HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Selasa, 28 September 2010 - 09:43
Facebook dan Kuasa Fasisme: Merenung dalam Kuasa Hidup yang Palsu
oleh Deni S. Jusmani
Tampilan wall dari seorang facebooker, Ganjar Pranowo, anggota DPR RI fraksi PDIP. (foto: kuss)
HAL yang paling sering saya lakukan setiap hari adalah berselancar di internet, browsing, dan paling lama adalah ber-facebook dengan relasi, teman-teman, dan juga komunitas facebooker. Jika sudah ber-facebook ini, maka bisa berjam-jam lamanya, melakukan interaksi melalui dunia maya. Mungkin, hal yang sama ini juga dilakukan oleh orang-orang di seluruh belahan dunia. Sebetulnya, apa yang membuat saya begitu tertarik dan asyik dengan facebook? Ada apa dengan facebook, atau jaringan sosial semacamnya, twitter, friendster, atau sekadar blogging saja, sehingga rela menghabiskan waktu dan biaya untuk melakukannya? Kenapa jaring-jaring sosial semacam facebook ini mulai merambah pada tatanan kebutuhan pokok untuk melakukan pergaulan sosial dan bahkan mengalahkan kontak fisik secara langsung?

Dasawarsa terakhir ini Indonesia “digemparkan” oleh kehadiran facebook dalam ranah pergaulan sosial, mengalahkan twitter dan friendster, bahkan menjadi bagian penting dalam perdebatan sosial, politik, dan budaya di Indonesia. Munculnya grup semacam “Surya Paloh for the Next Indonesia President”, “Dukung Pembubaran Pansus Century”, “Koin untuk Prita”, “Dukung Luna Maya”, dan beragam jenis grup lainnya, memiliki peran penting terhadap kasus tertentu, serta memiliki dampak yang cukup menghebohkan. Belum lagi pada sarana bisnis, jual beli, usaha jasa, lahan cari jodoh, informasi orang hilang, dan bermunculan badan sosial dengan tujuan-tujuan tertentu. Bahkan facebook ini pernah difatwakan haram oleh para ulama, yang kemudian muncul Grup “Tolak Rencana Fatwa Haram Facebook!!!” Ada hal apa, sehingga si facebook ini begitu diterima dan telah menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sosial ini? Bahkan, sampai-sampai oleh beberapa perusahaan, universitas, dan lembaga pemerintahan, situs facebook ini sengaja diblokir dari sistemnya, untuk menghindari penggunaan situs ini, sekaligus dengan tujuan dan alasan-alasan yang berbeda-beda. Pelarangan ini merupakan bukti nyata, bahwa facebook telah menjadi bagian penting dan dianggap mengganggu stabilitas organisasi.

Pesatnya pertumbuhan facebook ini, didorong oleh dukungan tersedianya sarana-sarana murah meriah untuk ber-facebook, bahkan facebooker ini dijadikan alat dan segmen pasar yang menarik serta berpotensi besar meraup keuntungan. Lihat saja, vendor-vendor handphone, baik lokal maupun internasional, berlomba-lomba menghadirkan fitur facebook sebagai bundel resmi dan daya tarik penjualan. Kapitalisme ala facebook ini juga yang dijadikan sebagai sarana pencari dukungan, berbisnis, bertukar-pikiran, atau sekadar berinteraksi saja. Masing-masing punya tujuan dan misi dalam penggunakan facebook ini.

Rentang tahun 2004-2010, adalah waktu yang sangat singkat, dari kemunculan facebook, dan dirajainya dunia pertemanan maya. Adalah Mark Zuckerberg yang membuat pertama kali situs ini, pada tahun 2004, yang dimaksudkan sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Harvard. Hanya butuh waktu dua minggu, hampir seluruh mahasiswa Universitas Harvard telah memiliki akun facebook, dan dalam waktu empat bulan, 30 kampus di Amerika telah terdaftar dalam jaringan ini. Facebook ini mulai menarik hati beberapa penyelia jasa, termasuk friendster, dan beberapa investor. Pada September 2005, facebook ini terbuka untuk umum. Pada Januari 2010, pengguna facebook pada tingkat dunia mencapai 350 juta orang, dari angka tersebut, pengguna facebook di Indonesia menempati urutan kedua, diikuti oleh Filipina.

Kenapa Orang Berfacebook?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kita kembalikan pada tujuan dibuatnya facebook pertama kali, kurang lebih bertujuan untuk membuat komunitas online sehingga orang-orang bisa saling mengenal dan menghubungkan orang-orang yang memiliki minat dan hobi yang sama. Dari blogging yang saya lakukan, pada beberapa facebooker di Indonesia, membuat akun di facebook bertujuan untuk promosi dan informasi (blog, bisnis, jasa), tren dan gaya hidup (networking atau bersosialisasi), serta pembuat sensasi dan kontroversi.

Kelompok pertama, membuat akun di facebook bertujuan untuk promosi dan informasi tentang sesuatu. Promosi blog, untuk berbisnis, ataupun usaha dalam bidang jasa. Tidak sedikit, nama akun atau nama grup yang digunakan seperti: “Grosir Baju Anak”, “Bisnis Online”, “Pusat Bisnis Cerdas”, “Masyarakat Anti Sinetron”, “Salma Batik dan Tenun”, “Partai Penulis Puisi”, www.infokorupsi.com, “Yasika FM Jogja”, atau “Mateshop Safitri”, yang secara langsung menunjuk tujuan mereka membuat nama, baik akun personal atau nama grup yang dimaksudkan. Facebook digunakan untuk mempermudah informasi jasa, bisnis, atau pandangan tentang faham ideologis tertentu. Tujuannya adalah mencari “teman” atau klien sebanyak-banyaknya, sehingga apa yang melatarbelakangi, tersampaikan dengan baik. Biasanya, status yang mereka buat tidak lebih dari informasi jenis dan harga produk, berita kegiatan, dan produk-produk terbaru yang dikeluarkan.

Kelompok pecinta tren dan gaya hidup, membuat akun facebook dengan tujuan untuk eksis, dikenal, bahkan cenderung ikut-ikutan, dalam komunitas mereka. Nama-nama akun yang digunakan langsung menunjuk nama personal, nama kelompok, atau nama personal yang diimbuhi dengan nama komunitas tertentu, terkadang juga nama unik, nama kota, atau nama aslinya. Sebut saja, “Oshin Cecabe”, “Shyrenna Aprietha”, “Septina Kusumawati”, “Emprit Kecil Imutimut”, Aantz Kurus Tak Takut”, “Linda かわいい 예쁜”, “Icha Chadut Jouliecha”, “Regina Temanggung”, “Uzer Palembang”, dan “Antok Naughty'boyz-guevara”. Kelompok semacam ini memiliki kebiasaan update status yang berlebihan (facebook addict) dan informasi statusnya yang unik, lucu, menggemaskan, dan terlihat kurang penting, semacam “kopi jahe”, “Mulud pnuh sariawan.. Bgg mw mam apa???”, “Witing tresno jalaran saka restu ne wong tuo :-) hohoho.”, “Bwt mnuman susu ah,, biar tbuh jd shat.”, atau semacam “Aku punya boneka monyet yg hedrocepalus luh. .hahaha”. Awalnya mereka membuat akun bertujuan untuk sosialisasi sesama teman dan satu komunitas saja, sehingga bahasa-bahasa status mereka, akan terlihat dan terkesan kurang penting bagi orang-orang yang ada dalam satu jaringan pertemanan, dan ikut membaca status tersebut.

Kelompok pembuat sensasi adalah yang menghasilkan kontroversial atas status yang dibuatnya. Pembuat sensasi ini bisa personal ataupun kelompok, tujuannya tentu menghasilkan hal sensasional, baik sengaja atau tidak. Lihat saja statusnya, “aku mau making love dengan semua lelaki hanya dengan satu syarat, syaratnya bukan uang atau harta... kirim pesan ke aku klo pengen tau syaratnya...”, atau “polri gak butuh masyarakat... tapi masyarakat yg butuh polri.... maju terus kepolisian indonesia, telan hidup2 cicak kecil.....”, atau status twitternya Mario Teguh dan Luna Maya, yang menghasilkan kontroversial di kalangan jejaring ini. Status semacam tersebut akan membuat teman dalam satu jaringan akan saling perang komentar, ada yang mendukung, marah, memaki-maki, dan berkomentar seadanya.

Kita bisa lihat juga, tujuan orang ber-facebook, berdasarkan status yang mereka buat. Beberapa waktu lalu, saya menerima pesan di inbox facebook, yang mengkategorikan status para facebooker. Menurut pesan berantai tersebut, status dalam facebook terbagi atas beberapa jenis, yaitu: manusia super update, manusia melankolis, manusia puitis, manusia tukang ngeluh, manusia sombong, manusia in English, bioskop mania, tipe pedagang, obsesi, tipe penyuluh masyarakat, manusia alay, tipe hidden message, dan tipe manusia misterius. Dari beberapa jenis pembuat status tersebut, seharusnya sudah bisa dirumuskan tujuan mereka membuat akun di facebook.

Facebook dan Kehidupan yang Fasis

Dunia facebook adalah dunia dalam keakraban semu dan dalam bayang-bayang fasisme. Fasisme ini, menurut bahasan harunyahya.com dan bukunya “Fasisme: Ideologi Berdarah Darwinisme”, adalah untuk memperdaya rakyat dan organisasi-organisasi keagamaan, prinsip-prinsip mereka sama sekali bertolak belakang dari landasan etis yang ditanamkan agama kepada manusia, dan dicontohkan dalam ideologi Nazi yang bertentangan dan berlawanan dengan semua agama ketuhanan. Tokoh fasisme ini yang didaulatkan kepada Hitler, Mussolini, dan Franco, yang memiliki landasan ideologi ini berupa filsafat anti agama dari Nietzsche, dan teori evolusi Darwin yang ateis dan menyangkal fakta penciptaan.

Gerakan fasisme ini, menurut Leon Trotsky, muncul pertama kali di Italia, yaitu sebuah gerakan spontanitas massa yang masif, dengan para pemimpin baru yang berasal dari rakyat biasa. Gerakan fasis Italia berasal dari gerakan plebian berasal dari rakyat biasa), disetir dan dibiayai oleh kekuatan borjuis besar.(1) Dalam buku yang sama, kaum liberal mendefinisikan fasisme ini dengan istilah-istilah seperti: kediktatoran, nerosis massa, anti-semitisme, kekuatan propaganda jahat, efek hipnotik seorang orator jenius-sinting pada massa dan seterusnya.

Fasisme, yang disebut sebagai fascism di dalam Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial, memiliki pengertian paling kabur. Secara historis-ilmiah, istilah fasisme mengacu kepada gerakan-gerakan fasis di Eropa yang muncul dalam periode dua perang dunia. Memiliki sifat anti-liberal, anti-komunis (dan ada juga yang bersifat anti-sosialis, yang sering disebut pula gerakan demokratis sosial), serta anti-konservatif, meskipun pendukung gerakan fasis bersedia mengadakan persekutuan sementara dengan kelompok lain, khususnya dari sayap kanan.(2) Dalam buku yang sama, ideologi dan tujuan politik gerakan fasis, diwarnai nasionalisme radikal yang sangat kuat, bahkan terkuat di sepanjang sejarah Eropa modern. Kelompok ini juga sangat mementingkan unsur estetis, simbol-simbol koreografi politik dan berbagai aspek romantik dan mistis lainnya. Gerakan ini selalu memanfaatkan mobilisasi massa, memberi penilaian positif atas tindakan kekerasan, dan mengagungkan prinsip maskulinitas dan dominasi kaum pria. Jejak-jejak fasisme di Indonesia muncul era 1933, atas keberadaan Nederlandsche Indische Fascisten Organisatie (NIFO) di Batavia. Suatu organisasi yang mengikuti ideologi fasisme di Jerman.

Penulis menangkap ideologi yang dibawa oleh facebook adalah berupa ideologi anti sosialis, dan pada wilayah tertentu mementingkan unsur estetis atas pergaulan sosial. Keakraban semu yang disinggung sebelumnya merupakan bagian faham fasis yang lebih mengabaikan kontak psikologis. Pada wilayah facebook, seseorang dengan bebas berkomentar, dengan bahasa yang sangat akrab, familiar, dan seolah terjalin ikatan yang sedemikian kuatnya. Dalam keakraban tersebut ada beberapa nilai yang mengarah pada dehumanisasi, yang lebih mementingkan keakraban melalui alat teknologi, bukan kontak fisik. Facebook secara perlahan akan membawa manusia untuk saling “berkontak fisik” melalui kecanggihan alat dan majunya teknologi, tidak disadari, ini mengondisikan masyarakat sosial yang tadinya saling bertutur sapa, berbahasa lisan yang lebih diketahui emosionalnya, lebih memilih facebook untuk mengakrabkan diri. Dehumanisasi dalam facebook, akan melunturkan budaya sopan santun berbicara, dengan semestinya, luntur juga keakraban fisik dan psikologis.

Facebook, secara tidak langsung membuktikan kekuatan dehumanisasi, dominannya teknologi daripada manusia itu sendiri. Fasisme yang ditandai dengan pengingkaran derajat kemanusiaan, sekaligus menunjukkan kecenderungan hirarkis tentang melemahnya jiwa-jiwa sosial. Orang cenderung akan memilih “akrab” melalui teknologi dan facebook, daripada harus mengeluarkan waktu dan biaya tersendiri, karena tentu lebih murah dan tidak menghabiskan waktu. Pengingkaran derajat kemanusiaan ini, merujuk pada manusia memang tidak sama dan berbeda-beda, ketidaksamaan dan keberbedaan inilah, kemudian yang mengarah pada munculnya idealisme hidup. Ideologi facebook dan situs jejaring sosial lainnya, akan menggeneralisasikan penggunanya, sebagai satu kesatuan masyarakat yang memiliki idealisme hidup yang tinggi. Hal ini, pada tatanan akhir dapat berdampak pada terbentuknya komunitas-komunitas tertentu, yang merongrong nilai kesatuan dan persatuan di negara Republik Indonesia. Ini ditakutkan juga memunculkan egosentris kedaerahan yang tinggi, rasialis, dan nilai-nilai imperialisme yang menggiring kekuatan elit yang diunggulkan dan melemahkan kelompok lain yang dianggap lemah.

Fasisme, juga mengandung ideologi ketidakpercayaan pada kemampuan nalar. Ideologi ini, akan mengabaikan segala sesuatu bentuk diskusi, tawar menawar, dan membunuh nilai-nilai musyarawah untuk mufakat. Otak facebooker, secara tidak langsung terkonsep pada wilayah fanatikisme, bahwa sesuatu yang sudah dianggap benar, tidak perlu didiskusikan lagi, walaupun kebenaran tersebut bukan bersifat mutlak. Tentu, kita tidak boleh lupa, bahwa facebook ini pertama kali dibuat oleh Mark Zuckerberg bertujuan untuk sarana perkenalan, untuk memudahkan para mahasiswa untuk saling kenal dan akrab. Tidak semua informasi yang diberitakan dalam facebook adalah benar, bahkan dalam kondisi tertentu facebook lebih banyak berkata bohong, mencaci-maki, dan hidup dalam kefasisan. Akrab yang semu.

Facebook dan Budaya Fasisme di Indonesia

Membicarakan pertentangan budaya juga merupakan perdebatan panjang yang tidak pernah usai. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Edward Burnett Tylor berpendapat, bahwa kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan, bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Lantas, dimana letak facebook dengan budaya fasisme di Indonesia?

Untuk membicarakan budaya fasisme, yang sekaligus ini menunjuk budaya facebook, sedangkan pertentangannya adalah budaya yang berkembang di Indonesia (sulit mengatakan sebagai budaya asli Indonesia), maka kita harus membedakan karakteristik keduanya. Pertama, jika facebook sudah masuk pada ranah budaya, maka ia menjadi bagian sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Apalagi jika mengacu pendapat Tylor, semakin kabur kefasisan yang dibicarakan. Akan tetapi, jika kita mengikuti pandangan Malinowski, maka jelas budaya facebook bukan milik bangsa Indonesia. Ideologis yang dimaknai sebagai landasan pikir facebook, memiliki nilai: tidak percaya pada kemampuan nalar, ingkar terhadap derajat manusia, perilaku didasari kekerasan dan kebohongan, pemerintahan kelompok elit, totaliterisme, rasialisme dan imperialisme, serta usaha untuk menentang hukum dan ketertiban internasional. Nilai-nilai ini sangat bertentangan dengan landasan pikir rakyat dan masyarakat sosial di Republik Indonesia, yang selalu mengedepankan musyawarah, menjaga tali silaturahmi (kontak fisik dan psikologis), bergotong royong; apalagi jika dipertemukan dengan nilai-nilai Pancasila, tentu facebook ini akan luntur, karena ia hanya sebagai sarana bergaul dan keakraban yang semu. Nilai-nilai facebook cenderung menghasilkan generasi dan kelompok yang idealismenya tinggi, serta sangat-sangat individualis.

Akhirnya, pada nilai-nilai dasar Republik Indonesia dapat ditafsirkan sebagai tolak ukur penting bagi kita untuk melihat, mendengar, dan melaksanakan. Sebagai dasar yang telah teruji keberadaanya, seharusnya mampu mengikis habis fasisme di Indonesia. Nilai Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, serta Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, hendaknya dijadikan fondasi dalam menentukan penggunaan budaya asing, semacam facebook, sehingga kita tidak terjebak oleh ideologis yang menyesatkan di dalamnya. Facebook tetap akan menjadi budaya yang fenomenal, menarik, dan menyenangkan, hingga periode ini. Mungkin, ia akan tergantikan oleh sistem sosial ala tradisional yang lebih arif dan bijaksana? ***

Catatan Kaki:

(1) Leon Trotsky, Fascism: What It is and How to Fight It. Australia: Resistance Books, 2002.

(2) Adam Kuper dan Jessica Kuper, Ensiklopedi Ilmu-ilmu Sosial. Jakarta: RajaGrafindo Persada, edisi 2, 2008, 347.

DAFTAR BACAAN

Griffiths, Richard. Fascism. New York: Continuum Books, 2005.


Neocleous, Mark. Fascism. USA: University of Minnesota Press, 1997.


Renton, David. Fascism: Theory and Practice. USA: Pluto Press, 1999.


Roger, Griffin. The Nature of Fascism. Britain: Pinter Publishers Limited, 1991.


Sternhell, Zeev, et.al. The Birth of Fascist Ideology. USA: Pricenton University Press, 1995.

*) Penulis adalah dosen Universitas Negeri Semarang, Mahasiswa S-3 Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa, Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Kamis, 09 Mei 2013 - 10:01
uzer palembang - uzerpalembang@facebook.com
Analisis yang luar biasa. Saya suka pak. Apalagi akun saya disebut dalam tulisannya. Haha.....
Rabu, 13 Oktober 2010 - 08:21
Jaya Pattra Ditya - jayapattra@gmail.com
@ Deni 2 Okt 2010 Secara teknis, tidak semua status FB friend list bisa muncul. FB akan menandakan/notif aktivitas pemilik account terhadap friendlistnya. 'Bila' pemilik account tidak mengunjungi temen2nya... maka FB akan ignore dan menumpuk dengan status friend yg pernah di kunjungi. Seperti dalam sosialita sehari2, bila kita tidak senantiasa bersilahturahim dengan kenalan, maka kenalan kita pun menjadi tidak penting untuk bersosialita dengan kita. Fair kan?...
Senin, 11 Oktober 2010 - 17:46
Handoko Atmaja - handoatmaja@yahoo.com
Paranoisme.
Jum'at, 08 Oktober 2010 - 20:07
hady - hadinosaurus@yahoo.com
bagus.. saya suka tulisan ini !
Kamis, 07 Oktober 2010 - 10:27
Hari Andana - andana86@gmail.com
saya punya fb dari ....(lupa) sampai saat ini manfaatnya baru sekali seingat saya, ketika saya pasang status @suatu tempat, lah disitu teman saya sms suruh mampir rumahnya untuk makan siang. selebihnya dipake buat ece-ecean ato saling "menghina" aja..

Kamis, 07 Oktober 2010 - 09:18
aziz - aziz_bcmp@yahoo.co.id
Sampai saat inipun saya masih bingung dalam 'memposisikan' fb, apakah ia lebih banyak manfaatnya atau sebaliknya... walaupun juga banyak kegelisahan yang begitu menggunung, tapi ironisnya saya sendiri (mungkin juga kita) belum bisa lepas tuntas dari fb... (meskipun ingin).

Tapi kalo ditarik ke ranah "ideologis" teknologi (bahkan ilmu pengetahuan) banyak kini orang berpendapat bahwa tidak ada yang bebas nilai. Selalu saja ada kepentingan disebaliknya... maka upaya untuk membongkar "the invisible hand" adalah hal yang wajar untuk dilakukan... agar tidak "terlalu". ijin c

Kamis, 07 Oktober 2010 - 02:16
Makassar Art Moment - makassartmoment@gmail.com
Salam Seni dari kami di wilayah timur Indonesia
Selasa, 05 Oktober 2010 - 12:34
Sang Made Budiasa - ianartpainter@gmail.com
ttrims atas undangannya and sukses selalau
Senin, 04 Oktober 2010 - 22:12
iis hernisyah - iishernisyah@yahoo.com
Saya stuju dengan pendapat bpk dan seandainya facebook jga bsa digunakan untuk perkembangan peradaban manusia yg positif dan bukan negatif mungkin itu akan menambah nilai plus, apalagi untuk perkembangan iptek dan khususnya jga untuk memperkenalkan seni dan budaya bangsa kita sendiri.
Senin, 04 Oktober 2010 - 08:10
Deni S. Jusmani - denijusmani@gmail.com
Salam untuk semua. Perlu disimak lagi, bahwa tidak ada ketakutan yang muncul dari tulisan saya ini. Bahkan, hal inilah yang paling menyenangkan. Berfantasi semu. Saya tidak takut. Paling tidak, saya masih bangga sebagai pecinta falsafah keindonesiaan. Kalau saya yang terkesan ideologis, wah, kenapa saya mesti repot-repot curhat dengan khalayak ramai. Persoalannya tidak sesederhana itu. juga, tidak ingin membuat rumit, tetapi manakala melihat realita yang ada, jelas, kita hidup dalam kesemuan saja. diidentifikasi saja, berapa teman FB anda, dan berapa yang sering dan rajin berkontak dengan anda.. Salam.
Minggu, 03 Oktober 2010 - 18:04
moh rondhi - mrondhi@yahoo.com
Mas halim hd, terima kasih atas responsnya. Benar bahwa kita senantiasa perlu waspada baik terhadap fasisme, impererialisme, kapitalime bahkan terhadap teknologi. Semuanya mempunyai dampak negatif bagi kemanusiaan. Tetapi janganlah kita menjadi takut terhadap semuanya itu bahkan menjadi paranoid. Kita santai saja! Mengapa takut loudspeaker? Kecilkan saja volumenya kan beres! Semua bisa diatur, ya tentu saja dengan dialog seperti ini. Indah kan?!
Minggu, 03 Oktober 2010 - 16:13
halim hd. - halimhade@yahoo.com
TAMBAHAN: dalam sejarah juga kita ditunjukkan bahwa untuk melakukan perlawanan terhadap imperialisme, kapitalisme dan fasisme - dalam politik maupun keyakinan agama - adalah sejenis bentuk post-natioanlism, suatu perspektif yang mendasarkan diri kepada upaya pengembangan nasionalisme dengan dasar humanitarian, nilai-nilai humanisme. sekali lagi, 'nasionalisme' tanpa humanisme, akan menjadi belenggu bukan hanya bagi warga dan bangsa itu sendiri dalam bentuk paling riil, fasisme, tapi juga akan berhadapan dengan berbagai kmonflik antar bangsa, dimana masalah sumber daya alam adalah pokok dan tema utama. disini, ironis sejarah kembali selalu menunjukan dirinya: fasisme dan kapitalisme global, serta feodalisme dan militerisme saling mendukung. mosaik sejarah kian menguakan dirinya sebagai ruang tantangan bagi siapa saja untum memberikan kontribusi visi ke masadepan.
Minggu, 03 Oktober 2010 - 16:08
halim hd - halimhade@yahoo.com
@moh. rondhi: fasisme, seperti juga kapitalisme dan imperialisme tak pernah mati, senyampang dengan itu, usaha-usaha demokjratisasi juga tak lekang dan tak pernah lelah berusaha untuk menandingi dan mencari solusi atas persoalan manusia jaman kini melaklui refleksi dan pencarian visi masadepan. namun, diantara itu, perlu kiranya kita renungkan - kepada @ALL - bahwa fasisme di indonesia justeru bukan karena fesbuk. munculnya etno-nasionalisme dan perspektif dimana suku atau etnis serta nilai-nilai nasionalisme yang di agung agungkan secar berlebihan, dan menganggap bahwa di nusantara ini sebagai sumbr kandungan 'asli' adalah bibit utama, bibit unggul bagi tumbuh dan berkembangnya fasisme. pada sisi lainnya sejarah politik kontemporer menunjukan adanya posisi militer yang biasanya dianggap 'nasionalistik' melalui isu dan slogan 'stabilitas nasional' dan dengan dukungan penyeragaman ideologis. secara kultural, sangat kuat benih fasisme di nusantara, dari arah manapun juga. dan kini kita bukan hanya berhadapan tapi juga dirasuki oleh gelomnbang globalisasi. disinilah dillemanya, pada sisi lain globalisasi sebagai 'berkah' kareena tehnologi menciptakan dunia datar dan bersifat partisipatif, dan pada sisi lainnya, terasa, dan ini yang kini menonjol, globalisasi identik dengan kekuatan kapital yang menderas dan merasusk dan bukan hanya memberikan label. tapi juga menciptakan sistem nilai itu sendiri. titik balik yang agak 'fatalistik' dalam menghadapi globalisasi ini adalah mereka yang berusaha 'back to basic': mengungkit masa lampau dengan berkobar-kobar dan menganggap kebudayan dan trdisinya 'asli', dan lalu 'menyingkirkan sistem nilai lainnya.
Minggu, 03 Oktober 2010 - 09:18
joseph mayangkara - josephmayangkara@gmail.com
Bung Deni, dari 2 alinea terakhir tulisan anda, saya dapat kesan:1. anda 'mengidentifikasi' sifat2 buruk fesbuk, termasuk kandungan fasisme itu, lalu 2. anda mengidentifikasi nilai2 luhur bangsa kita dari ideologi negara sebagai pengontras yang pertama.

Anda kurang kasih pembuktian (yang meyakinkan) untuk yang pertama. Dan untuk yang kedua, anda merasa cukup dengan membeberkan 'keunggulan2' khas kita. Secara taken for granted, tanpa mengujinya dengan kenyataan empiris mirip anak sekolahan zaman dulu menghapal nilai2 luhur P4.

Sepertinya anda yang ideologis. Salam.

Sabtu, 02 Oktober 2010 - 20:51
moh rondhi - mrondhi@yahoo.com
Mas Deni yang terhormat. Kita memang sering dan suka menggenarilisasi suatu masalah dengan tanpa melihat konteks. Kalau facebook (fb) anda akui memiliki nilai positif dan juga negatif lantas mengapa anda takut media tersebut menjadi alat propaganda fasisme? Manusia kan bukan benda yang mudah diperdaya begitu saja oleh media seperti halnya pandangan kaum behavioris itu. Jika anda penganut faham humanisme justru tidak akan takut terhadap pengaruh buruk dari fb. Manusia adalah mahluk berfikir dan sekaligus berperasaan. Ia bisa memilih mana yang ia anggap baik dan mana yang tidak baik. Fenomena mudik misalnya justru membuktikan bahwa manusia Indonesia ternyata masih ingin menjaga hubungan personal. Komentar saya ini sungguh semu! Terima kasih mas.
Sabtu, 02 Oktober 2010 - 13:37
Deni S. Jusmani - denijusmani@gmail.com
Salam untuk semua. Tulisan ini dibuat atas dasar 'kegelisahan' yang saya rasakan, betapa, teknologi ini telah menjadi sarana 'kontak fisik' baru. Tidak bermaksud provokatif. Disadari atau tidak, sekaligus positif dan negatif, telah mengiringi facebook. Facism belum mati. Ia masih menghantui makhluk berbudaya yang ada di Indonesia. Tidak semua informasinya palsu, tetapi bagaimana ini menggantikan emosional berjabat tangan, merasakan getar-getar humanisme secara alamiah. Facebook hadir sebagai alat, yang sekaligus memisahkan dan mencampurkan 'humanism technology'. Saya tdk berani bilang Facebook sebagai budaya manapun, karena sifatnya yang temporer, tetapi menggantikan permanennya keakraban manusia. yang saya rasakan, Saya punya lebih dari 100 teman di FB saya, tapi tidak lebih dari 10 orang saja yang betul-betul akrab dengan saya. semu, itulah yang saya rasakan. Bagaimana dengan anda?. BTW, Add me ya, siapa tau gak semu..
Sabtu, 02 Oktober 2010 - 13:36
Arif Nugroho - ramonpgri@yahoo.com
aku bisa sering nongkrong di wab ini, tidak perlu cari bahan bacaan lagi... makasi yah mas satmoko budi santoso..... isinya bagus.... mengenai hal-hal umum yang memberikan ku pemahaman sehingga bisa menjadi lebih bijaksana dalam menghadapi permasalahan ku...... sukses
Sabtu, 02 Oktober 2010 - 13:33
SMA PGRI 1 Kasihan - smapgriyk@ymail.com
terimakasih dewan redaksi .... saya adalah KETUA OSIS Arif Nugroho SMA PGRI 1 KASIHAN (SMU PGRI YOGYAKARTA). Wabsite ini telah memberikan saya suatu ilmu yang bersifat kondusif karena membantu saya memiliki pemahaman yang menambahkan wawasan atau cakrawala dan dapat saya terapkan dalam kehidupan sehari-hari terutama menyangkut permasalahan-permasalahan dalam menjalankan program OSIS.
Sabtu, 02 Oktober 2010 - 09:18
wahyu widayanti - nirwa_sita@yahoo.co.id
tehnologi seperti mata uang yg punya dua sisi.baik dan buruk.kecerdasan manusia tertantang untuk dapat memisahkannya.
Kamis, 30 September 2010 - 21:34
Hizkia Yosie - yosieprodigy@live.com
Bung Deni S. Jumani, salam kenal, dan selamat untuk artikel yang bisa dibilang provokatif ini. Namun demikian saya menjadi bertanya-tanya, kira2 apa ya yang menyebabkan seseorang menjadi fasis? Dari artikel ini saya menangkap seolah2 fasisme adalah idiologi yang diimposisikan dari eksternal yang berikutnya mempengaruhi struktur psikis (dan fisik)--bisa melalui kediktatoran penguasa karismatik/ partai. Apa iya imposisi ini berjalan lurus alias searah? Pernahkan kita terbayangkan bahwa dalam diri kita menyimpan apa yg disebut Deleuze & Guattari sebagai micro-fascism yang menunggu untuk (di)aktif(kan)?
Kamis, 30 September 2010 - 18:53
Ahmad Olie Sopan - olie_ii@yahoo.com
tanpa menapikan fb sebagai sebuah media yg mungkin saja membawa sebuah ideologi bagi para penggunannya, tapi apakah iya dapat mengakar di sini (Indonesia)? sebuah bangsa yg dalam perjalanan sejarahnya selalu mencampur adukan isme-isme dalam kehidupannya hingga saat ini. wassalam
Kamis, 30 September 2010 - 14:31
agapetus ak - agapteckristy@yahoo.com
Memang perlu dikaji ulang (halim hd),apalagi jika hipotesa dibalik: media interaktif akan mereduksi fasisme media (rain rosidi). kecil kemungkinan sebuah rezim keyakinan/isme2 menggunakan media ini untuk propaganda & pemaksaan gagasan2nya agar bisa diterima orang banyak tanpa sanggahan/perlawanan. Setiap orang bisa berpendapat berdasar latar belakang & pemahaman realitas masing2. Mungkin dengan bertemunya beragam budaya & keyakinan akan membuka kesadaran untuk menerima kenyataan prularisme.
Rabu, 29 September 2010 - 22:15
moh rondhi - mrondhi@yahoo.com
Fasisme, masih adakah? bukankah sudah terkubur dan hanya tinggal dalam ingatan atau hanya ada di dalam buku sejarah! Mengapa mesti takut? Salam kenal ya mas? Mas Deni S. J. ini dari UNNES Jurusan apa ya....!? Bagaimanapun saya senang membaca tulisan Anda!
Rabu, 29 September 2010 - 20:47
rain rose - rainrosidi@hotmail.com
saya setuju dengan Bung Halim HD, justru di media internet yg interaktif, fasisme media tereduksi. Btw, devi setiawan kayaknya bukan mbak, tapi mas.
Rabu, 29 September 2010 - 20:26
halim hd. - halimhade@yahoo.com
pertanyaan bagus dari @joseph. perlu dijawab. @oktagard: fesbuk itu media. dan fasisme bisa masuk ke mana saja. albert speer menciptakan tata ruang yang 'memukau' yang menjadikan manusia menjadi massa dan digiring kedalam 'nationalization' di jaman hitler. dan ingat, pada jakman utu pula, loudspeaker digunakan di mana-mana untuk memberikan insytruksi. secara singkat saya ingin menyatakan, bahwa ada hubungan kuat antara media massa dengan politik, jenis dan ideologi apapun juga. yang mungkin perlu dipertanyakan disini, jika kita melacak sejarah fasis pada masa lampau, media massa, seperti radio, loudspeaker dsbnya, berjalan satu arah. naah, sementara fesbuk dua arah dan bersifat interaktif. disini kajian di atas perlu diuji kembali. dan konteks di indonesia, loundspeaker yang selalu diperdengrkan oleh suatu keyakinan membentuk sejenis rejim keyakinan, betapapun itu hanya untuk penganutnya.
Rabu, 29 September 2010 - 10:39
joseph mayangkara - josephmayangkara@gmail.com
Numpang tanya: apakah yang anda maksud dengan budaya asli Indonesia? Duapuluh tahun lalu pun facebook bukan budaya asli Amerika atau bangsa manapun karena belum ada.Selain itu, kalau salah satu ukuran hubungan semu dari dunia maya adalah tiadanya kontak fisik, maka bukankah telpon juga begitu? Orang2 di Jakarta bisa bertahun2 tidak saling ketemu fisik, hanya bertelpon2. Jarang atau tidak ada cerita tentang nongkrong-ngobrol berjam2 di angkringan.
Rabu, 29 September 2010 - 08:25
praptini wiyono - Qbisa_sukses@yahoo.co.id
q setuju dg pendapat mbk devi ... ambil positif ny aja....yg buruk d buang aja...hehehe
Rabu, 29 September 2010 - 07:42
yoesoef olla - yoesoefolla@yahoo.co.id
siap gak kita menerima perubahan dalam lingkungan sosial kita,sepertinya kebudayaan yang terserang pertama kali,sadar atau tidak,cepat atau lambat dunia akan menjadi satu culture aitu undercontrol...:] nyambung gak ya he he
Selasa, 28 September 2010 - 17:56
devi setiawan - videkur@yahoo.co.id
ambil yg baik & buanglah yg buruk
Selasa, 28 September 2010 - 17:40
oktagerard - oktagerard@gmail.com
nice writing. gak nyangka juga facebook bisa dikaitkan dengan budaya fasisme. saya setuju dengan identitas semu yang facebook hasilkan. akrab pun jadi semu karena perjumpaan fi fb itu virtual. jika fb=fasisme, karena dehumanisasi intervensi teknologi bisa jadi benar adanya. Memang unsur manusiawi sedikit demi sedikit digerogoti oleh teknologi. Memajukan ideologi Pancasila untuk membendung fasisme itu pun perlu disiasati pula dengan medium teknologi. jujur saya akui generasi tahun 90an sudah sangat akrab dengan teknologi. strategi pendekatan teknologispun rasanya perlu untuk bendung fasisme facebook.
Selasa, 28 September 2010 - 17:18
Jaya Pattra Ditya - jayapattra@gmail.com
sebagai kajian dari hari ini dan tahun2 sebelumnya mungkin saja (euforia pertemanan maya), tapi dari hari ini dan mendatang... lihatlah bagaimana antar jejaring sosial, antar media, antar 'blogging' saling memberi hati (like/jempol), berbagi (share), bahkan berkicau (tweet) melalui interaksi plug in yg semakin mudah di aplikasikan dan memberi 'fenomena baru' viral merketing
Selasa, 28 September 2010 - 16:05
eric gunawan - ericwu2829@gmail.com
beberapa bagian dalam tulisan ini saya sependapat, khususnya tentang identitas semu. Jika kita melihat dari sudur fasisme memang demikian adanya, hanya saja perlu diingat juga bahwa dalam beberapa hal facebook sangat membantu persahabatan. misalnya bertemunya teman-teman SD. walaupun tentu saya saya paham bahwa semua itu bisa saja semu, hanya paling tidak kita menjadi terjalin kembali silatuhrahmi dengan kawan-kawan. selain itu, ada saat dimana facebook memudahkan kita untuk mengontak teman yang sulit dihubungi dengan HP. contohnya ketika saya di Perancis, fasilitas yang mudah untuk mengontak teman-teman di indonesia bukanlah HP atau telepon, atau email melainkan facebook. karena kebanyak teman di Indonesia online facebook. Tulisan ini menarik dan membuka wawasan. Demikianlah pendapat saya.
Selasa, 28 September 2010 - 11:50
Iik S Giyanti - iiktirta@yahoo.co.id
hehee,,,mau koment apa ya? Haduuh...tertarik sekali sy baca ini dan memang betul spt itu, jadi ga bisa komentar deh. Sip, hebat!!!
15-04-2014
Simposium INISIATIF WARGA DALAM SENI DAN SAINS
di Auditorium Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Jl. Flora, Bulaksumur, Yogyakarta
15-04-2014
Pembukaan NALARROEPA Ruang Seni dan Pameran Seni Rupa MJK club
di Karangjati RT.05, RW. XI. Tamantirto, Kasihan, Bantul, Yogyakarta
04-04-2014
Presentasi dan pemutaran film "Rangsa ni Tonun"
di Auditorium Museum Sonobudoyo, Jl. Trikora 6, Yogyakarta
03-04-2014
Diskusi Publik "Open Source"
di Klinik Kopi. Jl. Affandi/Gejayan, (Belakang TB. Toga Mas Yogyakarta)
02-04-2014
Pemutaran Film: “David Wants to Fly”
di Ruang Pertunjukan (Lt. 2), Kedai Kebun Forum, Yogyakarta
01-04-2014
LAUNCHING LAGU "JOGED-E PENGUOSO"
di Kampung Edukasi, Watu Lumbung, Bukit Parangtritis
31-03-2014
Bedah Buku "Soeka-Doeka di Djawa Tempo Doeloe"
di Balai Soedjatmoko, Jl. Slamet Riyadi, Solo/Surakarta
30-03-2014 s/d 20-04-2014
Pameran “Tanah to Indai Kitai” (Tanah adalah Ibu Kita):
di ViaVia Café, Jl. Prawirotaman 30 Jogjakarta
30-03-2014 s/d 20-04-2014
Pameran “Tanah to Indai Kitai” (Tanah adalah Ibu Kita): Potret Kehidupan Dayak Iban Sui Utik, Kalbar
di ViaVia Café, Jl. Prawirotaman 30, Jogjakarta
29-03-2014
WORKSHOP: PEMBINAAN KREATIVITAS DALAM PENDIDIKAN SENI DAN BERKENALAN DENGAN BAHASA RUPA
di Auditorium Lantai 6 Gedung B, Universitas Widyatama, Jl. Cikutra No. 204A Bandung 40125
read more »
Minggu, 13-04-2014
Upacara Tradisional, Kohesi Sosial, dan Bangunan Kebangsaan
oleh Ayu Sutarto
Selasa, 01-04-2014
Membela dengan Sastra (Sebuah Pidato Kebudayaan)
oleh Ahmad Tohari
Rabu, 26-03-2014
Warisan Demokrasi Gorontalo
oleh Hasanuddin
Selasa, 18-03-2014
Demokrasi Berbudaya Minahasa
oleh Jultje Rattu
Kamis, 13-03-2014
Mengejar Penonton Drama Musikal
oleh Sri Bramantoro Abdinagoro
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
Grants for Media Art 2014 of the Foundation of Lower Saxony at the Edith-Russ-Haus, Germany
read more »
16/04/2014 22:51 | abercrombie deutschland | Apples iPad wird den Markt für Tablet Computer nach Expertenschätzungen noch auf Jahre beherrschen. Einzig das Google Betriebssystem Android werde sich als starker Wettbewerber etablieren, prognostizierten die Marktforscher von Gartner. abercrombie deutschland http://nanosmat.org/hifsxs/afde.asp
16/04/2014 17:06 | burberry handtaschen | ich kann mich auch garn nicht mer kontzentrieren, und schlaffen fellt mir schon laange sehr schwer burberry handtaschen http://www.handtaschendeutschlandshop.com/index.php?main_page=index&cPath=16_28
07/04/2014 00:46 | abdul aziz | mohon bantuan untuk penerbitan buku topeng blantek
03/04/2014 21:13 | Aprimas | Selamat dan Sukses untuk "Guru" Seni Rupa di seluruh Indonesia, Smoga kedepan semakin kreatif, produktif dan inovatif, sehingga dapat sebagai acuan dan pacuan kreativitas bagi generasi masa epan,...Salam
15/03/2014 18:09 | Lilik Indrawati | Ok. I will tray... matur nuwun Pak Kuss.
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id