paradoks seni rupa kontemporer. Di satu sisi mengktritik konsumerisme, namun di sisi lain objek seni justru menjadi salah satu komoditas super branded.

Pameran Contemporary Archeology hendak menunjukkan bagaimana para seniman mempersoalkan keberadaan dan peranan benda-benda (objek) dalam kebudayaan kontemporer. Itu sebabnya kebanyakan karya-karya yang ditampilkan dalam pameran ini masuk dalam kategori “objek” atau lebih lengkapnya object sculpture. Kategori object sculpture bisa dikatakan tidak menjadi bagian dari rute perkembangan seni patung. Secara kronologis perkembangan seni patung modern Barat meliputi patung figuratif, abstrak formalis dan biomorfis, instalasi, seni lingkungan dan site specific. Jelas kiranya bahwa istilah objek sebagai kecenderungan seni rupa berbeda dengan pengertian objek dalam pengertian umum yang dapat merujuk pada segala macam benda. Tentu saja ada kaitan di antara keduanya, setidaknya karya-karya object sculpture memang mengacu dan merepresentasikan keberadaan objek atau benda-benda di sekitar manusia.

Walau kecenderungan objek merupakan turunan dari readymade ala Marcel Duchamp, namun hampir tidak ada perupa dalam pameran ini yang sepenuhnya menghadirkan readymade. Kalaupun ada readymade, maka hal itu dihadirkan melalui penggarapan yang cukup lanjut. Seperti susunan kancing menyerupai tengkorak karya Teguh Agus Priyanto atau karya Rini Maulina yang menyusun jarum suntik menjadi chandelier yang megah. Demikian pula karya Leonardiasyah kendati memanfaatkan furnitur, namun bisa diduga dibuat khusus untuk karyanya, bukan objek temuan. Susunan figurin menyerupai terracotta army tanpa kepala, jelas merupakan objek buatan sang seniman. Dita Gambiro menampilkan rambut sebagai material yang diolah dengan cermat menyerupai rok terusan yang digantung. Hal itu jelas membutuhkan proses pengerjaan yang cukup panjang dan lama.

Sebagian besar seniman dalam pameran ini, seperti Risa Astrini, Maria Indriasari, Mulyana, Rangga Aditya, Faizal Reza, Putriani Mulyadi, Itsnataini Rahmadilla, dan Ostheo Andre menunjukkan kemampuan mereka dalam mengeksekusi karya secara cermat dan cakap. Bisa dikatakan bahwa konsep dan cara bekerja para perupa dalam pameran ini tidak sejalan dengan gagasan readymade Marcel Duchamp. Hal itu kentara terlihat pada karya-karya yang ditampilkan. Agaknya para perupa pada pameran ini masih memandang penting “proses” pengerjaan karya. Hal itu tampaknya didasari oleh kesadaran bahwa karya seni sebagai wilayah representasi akan lebih persuasif dan mengudang pembacaan jika “identitas”nya sebagai karya seni cukup jelas. Menampilkan readymade/found object apa adanya memiliki resiko dibaca sebagai objek aslinya, bukan sebagai karya seni dengan potensi representasi. Selain itu juga beresiko dinilai sebagai karya yang dekonstruktif (anti estetik). Karya-karya yang menyerupai objek sehari-hari namun dibuat ulang (dengan material lain) akan menegaskan keberadaannya sebagai karya seni yang berjarak dan berbeda dengan objek aslinya. Ringkasnya, dalam konteks seni rupa kontemporer Indonesia “jejak” proses pengerjaan dianggap menguntungkan untuk menunjukkan identitas objek bersangkutan sebagai karya seni.

Kecenderungan object sculpture memang sedikit banyak dipengaruhi oleh perkembangan contemporary craft yang menjauhi aspek-aspek fungsi namun tetap mempertahankan kapasitas skill menangani material tertentu. Contemporary craft memang berorientasi pada seni dan kerap disebut craft-art. Namun Keistimewaan karya-karya objek tentu tak sekadar menunjukkan jejak proses pengerjaan/pembuatan dan skill menangani material tertentu, namun pada relasi antara idea dan realisasinya. Hal itu ditunjukkan dalam pameran ini, yaitu adanya sikap kritis terhadap kebudayaan benda (material culture) yang memicu gagasan seni dan kemampuan mengeksekusinya. Karya-karya para seniman dalam pameran ini karenanya tak hanya membangkitkan sensasi perseptual (kepuasan estetik) namun juga membangkitkan kadar konseptual dan intelektual pemirsanya. Itu yang menyebabkan karya-karya mereka bukan sekadar objek, tetapi objek seni.

Curated By Asmudjo J. Irianto
01-06-2014 s/d 30-06-2014
Pameran Lukisan Yaksa Agus: ‘ART Joke: Menunggu Godot’
di Tirana Art Space Jl Suryodiningratan 55, Yogyakarta
31-05-2014 s/d 08-06-2014
Bolo Kulon Painting Exhibition: "PASURUAN BERKISAH"
di Bromo Art Space Jl. Raya Nongkojajar, Dsn. Mesagi, Ds. Wonosari.. Kec. Tutur, Kab. Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
24-05-2014 s/d 01-06-2014
Thai-Indonesia Art Exchange Exhibition
di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta
23-05-2014 s/d 01-06-2014
Pameran Seni Rupa "Ngalor Ngetan" - Khoiri & Rb. Ali
di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270
23-05-2014 s/d 31-05-2014
Pameran Seniman Residensi: Makan Angin #1
di Rumah Seni Cemeti Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
22-05-2014 s/d 12-06-2014
Painting Exhibition: "Triwikromo" by Elka Shri Arya
di House of Sampoerna, Taman Sampoerna 6, Surabaya
20-05-2014
Diskusi Kerakyatan: EKONOMI KREATIF BERBASIS SENI & BUDAYA
di Ruang Interaktif Center Lantai I Fakultas Ilmu Sosial & Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
20-05-2014
Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-67
di Kompleks Kepatihan Danureja, Jl. Malioboro, Yogyakarta
20-05-2014
Refleksi Dwi Windu Reformasi
di Gedung PKKH (d/h Purna Budaya), Kompleks UGM, Bulaksumur Yogyakarta
17-05-2014 s/d 19-05-2014
Kirab Seni Budaya Kotagede
di Kawasan Kotagede, Yogyakarta
read more »
Senin, 14-07-2014
Bukan Tokoh Nusantara
oleh Abah Jajang Kawentar
Senin, 23-06-2014
Dunia
oleh F. Sigit Santoso
Kamis, 29-05-2014
Menelusuri Jalur Ngalor Ngetan
oleh Kuss indarto
Selasa, 20-05-2014
Jas, Maskulinitas, dan Fragmen-fragmen Modernitas
oleh Hendra Himawan
Sabtu, 10-05-2014
Pengubahan Haluan: Masa Lalu yang Oposisional dan Masa Depan yang Tak Pasti dari Biennale Kontemporer
oleh Rafal Niemojewski
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
read more »
04/07/2014 03:04 | Rev. Ana cole | Apakah Anda perlu bantuan keuangan/pinjaman untuk melunasi tagihan Anda, mulai atau memperluas bisnis Anda? Roya pinjaman perusahaan telah terakreditasi oleh kreditur Dewan memberikan pinjaman pinjaman persentase untuk klien lokal dan internasional. Mohon jawaban jika tertarik. Terima kasih. Wahyu Ana cole Telp: + 447012955490 Email:roya_loans@rocketmail.com
23/06/2014 12:22 | Danielbudi | Salam kenal saya pelukis asal Solo-Jawatengah mohon infonya jika ada pengumuman atau berita perihal kompetisi lukis yang terbaru sehingga saya tidak ketinggalan beritanya terimakasih.
17/06/2014 19:53 | WP | Saya merasa website ini juga berkait dengan aspek keindonesiaan: www.wayangpuki.com. Saya dan kawan2 tidak habis diskusi tentang intinya. Mungkin menarik untuk Anda? Salam.
26/04/2014 01:21 | Luki Johnson | salam kenal dari pulau Borneo
20/04/2014 09:31 | Syakieb Sungkar | terima kasih
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id