HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta" Seri-32
Waktu: 11-05-2010
di Bangsal kepatihan, Kepatihan Danurejan, Yogyakarta, Indonesia
uesday, May 11, 2010
6:30pm - 10:00pm

Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-32: REVITALISASI & PENGEMBANGAN KETOPRAK DI YOGYAKARTA

Narasumber:
1. Widayat, BA, Aktor Ketoprak
2. Ignatius Wahono, Aktor Ketoprak
3. Marsidah, BSc, Aktris Ketoprak
4. Marjiyo, Aktor Ketoprak
5. RM Altiyanto, Generasi Muda Pecinta & Penggiat Ketoprak
6. Drs. Susilo Nugroho (Den Baguse Ngarsa), Aktor Serba Bisa
7. Nano Asmorodono, Sutradara/Penulis Skenario Komunitas Conthong
8. Drs. Gatot Mujiyana, Ketua Forum Komunikasi Ketoprak Bantul
9. Djarwo Suharto, Ketua Komunitas Ketoprak Sleman
10. Dra. Trisno Tri Susilowati, MSn, Jurusan Teater ISI Yogyakarta
11. Dr. Lono Lastoro Simatupang, Antropolog FIB-UGM
12. Ir. H. Yuwono Sri Suwito, MM, Ketua Dewan Kebudayaan DIY
13. Drs. Djoko Dwiyanto, MHum, Kepala Dinas Kebudayaan DIY
14. Drs. Bambang Wisnu Handoyo, Penggagas Pergelaran Ketoprak Tobong
15. Dr. Supriyatno, MBA, Dirut Bank BPD DIY, Penggagas Launching Produk Jasa Perbankan “Angkringan” melalui media ketoprak
16. Djangkung Sudjarwadi, SH, LLM, Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak DIY, yang sedang merencanakan gelar seni ketoprak “dalam rangka”
17. Drs. H. Herry Zudianto, Akt, MM, Walikota Yogyakarta, Pemrakarsa “Ketoprak dalam Rangka”.


***

KETIKA Ngarsa Dalem Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan sambutan saat pemberian penghargaan kepada SH Mintardja sebagai ‘Pujangga Lakon’ pada 1 Juni 2001, bertepatan dengan Hari Lahirnja Pantja Sila, beliau mengatakan:

“Setiap cabang seni selalu melahirkan generasi baru yang berbeda sama sekali dengan genre sebelumnya untuk menjawab tantangan jaman yang memang juga berubah. Lahirnya genre dalam cabang seni apa pun, selalu ada saling keterkaitan antarfigur, seperti dalam seni ketoprak antara SH Mintardja dengan Sumardjono dan Handung Kussudiarsana”.


“Pujangga Lakon”
Ngarsa Dalem menambahkan, bahwa pada karya seni angkatan baru, ditunjukkan adanya pembaruan wawasan estetika, yang pengucapannya bisa sejenis atau berbeda dengan angkatan sebelumnya. Pembaruan, biasanya dilahirkan melalui benturan konsep berpikir. Dalam jagat sastra, misalnya, Pujangga Baru adalah generasi sastrawan yang tidak setuju dengan hal-hal yang bersifat tradisional kolot. Novel-novel Salah Asuhan dan Siti Noerbaja, sebagai contoh, adalah gambaran benturan antara pola pikir modern-Barat dengan adat kebiasaan lokal-Timur.

Dibanding karya sastra bentuk puisi, cerpen dan novel, penulisan naskah ketoprak memang jauh tertinggal, dan bahkan nyaris langka. Justru karena kelangkaannya itu, menempatkan SH Mintardja sebagai pemancang tonggak Ketoprak Gaya Baru, mengacu pada seni teater modern yang berbasis skenario tekstual –berbeda dengan ketoprak angkatan Tjokrodjijo dan Kadarijah yang mengandalkan kepiawaian improvisasi. Bahkan dia adalah juga bidan kelahiran Ketoprak Sinetron yang digemari masyarakat sampai ke luar Yogya, karena kuatnya skenario yang menyajikan cerita dramatik, penuh misteri dan tragedi, yang juga sarat konflik. Saat menerima penghargaan itu, ditandai dengan pentas gabungan dengan mengambil lakon kontektual: Krisis Mataram.

Konfirmasi Nilai
Umar Kayam (1979) mengatakan, pada awalnya tujuan masyarakat menonton pertunjukan seni tradisional adalah untuk mengukuhkan dirinya sebagai bagian dari sebuah komunitas. Selain itu, mereka pun melakukan konfirmasi nilai atas cerita dan konsep yang telah mereka kenal, hafal dan lihat berkali-kali.
Apa relevansi pandangan Umar Kayam tersebut dengan masyarakat kita yang semakin cair dan tidak solid lagi seperti saat ini? Indra Tranggono, Budayawan dan Kritikus Seni Pertunjukan, melihat ada pergeseran tujuan (KR, 8/5/2010). Pertama, saat ini orang menyaksikan wayang atau ketoprak lebih bertujuan untuk mengukuhkan diri sebagai bagian dari dunia kepentingan yang riil dan pragmatis, misalnya yang terkait dengan ekonomi atau politik (kekuasaan). Penonton menunjukkan diri mereka adalah bagian dari rekanan bisnis, rekanan politik dan rekanan-rekanan lain yang lebih ”fungsional” daripada ”ideologis” dan ideal. Dengan ikut dalam upacara sosial itu, mereka menjadi lebih gampang diingat dan direkrut oleh komunitasnya, sehingga mudah pula mendapatkan akses. Tujuan sampingan lainnya: aktualisasi diri yang terkait dengan pencitraan diri. Untuk saat ini, dalam dinamika masyarakat yang pragmatis, kita sulit mengharapkan upaya menggalang solidaritas sosial.

Kedua, masyarakat penonton yang cair tadi, merasa tidak perlu melakukan konfirmasi nilai atas cerita/lakon dan konsep, karena selain tidak akrab mereka pun menganggap hal-hal itu kurang menjawab kebutuhan praktis mereka. Maka, tujuan pun bergeser ke pencarian hiburan yang dapat mengendorkan syaraf. Mereka merasa fresh, dan esoknya kembali bekerja dalam rutinitasnya. Ketoprak atau seni pertunjukan apa pun, dipahami dan disikapi tidak lebih dari katup pelepas; bukan lagi sebagai media untuk menyerap nilai-nilai alternatif dan melakukan pencucian jiwa (katarsis).

Pertanyaannya adalah: apakah para seniman ketoprak menyerah dalam arus kompromi yang memanjakan selera publik itu? Sah-sah saja membuat ketoprak hiburan. Publik memang harus diapresiasi bahkan dimuliakan dengan berbagai tawaran yang menimbulkan kegembiraan kolektif. Namun, menyerah total pada ”kekuasaan” publik yang lebih menyukai hiburan daripada renungan gagasan dan estetika, pada akhirnya justru ”mendangkalkan” cita-rasa dan pikiran publik.

Selain itu, jika tidak terkontrol maka upaya mengkompromikan ketoprak pada hal-hal yang pragmatis belaka, akan ”mencederai” bahkan ”membunuh” ketoprak. Ketoprak kehilangan esensinya serbagai reflektor nilai kehidupan, sebagai agen perubahan mentalitas masyarakat dan sebagai wahana kultural untuk membangun peradaban. Ketoprak hanya akan tersisa menjadi artefaknya. Ruhnya meloncat, menguap entah ke mana.

“Pembaruan” Ketoprak
Ketoprak adalah bentuk kesenian rakyat sekaligus wahana komunikasi sosial-budaya yang mengandung ide-ide sosial, bahasa dan idiom-idiom estetik. Dibanding wayang orang yang memiliki konvensi ketat dan canggih, ketoprak lebih longgar untuk di-creat atau pun ditafsir menjadi bentuk-bentuk “baru” yang diberi cap sebagai “ketoprak garapan”.

Ketoprak garapan, merupakan kreativitas yang lahir dari proses negosiasi atas konvensi (pakem) ketoprak, dengan memasukkan unsur-unsur lain (“baru”), baik yang terkait dengan bentuk pemanggungan, dramaturgi, tata artistik, tata musik, bahasa maupun idiom-idiom lainnya yang lebih dekat atau bersumber dari kultur modern, termasuk teater modern. Unsur-unsur itu antara lain: skenario, penyutradaraan, tata artistik, tafsir lakon, pola permainan, tafsir peran, konsep musik, bahasa dan pesan sosial.

Menurut Indra Tranggono, Ketoprak Sapta Mandala merupakan kelompok yang gigih melakukan “pembaruan” melalui ketoprak garapan. Lihatlah pementasan-pementasan mereka di era 1980-an seperti Menak Jinggo, di mana tokoh utama Menak Jinggo dimainkan dengan gaya feminin (Didik Nini Thowok). Juga ketoprak di televisi Sapta Mandala berjudul Setan di mana properti sepeda digunakan.
Ledakan ketoprak garapan yang menggegerkan adalah Ketoprak Plesetan Sapta Mandala pada tahun 1990-an, yang mengangkat lakon-lakon seperti Sampek Ingtay, Suminten Ora Edan, Cleopratra dll. Dalam ketoprak ini, karakter tokoh dijungkir-balikkan, misalnya tokoh rol tidak harus tampan dan mriyayeni melainkan juga bisa dimainkan pemeran berwajah “tanggung” yang pintar melucu. Meskipun sarat kelucuan, Ketoprak Plesetan tetap menjaga plot, karakter tokoh, jalinan cerita dan unsur-unsur dramaturgi lainnya. Munculnya Ketoprak Plesetan mengilhami munculnya ketoprak-ketoprak lainnya yang “mbedol” dari konvensi. Ada yang tetap hadir sebagai ketoprak, namun juga ada yang sekadar “parade lawak” atau banyolan yang memanfaatkan seni ketoprak.

Dengan berbagai perubahan yang dapat dipertanggungjawabkan secara estetik dan kultural, ketoprak garapan ternyata mampu mendekatkan diri kepada masyarakat penonton. Kisah sukses Ketoprak Plesetan yang digarap Bondan Nusantara bersama Sapta Mandala menjadi contohnya. Ini menunjukkan bahwa ketoprak membutuhkan inovasi estetik maupun menajerial agar diminati penonton, khususnya dari kalangan muda. Inovasi estetik terkait dengan seluruh eksplorasi estetik dan penggarapan pemanggungan yang mampu memukau penonton. Sedangkan manajemen terkait dengan produksi ketoprak yang mengandung unsur penting: perencanaan, pelaksanaan (termasuk membangun pasar) dan evaluasi.

Profesionalisme Ketoprak
Saat ini, baik ketoprak konvensional maupun ketoprak non-konvensional, dituntut menjadi ketoprak profesional agar tetap eksis di tengah publik. Profesional, bukan sebatas arti “bayaran”, melainkan lebih bermakna sebagai “kemampuan yang dapat diandalkan dan teruji secara sosial yang lahir dari proses belajar dan berlatih”. Membangun ketoprak menjadi kesenian yang profesional berarti menjadikan ketoprak sebagai sajian pertunjukan yang berkualitas karena didukung sumberdaya manusia yang memiliki kemampuan yang dapat diandalkan, baik secara estetik maupun manajerial.

Dalam hal ini, kita bisa bercermin dan belajar kepada Ki Siswondo HS (Ketoprak Siswo Budoyo) atau Teguh (Srimulat). Kedua tokoh ini, mampu menghadirkan kesenian (ketoprak dan lawak) sebagai “oase” yang diminati masyarakat pada zamannya. Kita percaya bahwa sumberdaya ketoprak mampu meningkatkan kemampuannya melalui proses belajar dan berlatih yang tidak pernah selesai, terkait dengan pemahaman bahwa kesenian sesungguhnya merupakan tafsir dan refleksi nilai kehidupan.

Kita juga tahu bahwa para pelaku ketoprak sangat memahami bahwa kesenian, termasuk ketoprak, membutuhkan kemampuan intelektual untuk menafsir dan membedah berbagai fenomena kehidupan. Untuk itu, bahwa para pelaku ketoprak harus selalu mengasah kemampuan intelektualnya, otomatis menjadi keniscayaan.

Perlu Maesenas
Di luar itu, dunia ketoprak sangat membutuhkan dukungan dari kaum profesional, baik dalam soal manajemen, pemasaran (membangun pasar yang “cerdas”), media massa, penulisan kritik dan lainnya. Yang tidak kalah penting adalah: maecenas, yang bisa datang dari pemerintah maupun usahawan.

Dalam kaitan itu, kita bisa memetik ulasan Dr. Lono Lastoro Simatupang, seorang Antropolog FIB-UGM, terhadap pergelaran ketoprak Bank BPD DIY dengan lakon Pambukaning Warana, garapan sutradara Nano Asmorodono, yang menurutnya dapat dipandang sebagai sebentuk tanggungjawab perusahaan terhadap lingkungan sosial dan kultural tempat mereka berada (Corporate Social-Cultural Responsibility) (KR, 30/4/2010).
BPD memilih ketoprak di antara berbagai media peluncuran produk baru yang lazim digunakan, dan Direksi beserta Stafnya turut serta sebagai pemain. Tentu, kita ikut senang atas langkah yang diambil Bank BPD DIY untuk ikut memberi nafas hidup bagi ketoprak. Namun bentuk peran pihak pemodal --sebagai salah satu pemangku kepentingan (stakeholders) kesenian-- sebenarnya tidak harus melulu seperti yang dilakukan Bank BPD DIY malam itu. Tidak kurang terhormat pula bila para maesenas dari pihak korporasi atau institusi pemerintah, menunjukkan kepedulian dengan cara mensponsori pergelaran seni yang tidak berada ‘dalam rangka’ apa pun. Artinya, langkah yang sudah diambil Bank BPD DIY untuk mewujudkan kepedulian terhadap kesenian perlu diteruskan dan ditingkatkan. Kesenian ‘dalam rangka’ tidak harus selalu mengorbankan unsur citarasa.

Mengutip kritikan Indra Tranggono, renungan ini semestinya juga berlaku bagi para maesenas yang lain. Jangan sampai kepentingan yang besar di luar ketoprak (bisnis dan politik) mengorbankan kebudayaan ketoprak. Jika persoalan banalisasi ketoprak ini tidak diantisipasi, maka tujuan maesenas yang ingin mengangkat ketoprak justru akan menjadi bumerang yang melukai ketoprak itu sendiri. Generasi muda yang tidak mengenal ketoprak akan menganggap bahwa ketoprak kitsch –sekedar hiburan-- yang minim sentuhan estetik adalah satu-satunya ketoprak sebagai warisan budaya.

Ketoprak tidak cukup hanya diangkat melalui langkah-langkah manajerial dan bantuan finansial semata, tapi juga perlu dimuliakan sesuai dengan maqom (posisi) kulturalnya, tempat logika, estetika, etika dan saintika diutamakan. Dengan cara itu, maka potensi ketoprak sebagai media transformasi sosial dan kultural bisa teraktualisasi secara optimal.

Awal Renaisans
Menurut Drs. Suharyoso Sk, MSn, Dosen Teater FSP-ISI Yogyakarta, yang juga sutradara Teater Gadjah Mada, dalam paradigma estetika tradisi, ruh ketoprak tidak dapat dipisahkan dengan konsep; wicara/dialog, wiraga/akting dan wirama/irama bermain (KR, 9/5/2010). Ketiganya disangga dan dibimbing oleh wirasa/rasa, rah/darah, rih/bujuk rayu, ruh/jiwa, reh/kuasa, dan ruh/suksma. Meski berbentuk kitsch, ketoprak tetap membutuhkan sejumlah kualitas artistik yang terukur. Menurut Ki Siswondo HS, kualitas yang dimaksud antara lain: greget/dinamika, nges/kesan impresi, sengsem/daya pikat, gumyak/meriah atraktif dan gecul/komedi lucu. Pertanyaannya kini, bagaimanakah kriteria ini apabila digunakan untuk mengevaluasi pementasan Ketoprak Pambukaning Warana? Unsur gumyak dan gecul cukup terpenuhi, namun greget, nges dan sengsem kurang tergarap oleh longgarnya plot.

Namun di luar kelemahan itu, kita pantas mengapresiasi sutradara Komunitas Conthong yang telah beberapa kali menerapkan strategi jitunya dalam rangka menyiasati lesunya pentas ketoprak dan menyusutnya animo penonton. Untuk itu maka direkrutlah pemain profesional, pelawak kondang dan para pejabat daerah dalam satu panggung Ketoprak Humor atau Ketoprak Hiburan. Di sini terlihat semangat kegotong-royongan antara pemain dan maesenas dalam memecahkan masalah finansial manajemen produksi.

Yang menarik dan perlu perenungan adalah apa yang disampaikan oleh Suharyoso, sebagai pembuka kata kritiknya. Ia memetik sambutan Direktur Utama Bank BPD DIY, Dr. Supriyatno, MBA: “…mudah-mudahan pergelaran Ketoprak Pambukaning Warana ini dapat menjadi “pembuka tabir” menuju seni ketoprak yang lebih bermutu, dengan mengadaptasi kemajuan seni dan teknologi teaterikal, tanpa kehilangan ruhnya sebagai tontonan dan tuntunan bagi generasi muda, sekaligus media transformasi sosial-budaya masyarakat...dan dari sinilah kita memulai babak baru yang kita sebut sebagai momentum kebangkitan kembali atau renaisans Seni Ketoprak Ngayogyakarta”. Semoga!
Dialog Budaya & Gelar Seni
Dalam kerangka pikir seperti itu, Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-32 ini akan mengangkat tema “Revitalisasi & Pengembangan Ketoprak di Yogyakarta”, yang akan digelar melalui forum Focus Group Discussion (FGD) dengan para narasumber dari komunitas ketoprak, yaitu:

1. Widayat, BA, Aktor Ketoprak
2. Ignatius Wahono, Aktor Ketoprak
3. Marsidah, BSc, Aktris Ketoprak
4. Marjiyo, Aktor Ketoprak
5. RM Altiyanto, Generasi Muda Pecinta & Penggiat Ketoprak
6. Drs. Susilo Nugroho (Den Baguse Ngarsa), Aktor Serba Bisa
7. Nano Asmorodono, Sutradara/Penulis Skenario Komunitas Conthong
8. Drs. Gatot Mujiyana, Ketua Forum Komunikasi Ketoprak Bantul
9. Djarwo Suharto, Ketua Komunitas Ketoprak Sleman
10. Dra. Trisno Tri Susilowati, MSn, Jurusan Teater ISI Yogyakarta
11. Dr. Lono Lastoro Simatupang, Antropolog FIB-UGM
12. Ir. H. Yuwono Sri Suwito, MM, Ketua Dewan Kebudayaan DIY
13. Drs. Djoko Dwiyanto, MHum, Kepala Dinas Kebudayaan DIY
14. Drs. Bambang Wisnu Handoyo, Penggagas Pergelaran Ketoprak Tobong
15. Dr. Supriyatno, MBA, Dirut Bank BPD DIY, Penggagas Launching Produk Jasa Perbankan “Angkringan” melalui media ketoprak
16. Djangkung Sudjarwadi, SH, LLM, Kepala Kantor Wilayah Ditjen Pajak DIY, yang sedang merencanakan gelar seni ketoprak “dalam rangka”
17. Drs. H. Herry Zudianto, Akt, MM, Walikota Yogyakarta, Pemrakarsa “Ketoprak dalam Rangka”.

Dialog FGD dipandu Indra Tranggono bersama Drs. Suharyoso, Sk, MSn, didampingi host tetap Hari Dendi. Tujuan FGD ini adalah membentuk Tim Kecil yang bertugas memberikan rekomendasi Revitalisasi & Pengembangan Ketoprak di Yogyakarta ke depan, baik Ketoprak Konvensional maupun Ketoprak Non-Konvensional untuk dijadikan dasar kebijakan pengembangan dan penganggaran oleh Dinas Kebudayaan DIY. Juga akan diberikan penghargaan kepada beberapa pengabdi dan pengembang seni ketoprak oleh Bank BPD DIY.

Gelar Seni berupa tayangan rekaman audiovisual dokumen ketoprak TVRI dan rekaman audio RRI diselingi peragaan adegan ketoprak oleh FKK Bantul episode lakon “Surya Wanci Bangun” tentang suksesi berdarah dari Pajang ke Mataram yang ditampilkan oleh para pemain muda, digelar di Bangsal Kepatihan, Slasa Wage malam, 11 Mei 2010, jam 18.30-22.00 didahului dengan hidangan angkringan.


Yogyakarta, 6 Mei 2010

Komunitas Budaya
“YogyaSemesta”,



Hari Dendi
Pengasuh
06-03-2015 s/d 14-03-2015
"Soliter vs Solider", Pameran Tunggal karya-karya alm. Hendro Suseno
di Bentara Budaya Yogyakarta, jl. Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta
14-02-2015 s/d 21-02-2015
Pameran seni rupa: "GANDHENG-RENTENG #4 - SOR MEJO NOK ULANE"
di Gedung Yon Zipur Jl. Balai Kota Pasuruan, Jawa Timur
12-02-2015 s/d 21-02-2015
“TIROLESIA” Art Exhibition: PHOTO | FILM | STENCIL ART
di Indonesia Contemporary Art Network (iCAN), Jl. Suryodiningratan 39, Kota Yogyakarta 55141
11-02-2015 s/d 12-02-2015
Pentas TEATER GANDRIK: TANGIS
di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedani 1, Gondomanan, Yogyakarta
10-02-2015 s/d 23-02-2015
Pameran "Titik Temu 6 GENETIKA"
di Nadi Gallery, Jl. Kembang Indah III Blok G3 no. 4-5, Puri Indah, Jakarta Barat
10-02-2015
Video Performance Installation: "Nusantara Manuscript"
di Candi Sukuh, Ngargoyoso, Jawa Tengah, Indonesia 57793
05-02-2015 s/d 08-03-2015
Pameran "Aku Diponegoro, Sang Pangeran dalam Ingatan Bangsa: Dari Raden Saleh Hingga Kini"
di Galeri Nasional Indonesia (GNI), Jl. Medan Merdeka Timur no. 14, Jakarta Pusat
04-02-2015
S[old] Out, Exhibition of Students Final Project
di Art:1 Jalan Rajawali Selatan Raya No. 3, Jakarta Pusat 10720, Telp. 021-64700168
04-02-2015
Pesta Puisi 3 Kota
di Ascos - Asmara Art & Coffee Shop Jl. Tirtodipuran 22, Yogyakarta 55143
31-01-2015 s/d 21-02-2015
The Box of Scopophilia
di s.14 Jl. Sosiologi 14 Komp. Perum UNPAD Cigadung-Bandung
read more »
Jum'at, 13-02-2015
Sor Mejo Nok Ulane
oleh Fadjar Sutardi
Senin, 02-02-2015
Parikan Suroboyoan, Harapanku, dan Aktivitasku
oleh Wahyu Nugroho
Selasa, 13-01-2015
Hidup Sebagai Cahaya
oleh Arahmaiani
Senin, 22-12-2014
Karya Kerja Memaksimalkan Panca Indera
oleh Oleh Palupi. S, M.A
Rabu, 03-12-2014
Upaya Menemu Kebaruan
oleh Kuss Indarto
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
read more »
10/02/2015 23:32 | icha | saya mw jual brang py kkek msa penjajahan di ambon.... samurai bs ditekuk pjang bget... ada belati kecil beserta bendera jepang msa lampau... ada tulisan di sebuah uukuran kertas seperti kulit binatang tpi tulisan jepang... mhon bntuan nya mau jual saja butuh ug urgent
04/02/2015 09:50 | Anwar Sanusi | Artikel sangat membantu dalam membuka wawasan tentang Seni...
02/02/2015 22:26 | Redaksi Indonesia Art News | Sdr. DheaMS, Anda bisa menyimak dari deadline atau keterangan waktu lainnya, apakah lomba-lomba tersebut sudah berakhir atau masih berlaku. Silakan cek. Terima kasih.
02/02/2015 21:00 | DheaMS | apa lomba ini masih berlaku? jika masih berlakunya sampai kapan? mohon jawabannya
27/01/2015 21:32 | Desita Anggina | SemangART
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id