HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Rabu, 27 Juli 2011 - 07:06
The Window of Yogyakarta
oleh G. R. Lono Lastoro Simatupang
Lukisan karya Robi Fathoni, "Berbagi" ukuran 180x150cm, pencil, acrylic on canvas, 2011. (foto: dekumentasi seniman)
Logika “Jendela”

Jendela merupakan bingkai penghubung bagian dalam dan luar sebuah bangunan. Lewat jendela orang yang berada di dalam bangunan melihat luasnya dunia luar; dan sebaliknya, lewat jendela pula orang di luar bangunan melongok untuk melihat ruang, penghuni, isi dan kegiatan di dalam bangunan. Jendela, dengan demikian, merupakan ruang perjumpaan atau interaksi – paling tidak jumpa pandang sekilas. Pada saat yang sama, jendela senantiasa bersifat membatasi. Apa yang bisa dilihat dan yang tidak bisa dilihat orang dari dalam maupun dari luar bangunan dibatasi oleh ukuran, letak, dan transparansi jendela. Biasanya penghuni bangunan membatasi apa yang boleh dilihat atau terlihat oleh orang di luar bangunan lewat jendela.

Mengikuti kiasan “The Window of Yogyakarta” yang digunakan Taman Budaya Yogyakarta (TBY) untuk mengidentifikasi diri dan peran yang diembannya, tulisan ini akan membatasi tinjauan pada peran TBY dalam pengelolaan dan pengembangan seni-budaya di propinsi yang istimewa ini.

Kalaulah TBY dimaksudkan sebagai “jendela” Yogyakarta, maka tinjauan ini dapat diawali dengan menimbang ulang wilayah administratif pemerintahan yang dicakup dalam istilah ‘Yogyakarta.’ Tinjauan akan dilakukan dalam kaitannya dengan Otonomi Daerah (Otoda) dan kebijakan desentralisasi yang tengah berlangsung.

TBY dalam Era Otonomi Daerah

Sebagai salah satu organ pemerintahan, kinerja TBY dipengaruhi oleh dinamika tata organisasi dan tatakerja pemerintah. Setelah sejak akhir tahun 1970an berkedudukan sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Direktorat Jendral Kebudayaan yang berkedudukan di Jakarta, sejak sekitar satu dasa warsa terakhir TBY diposisikan sebagai UPT Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi DIY.

Perubahan posisi TBY dalam struktur pemerintahan tersebut memang tidak mengubah cakupan wilayah administratif yang dikelola TBY, yakni wilayah administratif propinsi DIY. Namun demikian perubahan posisi tersebut mempunyai implikasi jauh lebih besar dalam bidang pengelolaan dan pendanaan kegiatan. Kalau dulunya dana pengelolaan dan kegiatan TBY bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dialokasikan untuk Direktorat Jendral Kebudayaan; sejak dipindah menjadi UPT Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi DIY maka sumber dana pengelolaan dana dan kegiatan TBY adalah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Propinsi DIY. Dengan demikian alokasi dana untuk TBY semakin kecil.

Dalam era Otoda, negara memberikan pada pemerintah daerah tingkat II (kabupaten dan kotamadya) kewenangan untuk mengelola keuangan serta kegiatan pemerintahan dan pembangunan di wilayah administratifnya secara otonom. Akses langsung pemerintah tingkat I (propinsi) terhadap wilayah geo-politiknya semakin menyempit – sementara akses langsung pemerintah daerah tingkat II semakin meluas. Dampaknya bagi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi DIY (dan juga TBY) jelas: lembaga ini secara legal-administratif telah dipangkas otoritasnya terhadap wilayah kabupaten/kotamadya. Kenyataan ini antara lain ditandai dengan munculnya sejumlah Taman Budaya di tingkat pemerintahan Kabupaten di DIY. Lantas apa ‘pekerjaan’ Dinas Kebudayaan di tingkat propinsi, di mana wilayah kerjanya?

Dalam tatanan Otoda seperti di atas, kiranya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi DIY perlu lebih menempatkan diri sebagai fasilitator dan koordinator bagi pengelolaan dan pengembangan seni-budaya yang hidup dan tumbuh di wilayah administratif DIY.

Peran Fasilitasi & Koordinasi TBY

Jelas kiranya bahwa negara/pemerintah bukan pemain tunggal atau pun pemain utama kehidupan seni-budaya. Selain pemerintah tingkat nasional, propinsi maupun kabupaten/kotamadya, pemangku kepentingan seni-budaya meliputi seniman (individual maupun kelompok), lembaga pendidikan seni formal maupun non-formal (sanggar), pelaku bisnis dan industri, partai politik, lembaga agama, media massa cetak dan lembaga penyiaran audio maupun audio-visual, serta khalayak penikmat seni-budaya. Masing-masing dari mereka memiliki kepentingan terhadap seni-budaya, dan telah menjalankan peran masing-masing untuk menghidupi seni-budaya. Bisa dikatakan, tanpa peran serta pemerintah pun kegiatan-kegiatan seni-budaya akan tetap dilangsungkan oleh berbagai pemangku kepentingan (stake-holders) yang hidup dan bekerja dalam masyarakat. Bahkan tanpa kehadiran peran pemerintah pun sebagian pemangku kepentingan seni-budaya DIY terbukti telah mampu berkiprah dalam percaturan seni-budaya lingkup dunia.

Dalam konteks seni-budaya seperti itu, peran pemerintah propinsi DIY – termasuk TBY – adalah sebagai pihak yang mengupayakan dan menjamin kemaslahatan seni-budaya setinggi mungkin bagi warga DIY seluas-luasnya. Dengan kata lain, pemerintah/negara mengemban tugas untuk mengupayakan demokratisasi seni-budaya serta menjamin keberlangsungan maupun pengembangannya.

Peran fasilitasi yang perlu dikembangkan pemerintah Propinsi DIY adalah penciptaan kondisi-kondisi serta penyediaan sarana/prasarana yang kondusif bagi kelangsungan dan dinamika aktivitas seni-budaya secara berkelanjutan oleh berbagai komponen masyarakat. Peran tersebut menjangkau ke seluruh rangkaian proses seni-budaya, dari hulu sampai hilir: sejak dari tahap penyiapan sumber daya seni-budaya, tahap proses kreatif seni-budaya, hingga tahap distribusi dan konsumsi seni-budaya.

Dalam menjalankan demokratisasi seni-budaya pemerintah perlu menimbang ulang prinsip keadilan distributif yang “membagi kue dalam potongan sama besar untuk semua pihak.” Keadilan proporsional dengan menetapkan prioritas berdasarkan tahap proses maupun berdasarkan kondisi bidang seni-budaya yang akan difasilitasi merupakan prinsip lain yang perlu dipertimbangkan. Tentang kondisi bidang seni-budaya yang akan difasilitasi, patut dipertimbangkan apakah bidang tersebut sudah difasilitasi oleh pemangku kepentingan (stake-holders) lain, misalnya industri, ataukah belum mendapat fasilitas dari berbagai pihak. Prioritas semacam ini patut dilakukan demi menjaga keutuhan dimensi budaya. Pemberian fasilitas berlebih pada suatu bidang seni-budaya tertentu hanya akan menghasilkan ketimpangan budaya dan iri-hati. Seleksi atau pemberian prioritas seyogyanya juga dilakukan dengan mempertimbangkan keluasan dampak dan keluasan masyarakat yang terlibat di dalamnya.

Juga tergambar dari paparan sebelumnya bahwa peran fasilitator yang diemban pemerintah propinsi menghendaki adanya koordinasi antar satuan wilayah administratif pemerintahan (propinsi/kabupaten/kotamadya) dan koordinasi lintas sektoral (bidang pemerintahan). Pemerintah Propinsi DIY telah menempatkan pendidikan, kebudayaan, dan pariwisata sebagai tiga pilar utama penopang kehidupan masyarakat di propinsi DIY. Jika hendak konsisten terhadap kebijakan yang pernah diambil, semestinya pemerintah Propinsi DIY menempatkan ketiga pilar tersebut sebagai pusat sinergi berbagai sektor pemerintahan.

Saya memahami sinergi sebagai kerjasama dua atau lebih elemen yang diharapkan mampu mendatangkan hasil lebih dibandingkan dengan hasil yang biasanya dicapai masing-masing elemen ketika bekerja sendiri-sendiri. Pengertian di atas mengasumsikan adanya lebih dari dua elemen yang relatif otonom, dengan tujuan, dan program kerja masing-masing. Juga diandaikan ada bagian dari tujuan dan mekanisme kerja elemen-elemen tersebut yang saling berkelindan (intersect), yang menjadi tujuan bersama masing-masing elemen. Ruang sinergitas, dengan demikian, adalah ruang kelindan tersebut. Hasil lebih yang diperoleh adalah capaian dalam ruang kelindan yang tidak dapat diraih oleh masing-masing elemen apabila dikerjakan sendiri oleh elemen tersebut karena adanya tujuan dan mekanisme kerja masing-masing. Agar sinergi dapat menuai hasil lebih, setiap elemen (sektor/bidang pemerintahan) harus memberikan kontribusi masing-masing dan memberi ruang toleransi bagi masuknya tujuan dan mekanisme kerja yang dibawa oleh sektor yang lain.

Pengelolaan dan pengembangan seni-budaya, dengan demikian, selayaknya tidak menjadi urusan Dinas Kebudayaan belaka. Pengelolaan dan pengembangan seni-budaya semestinya juga merupakan urusan sektor-sektor pemerintahan yang lain, seperti Dinas Pendidikan, Dinas Perekonomian, Industri dan Perdagangan, Dinas Pariwisata, dan sebagainya. Dinas Kebudayaan tidak boleh hanya menghidupi sektor pendidikan, perekonomian, industri dan perdagangan, atau sektor pariwisata dan agama. Sektor-sektor tersebut pun harus pula menghidupi sektor seni-budaya. Koordinasi dan sinergi menuntut pembiayaan bersama lintas sektoral.

Peran koordinatif Dinas Kebudayaan Propinsi DIY dapat dilakukan dengan cara menciptakan peluang-peluang bagi terjadinya interaksi dan kerjasama antar kabupaten, antar propinsi, bahkan kerjasama internasional. Kerjasama dapat dibangun dalam bidang pendidikan, penyelenggaraan kegiatan seni-budaya, maupun dalam kegiatan promosi. Hal-hal yang sudah tertangani di tingkat kabupaten tidak perlu banyak dicampur-tangani oleh lembaga di tingkat propinsi. Sebaliknya, hal-hal yang belum diperhatikan atau terabaikan di tingkat kabupaten/kotamadya selayaknya menjadi perhatian dan tanggungjawab pemerintah propinsi. Seni tradisi daerah yang pengembangannya sudah dikelola pemerintah daerah kabupaten mungkin tidak perlu diprioritaskan, sementara aktivitas dan bentuk seni yang tumbuh lebih belakangan, yang potensial namun belum mengakar dapat lebih diutamakan.

Angan-angan Tentang TBY Di Masa Depan

Pemikiran di atas membawa saya pada angan-angan akan keberadaan TBY sebagai sebuah unit koordinatif pemerintahan Propinsi DIY yang lintas sektoral sekaligus lintas wilayah administrasi  - yang menggarap seni budaya sebagai salah satu wujud sinergi kehidupan propinsi ini. Di dalamnya terdapat sektor seni-budaya, pendidikan, dan pariwisata sebagai komponen utamanya; tetapi juga memuat sektor ekonomi, perindustrian dan perdagangan, serta sektor lain. Masing-masing komponen menghidupi TBY, menaruh sebagian harapan mereka di sana, serta berkomitmen untuk meraih nilai lebih lewat kerjasama tersebut. Dengan kata lain “jendela” ini menampakkan taman yang berisi keserasian antar sektor dan wilayah administratif pemerintahan.

Angan-angan ini bukannya tak berdasar. Selain pemikiran di atas, angan-angan ini juga dibangun dari pengamatan atas sejumlah kegiatan yang telah dilaksanakan TBY selama ini. Salah satunya adalah program pendidikan seni rupa bagi anak-anak. Jelas kiranya, bahwa kegiatan ini sejatinya tidak melulu merupakan wilayah kerja dan tanggung jawab Dinas Kebudayaan. Dinas Pendidikan pun berkepentingan di dalamnya. Sayangnya, kegiatan tersebut tampaknya masih dipandang sebagai ‘milik’ TBY semata. Saya bayangkan alangkah indahnya bila program semacam ini didanai dan dikelola bersama antara Dinas Kebudayaan dan Dinas Pendidikan.

Kegiatan sejenis pernah pula dilakukan Taman Budaya Riau, Pekanbaru. Di sana mereka menyelenggarakan acara rutin berupa Pergelaran Seni Tradisi (Pensi) yang wajib ditonton oleh siswa-siwi SMA setempat. Siswa-siswi tersebut diberi tugas oleh sekolah masing-masing untuk mengidentifikasi dan mengulas pergelaran yang mereka tonton. Beberapa rekan staf Taman Budaya Riau mengatakan bahwa program tersebut merupakan bentuk kerjasama mereka dengan Dinas Pendidikan setempat.

Bila hal semacam itu dilakukan di TBY, beban biaya pementasan kelompok-kelompok seni pertunjukan (entah tradisi maupun baru) dapat sedikit terbagi. TBY dan Dinas Pendidikan dapat melakukan koordinasi untuk menentukan bentuk-bentuk kesenian yang dipandang perlu diperkuat kehadirannya di publik. Subsidi dana yang ditopang bersama oleh Dinas Kebudayaan dan Dinas Pendidikan bagi kelompok seni terpilih bukan hanya akan mampu meringankan beban biaya pementasan/pameran kelompok/pelaku kesenian. Pada saat yang sama, kegiatan apresiatif seperti itu juga merupakan salah satu bentuk pemeliharaan minat dan ketertarikan publik untuk mengenal dan menikmati seni. Pentingnya pengelolaan (manajemen) penonton seperti itu semakin disadari oleh beberapa kelompok seni pertunjukan maupun seni rupa akhir-akhir ini.

Saya juga membayangkan betapa bagusnya bila Diperindag Propinsi DIY dan Dinas Pariwisata bersedia mendanai bersama kegiatan peningkatan ketrampilan dan kreativitas perajin dengan melibatkan perupa dan melaksanakannya dalam koordinasi dengan TBY. Bila hal-hal semacam itu dapat terlaksana secara ajeg, bukan mustahil taman kita semakin banyak dinikmati warga masyarakat DIY dan pada gilirannya kelak akan dikunjungi oleh wisatawan luar daerah dan luar negeri.

Sementara itu, saya juga mengangankan sinergi antara TBY dengan lembaga pendidikan tinggi dan media massa untuk membangun dokumentasi dan informasi yang akurat dan terpercaya tentang aktivitas-aktivitas seni-budaya yang terus berlangsung dari hari ke hari di berbagai pelosok wilayah DIY. Dalam era cyber dewasa ini TBY seyogyanya membuka pula jendela dalam dunia maya. Namun, pengembangan jendela di dunia maya perlu ditempatkan pada porsi yang tepat. Janganlah kiranya pembuatan jendela virtual memuaskan seluruh hasrat orang yang ingin melongok ke dalam ruang, sehingga mereka tidak lagi merasa perlu mengunjungi ‘taman’ dalam dunia nyata. Mengikuti “logika” jendela: sebuah jendela selalu membatasi apa yang terlihat dan apa yang tersembunyi.

Akhirnya, agar itu semua dapat terwujud, saya berangan-angan Pemerintah Propinsi DIY dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah DIY dalam waktu yang tidak terlalu lama menelorkan kebijakan kebudayaan yang kondusif bagi semakin kokohnya pilar kehidupan propinsi ini. ***

(Naskah ini sudah dipresentasikan dalam acara FGD (Focus Group Discussion) yang diselenggarakan oleh Majalah Mata Jendela dan Dewan Kebudayaan Yogyakarta, 9 April 2011. Naskah ini juga telah dimuat di majalah Mata Jendela edisi khusus "Reposisi Taman Budaya (Yogyakarta)" 2011)
*) Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB), UGM, Yogyakarta.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Jum'at, 09 Januari 2015 - 06:03
chaba - darel233455@gmail.com
UQCGmf http://www.FyLitCl7Pf7kjQdDUOLQOuaxTXbj5iNG.com
Sabtu, 09 Agustus 2014 - 21:46
Abercrombie Fitch Hoody Men - **2014canada@hotmail.com
:: Indonesia Art News :: Abercrombie Fitch Hoody Men http://www.abercrombiecanada.ca/abercrombie-fitch-hoody-men-c-23 :: Indonesia Art News ::
Minggu, 18 Desember 2011 - 13:29
GUNTUR BISOWARNO - guntur.bisowarno@creativosolution.com
MenghubungkaN TBY Dengan KUNCI BOROBUDUR..DAN JOGLO SEMAR ASIK
Minggu, 18 Desember 2011 - 13:20
Guntur Bisowarno - guntur.bisowarno@creativosolution.com
KUNCI BOROBUDUR dan JOGLO SEMAR
Minggu, 31 Juli 2011 - 00:36
muhammad rizky - kiky_art@yahoo.com
wah, harusnya tulisan ini harusnya disebarluaskan dan dipresentasikan juga di lingkup nasional khususnya surabaya dan jawa timur, yg dijadikan moment seminar 3 hari utk membahas tulisan di atas. karena kurang cukup jika hanya 2-3 jam saja. tulisan ini butuh aktualisasi yg disertai eksekusi (penegasan) yg baik. trims ... apik tenan ... salam budaya ...
05-08-2015
Diskusi Kejahatan dalamnSeni Rupa: Pemalsuan Lukisan, Fakta dan Pembuktian
di Jogja Gallery, Jl. Pekapalan 2, Alun-alun Utara, Kraton, Yogyakarta
04-08-2015
Seminar dan sarasehan Pancamala KPK: Dari Gentar Menjadi Tegar
di Ruang Seminar Koendjono Gedung Pusat Universitas Sanata Dharma Lt. 4 – Kampus Mrican, Yogyakarta
02-08-2015
URBAN SPIRITUALITY
di Sudamala Suites & Villas Jl. Sudamala, No. 20, Pantai Sanur 80227
01-08-2015 s/d 07-08-2015
"Masuk Ke Akar" Pameran Patung Tunggal Sissel Almgren (Swedia)
di Desa Wisata Kasongan, Kasongan, Bantul, DI Yogyakarta, Kota Yogyakarta 55184
31-07-2015 s/d 01-08-2015
Drama Komedi Teledor IMPIAN DI TENGAH MUSIM
di GEDUNG KESENIAN RUMENTANG SIANG Jl Baranang Siang no 1 Kosambi BANDUNG
30-07-2015 s/d 17-08-2015
TREND SPOTTERS? The Essential Names in Spanish Fashion
di Galeri Nasional Indonesia, Jl. Medan Merdeka Timur 12 Jakarta Pusat
11-07-2015
Architecture For Kids 2015
di Architecture For Kids Jl. Hayam Wuruk No. 159 Denpasar - Bali P. 62 361 242 659
23-04-2015
Seminar Sesrawung PKKH UGM: “Heterotopia dan Ekspresi Artistik, Seni dan Penataan Arsitektur Ruang Kota yang Manusiawi”
di Hall PKKH UGM, Bulaksumur
19-04-2015
APRIL MOOD
di Rumah Seni Sidoarum, Jl. Garuda 563, Krapyak RT 07, RW 18, Sidoarum, Godean, Sleman, Yogyakarta
17-04-2015 s/d 17-05-2015
BIOGRAFI VISUAL "OKSIGEN JAWA"
di Galeri Soemardja, ITB
read more »
Kamis, 30-07-2015
Jejaring Kerja Tanpa Negara
oleh Kuss Indarto
Minggu, 12-07-2015
Pelukis Dullah
oleh Fadjar Sutardi
Kamis, 23-04-2015
Seniman Karbitan
oleh Aris Setyawan
Minggu, 12-04-2015
Dinamika Seni Rupa (di) Pasuruan
oleh Wahyu Nugroho
Jum'at, 27-03-2015
Pertaruhan Artistik dalam “Tiga Karakter, Tiga Warna”
oleh Kuss Indarto
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
Kompetisi UOB Painting of the Year 2015
BANDUNG CONTEMPORARY ART AWARDS (BaCAA) #04
KOMPETISI SENI LUKIS, MANDIRI ART AWARD 2015
GUDANG GARAM INDONESIA ART AWARD 2015
Dana SAM untuk Seni dan Lingkungan
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
read more »
29/07/2015 03:36 | mr mike | Halo, Saya boxim Mr. Samson, pemberi pinjaman pinjaman pribadi yang memberikan pinjaman. apakah Anda membutuhkan pinjaman untuk melunasi utang Anda atau Anda membutuhkan pinjaman untuk meningkatkan bisnis Anda? Anda telah ditolak oleh Bank dan lainnya badan keuangan? Apakah Anda membutuhkan pinjaman konsolidasi atau hipotek? pencarian lebih karena kami berada di sini untuk membuat semua sejarah masalah keuangan Anda. Kami memberikan pinjaman kepada individu yang membutuhkan keuangan Membantu, yang memiliki kredit buruk atau membutuhkan uang untuk membayar tagihan, untuk berinvestasi dalam bisnis pada tingkat 2%. Saya ingin menggunakan media ini untuk memberitahu Anda bahwa kami memberikan bantuan yang dapat diandalkan untuk penerima dan akan bersedia untuk menawarkan pinjaman. Jadi hubungi kami hari ini via email di: mikeloancompany856@gmail.com
06/07/2015 12:26 | mardiyanto ghani art | Mardiyanto ghani art..ahmadghani2008@gmail.com Selalu semangat berkarya..!!
06/05/2015 16:11 | EkanantoBudiSantoso | to Pa Andre Galnas,kapan kita reuni mamer bareng temen2x? biar wacananya "dream come true gitu,art new biar juga makin seru kita undang konco2x sy nulis disini juga,thanks att.
06/05/2015 16:03 | EkanantoBudiSantoso | Sy butuh info lomba lukis Mandiri,sebenarnya kompetisi bukan untuk cari "jawara,jati diri dan silaturakhmi perupa sangat perlu"dikembangbiakan biar ngga ego,ah.
10/02/2015 23:32 | icha | saya mw jual brang py kkek msa penjajahan di ambon.... samurai bs ditekuk pjang bget... ada belati kecil beserta bendera jepang msa lampau... ada tulisan di sebuah uukuran kertas seperti kulit binatang tpi tulisan jepang... mhon bntuan nya mau jual saja butuh ug urgent
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id