HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Selasa, 28 September 2010 - 09:43
Facebook dan Kuasa Fasisme: Merenung dalam Kuasa Hidup yang Palsu
oleh Deni S. Jusmani
Tampilan wall dari seorang facebooker, Ganjar Pranowo, anggota DPR RI fraksi PDIP. (foto: kuss)
HAL yang paling sering saya lakukan setiap hari adalah berselancar di internet, browsing, dan paling lama adalah ber-facebook dengan relasi, teman-teman, dan juga komunitas facebooker. Jika sudah ber-facebook ini, maka bisa berjam-jam lamanya, melakukan interaksi melalui dunia maya. Mungkin, hal yang sama ini juga dilakukan oleh orang-orang di seluruh belahan dunia. Sebetulnya, apa yang membuat saya begitu tertarik dan asyik dengan facebook? Ada apa dengan facebook, atau jaringan sosial semacamnya, twitter, friendster, atau sekadar blogging saja, sehingga rela menghabiskan waktu dan biaya untuk melakukannya? Kenapa jaring-jaring sosial semacam facebook ini mulai merambah pada tatanan kebutuhan pokok untuk melakukan pergaulan sosial dan bahkan mengalahkan kontak fisik secara langsung?

Dasawarsa terakhir ini Indonesia “digemparkan” oleh kehadiran facebook dalam ranah pergaulan sosial, mengalahkan twitter dan friendster, bahkan menjadi bagian penting dalam perdebatan sosial, politik, dan budaya di Indonesia. Munculnya grup semacam “Surya Paloh for the Next Indonesia President”, “Dukung Pembubaran Pansus Century”, “Koin untuk Prita”, “Dukung Luna Maya”, dan beragam jenis grup lainnya, memiliki peran penting terhadap kasus tertentu, serta memiliki dampak yang cukup menghebohkan. Belum lagi pada sarana bisnis, jual beli, usaha jasa, lahan cari jodoh, informasi orang hilang, dan bermunculan badan sosial dengan tujuan-tujuan tertentu. Bahkan facebook ini pernah difatwakan haram oleh para ulama, yang kemudian muncul Grup “Tolak Rencana Fatwa Haram Facebook!!!” Ada hal apa, sehingga si facebook ini begitu diterima dan telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial ini? Bahkan, sampai-sampai oleh beberapa perusahaan, universitas, dan lembaga pemerintahan, situs facebook ini sengaja diblokir dari sistemnya, untuk menghindari penggunaan situs ini, sekaligus dengan tujuan dan alasan-alasan yang berbeda-beda. Pelarangan ini merupakan bukti nyata, bahwa facebook telah menjadi bagian penting dan dianggap mengganggu stabilitas organisasi.

Pesatnya pertumbuhan facebook ini, didorong oleh dukungan tersedianya sarana-sarana murah meriah untuk ber-facebook, bahkan facebooker ini dijadikan alat dan segmen pasar yang menarik serta berpotensi besar meraup keuntungan. Lihat saja, vendor-vendor handphone, baik lokal maupun internasional, berlomba-lomba menghadirkan fitur facebook sebagai bundel resmi dan daya tarik penjualan. Kapitalisme ala facebook ini juga yang dijadikan sebagai sarana pencari dukungan, berbisnis, bertukar-pikiran, atau sekadar berinteraksi saja. Masing-masing punya tujuan dan misi dalam penggunakan facebook ini.

Rentang tahun 2004-2010, adalah waktu yang sangat singkat, dari kemunculan facebook, dan dirajainya dunia pertemanan maya. Adalah Mark Zuckerberg yang membuat pertama kali situs ini, pada tahun 2004, yang dimaksudkan sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Harvard. Hanya butuh waktu dua minggu, hampir seluruh mahasiswa Universitas Harvard telah memiliki akun facebook, dan dalam waktu empat bulan, 30 kampus di Amerika telah terdaftar dalam jaringan ini. Facebook ini mulai menarik hati beberapa penyelia jasa, termasuk friendster, dan beberapa investor. Pada September 2005, facebook ini terbuka untuk umum. Pada Januari 2010, pengguna facebook pada tingkat dunia mencapai 350 juta orang, dari angka tersebut, pengguna facebook di Indonesia menempati urutan kedua, diikuti oleh Filipina.

Kenapa Orang Berfacebook?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita kembalikan pada tujuan dibuatnya facebook pertama kali, kurang lebih bertujuan untuk membuat komunitas online sehingga orang-orang bisa saling mengenal dan menghubungkan orang-orang yang memiliki minat dan hobi yang sama. Dari blogging yang saya lakukan, pada beberapa facebooker di Indonesia, membuat akun di facebook bertujuan untuk promosi dan informasi (blog, bisnis, jasa), tren dan gaya hidup (networking atau bersosialisasi), serta pembuat sensasi dan kontroversi.

Kelompok pertama, membuat akun di facebook bertujuan untuk promosi dan informasi tentang sesuatu. Promosi blog, untuk berbisnis, ataupun usaha dalam bidang jasa. Tidak sedikit, nama akun atau nama grup yang digunakan seperti: “Grosir Baju Anak”, “Bisnis Online”, “Pusat Bisnis Cerdas”, “Masyarakat Anti Sinetron”, “Salma Batik dan Tenun”, “Partai Penulis Puisi”, www.infokorupsi.com, “Yasika FM Jogja”, atau “Mateshop Safitri”, yang secara langsung menunjuk tujuan mereka membuat nama, baik akun personal atau nama grup yang dimaksudkan. Facebook digunakan untuk mempermudah informasi jasa, bisnis, atau pandangan tentang faham ideologis tertentu. Tujuannya adalah mencari “teman” atau klien sebanyak-banyaknya, sehingga apa yang melatarbelakangi, tersampaikan dengan baik. Biasanya, status yang mereka buat tidak lebih dari informasi jenis dan harga produk, berita kegiatan, dan produk-produk terbaru yang dikeluarkan.

Kelompok pecinta tren dan gaya hidup, membuat akun facebook dengan tujuan untuk eksis, dikenal, bahkan cenderung ikut-ikutan, dalam komunitas mereka. Nama-nama akun yang digunakan langsung menunjuk nama personal, nama kelompok, atau nama personal yang diimbuhi dengan nama komunitas tertentu, terkadang juga nama unik, nama kota, atau nama aslinya. Sebut saja, “Oshin Cecabe”, “Shyrenna Aprietha”, “Septina Kusumawati”, “Emprit Kecil Imutimut”, Aantz Kurus Tak Takut”, “Linda かわいい 예쁜”, “Icha Chadut Jouliecha”, “Regina Temanggung”, “Uzer Palembang”, dan “Antok Naughty'boyz-guevara”. Kelompok semacam ini memiliki kebiasaan update status yang berlebihan (facebook addict) dan informasi statusnya yang unik, lucu, menggemaskan, dan terlihat kurang penting, semacam “kopi jahe”, “Mulud pnuh sariawan.. Bgg mw mam apa???”, “Witing tresno jalaran saka restu ne wong tuo :-) hohoho.”, “Bwt mnuman susu ah,, biar tbuh jd shat.”, atau semacam “Aku punya boneka monyet yg hedrocepalus luh. .hahaha”. Awalnya mereka membuat akun bertujuan untuk sosialisasi sesama teman dan satu komunitas saja, sehingga bahasa-bahasa status mereka, akan terlihat dan terkesan kurang penting bagi orang-orang yang ada dalam satu jaringan pertemanan, dan ikut membaca status tersebut.

Kelompok pembuat sensasi adalah yang menghasilkan kontroversial atas status yang dibuatnya. Pembuat sensasi ini bisa personal ataupun kelompok, tujuannya tentu menghasilkan hal sensasional, baik sengaja atau tidak. Lihat saja statusnya, “aku mau making love dengan semua lelaki hanya dengan satu syarat, syaratnya bukan uang atau harta... kirim pesan ke aku klo pengen tau syaratnya...”, atau “polri gak butuh masyarakat... tapi masyarakat yg butuh polri.... maju terus kepolisian indonesia, telan hidup2 cicak kecil.....”, atau status twitternya Mario Teguh dan Luna Maya, yang menghasilkan kontroversial di kalangan jejaring ini. Status semacam tersebut akan membuat teman dalam satu jaringan akan saling perang komentar, ada yang mendukung, marah, memaki-maki, dan berkomentar seadanya.

Kita bisa lihat juga, tujuan orang ber-facebook, berdasarkan status yang mereka buat. Beberapa waktu lalu, saya menerima pesan di inbox facebook, yang mengkategorikan status para facebooker. Menurut pesan berantai tersebut, status dalam facebook terbagi atas beberapa jenis, yaitu: manusia super update, manusia melankolis, manusia puitis, manusia tukang ngeluh, manusia sombong, manusia in English, bioskop mania, tipe pedagang, obsesi, tipe penyuluh masyarakat, manusia alay, tipe hidden message, dan tipe manusia misterius. Dari beberapa jenis pembuat status tersebut, seharusnya sudah bisa dirumuskan tujuan mereka membuat akun di facebook.

Facebook dan Kehidupan yang Fasis

Dunia facebook adalah dunia dalam keakraban semu dan dalam bayang-bayang fasisme. Fasisme ini, menurut bahasan harunyahya.com dan bukunya “Fasisme: Ideologi Berdarah Darwinisme”, adalah untuk memperdaya rakyat dan organisasi-organisasi keagamaan, prinsip-prinsip mereka sama sekali bertolak belakang dari landasan etis yang ditanamkan agama kepada manusia, dan dicontohkan dalam ideologi Nazi yang bertentangan dan berlawanan dengan semua agama ketuhanan. Tokoh fasisme ini yang didaulatkan kepada Hitler, Mussolini, dan Franco, yang memiliki landasan ideologi ini berupa filsafat anti agama dari Nietzsche, dan teori evolusi Darwin yang ateis dan menyangkal fakta penciptaan.

Gerakan fasisme ini, menurut Leon Trotsky, muncul pertama kali di Italia, yaitu sebuah gerakan spontanitas massa yang masif, dengan para pemimpin baru yang berasal dari rakyat biasa. Gerakan fasis Italia berasal dari gerakan plebian berasal dari rakyat biasa), disetir dan dibiayai oleh kekuatan borjuis besar.(1) Dalam buku yang sama, kaum liberal mendefinisikan fasisme ini dengan istilah-istilah seperti: kediktatoran, nerosis massa, anti-semitisme, kekuatan propaganda jahat, efek hipnotik seorang orator jenius-sinting pada massa dan seterusnya.

Fasisme, yang disebut sebagai fascism di dalam Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, memiliki pengertian paling kabur. Secara historis-ilmiah, istilah fasisme mengacu kepada gerakan-gerakan fasis di Eropa yang muncul dalam periode dua perang dunia. Memiliki sifat anti-liberal, anti-komunis (dan ada juga yang bersifat anti-sosialis, yang sering disebut pula gerakan demokratis sosial), serta anti-konservatif, meskipun pendukung gerakan fasis bersedia mengadakan persekutuan sementara dengan kelompok lain, khususnya dari sayap kanan.(2) Dalam buku yang sama, ideologi dan tujuan politik gerakan fasis, diwarnai nasionalisme radikal yang sangat kuat, bahkan terkuat di sepanjang sejarah Eropa modern. Kelompok ini juga sangat mementingkan unsur estetis, simbol-simbol koreografi politik dan berbagai aspek romantik dan mistis lainnya. Gerakan ini selalu memanfaatkan mobilisasi massa, memberi penilaian positif atas tindakan kekerasan, dan mengagungkan prinsip maskulinitas dan dominasi kaum pria. Jejak-jejak fasisme di Indonesia muncul era 1933, atas keberadaan Nederlandsche Indische Fascisten Organisatie (NIFO) di Batavia. Suatu organisasi yang mengikuti ideologi fasisme di Jerman.

Penulis menangkap ideologi yang dibawa oleh facebook adalah berupa ideologi anti sosialis, dan pada wilayah tertentu mementingkan unsur estetis atas pergaulan sosial. Keakraban semu yang disinggung sebelumnya merupakan bagian faham fasis yang lebih mengabaikan kontak psikologis. Pada wilayah facebook, seseorang dengan bebas berkomentar, dengan bahasa yang sangat akrab, familiar, dan seolah terjalin ikatan yang sedemikian kuatnya. Dalam keakraban tersebut ada beberapa nilai yang mengarah pada dehumanisasi, yang lebih mementingkan keakraban melalui alat teknologi, bukan kontak fisik. Facebook secara perlahan akan membawa manusia untuk saling “berkontak fisik” melalui kecanggihan alat dan majunya teknologi, tidak disadari, ini mengondisikan masyarakat sosial yang tadinya saling bertutur sapa, berbahasa lisan yang lebih diketahui emosionalnya, lebih memilih facebook untuk mengakrabkan diri. Dehumanisasi dalam facebook, akan melunturkan budaya sopan santun berbicara, dengan semestinya, luntur juga keakraban fisik dan psikologis.

Facebook, secara tidak langsung membuktikan kekuatan dehumanisasi, dominannya teknologi daripada manusia itu sendiri. Fasisme yang ditandai dengan pengingkaran derajat kemanusiaan, sekaligus menunjukkan kecenderungan hirarkis tentang melemahnya jiwa-jiwa sosial. Orang cenderung akan memilih “akrab” melalui teknologi dan facebook, daripada harus mengeluarkan waktu dan biaya tersendiri, karena tentu lebih murah dan tidak menghabiskan waktu. Pengingkaran derajat kemanusiaan ini, merujuk pada manusia memang tidak sama dan berbeda-beda, ketidaksamaan dan keberbedaan inilah, kemudian yang mengarah pada munculnya idealisme hidup. Ideologi facebook dan situs jejaring sosial lainnya, akan menggeneralisasikan penggunanya, sebagai satu kesatuan masyarakat yang memiliki idealisme hidup yang tinggi. Hal ini, pada tatanan akhir dapat berdampak pada terbentuknya komunitas-komunitas tertentu, yang merongrong nilai kesatuan dan persatuan di negara Republik Indonesia. Ini ditakutkan juga memunculkan egosentris kedaerahan yang tinggi, rasialis, dan nilai-nilai imperialisme yang menggiring kekuatan elit yang diunggulkan dan melemahkan kelompok lain yang dianggap lemah.

Fasisme, juga mengandung ideologi ketidakpercayaan pada kemampuan nalar. Ideologi ini, akan mengabaikan segala sesuatu bentuk diskusi, tawar menawar, dan membunuh nilai-nilai musyarawah untuk mufakat. Otak facebooker, secara tidak langsung terkonsep pada wilayah fanatikisme, bahwa sesuatu yang sudah dianggap benar, tidak perlu didiskusikan lagi, walaupun kebenaran tersebut bukan bersifat mutlak. Tentu, kita tidak boleh lupa, bahwa facebook ini pertama kali dibuat oleh Mark Zuckerberg bertujuan untuk sarana perkenalan, untuk memudahkan para mahasiswa untuk saling kenal dan akrab. Tidak semua informasi yang diberitakan dalam facebook adalah benar, bahkan dalam kondisi tertentu facebook lebih banyak berkata bohong, mencaci-maki, dan hidup dalam kefasisan. Akrab yang semu.

Facebook dan Budaya Fasisme di Indonesia

Membicarakan pertentangan budaya juga merupakan perdebatan panjang yang tidak pernah usai. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Edward Burnett Tylor berpendapat, bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan, bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Lantas, dimana letak facebook dengan budaya fasisme di Indonesia?

Untuk membicarakan budaya fasisme, yang sekaligus ini menunjuk budaya facebook, sedangkan pertentangannya adalah budaya yang berkembang di Indonesia (sulit mengatakan sebagai budaya asli Indonesia), maka kita harus membedakan karakteristik keduanya. Pertama, jika facebook sudah masuk pada ranah budaya, maka ia menjadi bagian sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Apalagi jika mengacu pendapat Tylor, semakin kabur kefasisan yang dibicarakan. Akan tetapi, jika kita mengikuti pandangan Malinowski, maka jelas budaya facebook bukan milik bangsa Indonesia. Ideologis yang dimaknai sebagai landasan pikir facebook, memiliki nilai: tidak percaya pada kemampuan nalar, ingkar terhadap derajat manusia, perilaku didasari kekerasan dan kebohongan, pemerintahan kelompok elit, totaliterisme, rasialisme dan imperialisme, serta usaha untuk menentang hukum dan ketertiban internasional. Nilai-nilai ini sangat bertentangan dengan landasan pikir rakyat dan masyarakat sosial di Republik Indonesia, yang selalu mengedepankan musyawarah, menjaga tali silaturahmi (kontak fisik dan psikologis), bergotong royong; apalagi jika dipertemukan dengan nilai-nilai Pancasila, tentu facebook ini akan luntur, karena ia hanya sebagai sarana bergaul dan keakraban yang semu. Nilai-nilai facebook cenderung menghasilkan generasi dan kelompok yang idealismenya tinggi, serta sangat-sangat individualis.

Akhirnya, pada nilai-nilai dasar Republik Indonesia dapat ditafsirkan sebagai tolak ukur penting bagi kita untuk melihat, mendengar, dan melaksanakan. Sebagai dasar yang telah teruji keberadaanya, seharusnya mampu mengikis habis fasisme di Indonesia. Nilai Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, hendaknya dijadikan fondasi dalam menentukan penggunaan budaya asing, semacam facebook, sehingga kita tidak terjebak oleh ideologis yang menyesatkan di dalamnya. Facebook tetap akan menjadi budaya yang fenomenal, menarik, dan menyenangkan, hingga periode ini. Mungkin, ia akan tergantikan oleh sistem sosial ala tradisional yang lebih arif dan bijaksana? ***

Catatan Kaki:

(1) Leon Trotsky, Fascism: What It is and How to Fight It. Australia: Resistance Books, 2002.

(2) Adam Kuper dan Jessica Kuper, Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta: RajaGrafindo Persada, edisi 2, 2008, 347.

DAFTAR BACAAN

Griffiths, Richard. Fascism. New York: Continuum Books, 2005.


Neocleous, Mark. Fascism. USA: University of Minnesota Press, 1997.


Renton, David. Fascism: Theory and Practice. USA: Pluto Press, 1999.


Roger, Griffin. The Nature of Fascism. Britain: Pinter Publishers Limited, 1991.


Sternhell, Zeev, et.al. The Birth of Fascist Ideology. USA: Pricenton University Press, 1995.

*) Penulis adalah dosen Universitas Negeri Semarang, Mahasiswa S-3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Image Verification
Captcha Image Reload Image
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
29-05-2016 s/d 02-06-2016
"Run: Embrace Diversity", pameran tunggal Nasirun
di Sportorium Univ. Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ringroad Barat, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
14-05-2016 s/d 21-05-2016
Pameran seni Rupa AFTER MOOI INDIE
di Galeri R.J. Katamsi Kampus ISI Yogyakarta, Jl. Parangtritis Km. 6,5 Yogyakarta
11-05-2016 s/d 19-05-2016
Pameran Seni Rupa "# Rupa Rajawali"
di Taman Budaya Yogyakarta, Jl. Sriwedani No. 1, Gondomanan, Yogyakarta
07-05-2016
Seminar dan Diskusi NOKEN: Sejarah dan Budaya
di Ark Galerie Jl. Suryodiningratan 36 A Yogyakarta
10-04-2016
Njoged Mbagong: Tubuh bagai mata air, kreativitas tetap mengalir
di Bangsal Diponegoro, Padepokan Seni Bagong Kussudiardja, Kembaran, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul
03-04-2016 s/d 10-04-2016
Air Tanah, Respon Sumber Air Gemulo
di Sumber Air Gemulo, Jl. Bukit Berbunga, Bumiaji, Kota Batu
03-04-2016 s/d 09-04-2016
“RUANG KECIL BICARA”
di Galeri PRABANGKARA (DKJT) Kompleks Taman Budaya Jatim Jl. Gentengkali 85 Surabaya
31-03-2016 s/d 23-04-2016
Pameran Seni Rupa "Art Akulturasi"
di Galeri Seni House of Sampoerna Surabaya
31-03-2016 s/d 15-04-2016
Ketemu AJA: seniman asal Jembrana, Punia Atmaja
di KETEMU PROJECT SPACE Jl Batuyang, Perum Taman Asri 3A Batubulan, Bali
29-03-2016 s/d 11-04-2016
PELEBURAN RUPA, NADA, DAN KATA: A Solo Exhibition by Andra Semesta
di Cemara 6 Art Centre (Galeri) Jl.Hos.Cokroaminoto 9-11, Menteng, Jakarta
read more »
Rabu, 18-05-2016
Rajawali yang (Ingin) Menolak Takdir
oleh Kuss Indarto
Sabtu, 14-05-2016
Perspektif Beda Ihwal Mooi Indie
oleh Kuss Indarto
Jum'at, 08-04-2016
FBU 2015: Frankfurt Book Unfair 2015
oleh Sigit Susanto
Selasa, 16-02-2016
Tanda Rasa, Tanda Ada
oleh Kuss Indarto
Sabtu, 16-01-2016
Mengejar Hasrat, Menghajar yang Membebat
oleh Kuss Indarto
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Pameran Besar Seni Rupa Indonesia 2016
Kompetisi Karya Trimatra Salihara 2016
Call for Applications for the Artists in Residence Programme 2016 in Austria
Kompetisi UOB Painting of the Year 2015
BANDUNG CONTEMPORARY ART AWARDS (BaCAA) #04
KOMPETISI SENI LUKIS, MANDIRI ART AWARD 2015
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
read more »
02/05/2016 03:59 | Larry Fox | Apakah Anda mencoba untuk mendapatkan pinjaman dari bank tidak berhasil? Sangat membutuhkan uang untuk keluar dari utang? Butuh uang untuk ekspansi atau pembentukan bisnis Anda sendiri? Mendapatkan pinjaman dari salah satu perusahaan pinjaman terkemuka di Inggris. Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi via email: larryfox2016@gmail.com
05/01/2016 15:38 | Kareba Art | Salam, Kami dari Kareba Art Management ingi mengadakan pameran Drwaing. Bagaimana caranya agar kegiatan kami dipublikasikan di Indonesia Art News? Makasih....
06/05/2015 16:11 | EkanantoBudiSantoso | to Pa Andre Galnas,kapan kita reuni mamer bareng temen2x? biar wacananya "dream come true gitu,art new biar juga makin seru kita undang konco2x sy nulis disini juga,thanks att.
06/05/2015 16:03 | EkanantoBudiSantoso | Sy butuh info lomba lukis Mandiri,sebenarnya kompetisi bukan untuk cari "jawara,jati diri dan silaturakhmi perupa sangat perlu"dikembangbiakan biar ngga ego,ah.
10/02/2015 23:32 | icha | saya mw jual brang py kkek msa penjajahan di ambon.... samurai bs ditekuk pjang bget... ada belati kecil beserta bendera jepang msa lampau... ada tulisan di sebuah uukuran kertas seperti kulit binatang tpi tulisan jepang... mhon bntuan nya mau jual saja butuh ug urgent
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id