HOME     NEWS     EVENTS     ARTICLES     DIRECTORY     BOOKS     OPPORTUNITIES  
   
Sabtu, 04 Juni 2011 - 09:08
Seni Kaligrafi dan Spiritualitas Seni Islam Nusantara
oleh Fajar Sutardi
Sebuah kaligrafi dengan yang membentuk citra logo perusahaan telekomunikasi raksasa AS, Apple. (foto: www.dwanikraf.com)
Pengawal Kalam

Mempelajari huruf Hijaiyah, dalam arti belajar membaca dan menulis huruf Arab bagi umat Muslim, merupakan suatu keharusan yang bernilai ibadah. Ernst Kuhl, peneliti Jerman yang tekun meneliti masalah kaligrafi Arab, pernah menuliskan tentang pentingnya mempelajari huruf Arab yang tertuang dalam bukunya berjudul Islamische Shcrifkunst. Annemarie Schimmel, seorang peneliti Kaligrafi juga menyatakan senada, bahwa setiap Muslim pasti mengakui betapa pentingnya abjad Arab, karena huruf Arab dipergunakan sebagai media pengungkapan ayat-ayat abadi Allah.

Huruf Arab, oleh Tuhan disahkan sebagai huruf untuk menuliskan wahyuNya, diterima dengan baik oleh Nabi Muhammad. Huruf Arab berfungsi sebagai wahana pengungkapan tentang keagungan, keindahan dan kesempurnaan firman Ilahi. Melalui huruf Arab inilah, sang Nabi memerintahkan kepada para sahabat setianya, untuk menuliskan wahyu yang keluar dari bibir Nabi tersebut, dengan kalam dan tinta terbaiknya ke media pelepah daun kurma, daun papyrus, kulit-kulit binatang, bebatuan dan tulang-tulang yang disucikan.

Para penulis wahyu agung dan suci, bekerja sepanjang malam dan sepanjang hari  dengan semangat ibadah yang tinggi untuk mengikuti sang Nabi, terutama saat-saat Allah memberikan wahyu melalui malaikat Jibril yang diterima Nabi Muhammad. Para penulis awal (para kaligrafer wahyu) mendapatkan kemampuan, kelihaian luar biasa dan oleh sang Nabi mereka itu mendapat penghargaan dari Allah, setiap huruf yang ditulis mendapatkan sepuluh kebaikan.

Usaha penulisan wahyu tak kenal lelah oleh para sahabat Nabi, seperti Zaid bin Tsabit, Muaz bin Jabal, Abdullah bin Mas’ud, Abdullah bin Zubair, Said bin ‘Ash, Abdurahman bin Haris menjadi cikal bakal awal mulanya perkembangan seni khath (seni kaligrafi Arab). Mereka berlomba-lomba untuk menjadi penulis terbaik dan utama, dengan mengembangkan tipografi yang hidup dalam masyarakat di sekitar jazirah Arabia waktu itu. Dari “hunting” kelapangan yang dilakukan oleh para kaligrafer awal, kemudian muncul berbagai tipografi Arab yang indah, seperti huruf dengan gaya Naskhi, Tsulusi, Riq’i, Farisi, Dewani, Dewani Jally, Kufi dan sebagainya. Jenis gaya Naskhi paling banyak digunakan untuk menulis mushaf Quran dan naskah-naskah berbahasa Arab lainnya seperti majalah atau surat kabar. Bentuk aksara ini tampak sangat jelas, sederhana, dan mudah dibaca. Jenis gaya Tsulutsi sering digunakan untuk judul-judul naskah, dekorasi, lukisan, desain dan sebagainya. Bentuk hurufnya tampak anggun dan berwibawa. Jenis gaya Riq’i sangat sederhana dan praktis, sehingga anak sekolah atau wartawan yang menggunakan bahasa Arab banyak yang menggunakan aksara ini untuk mencatat. Jenis gaya Diwani sangat lembut dengan garis-garis melengkung dan meliuk-liuk, namun tampak jelas. Jenis aksara ini banyak digunakan untuk surat-surat resmi, lencana, tulisan di kantor-kantor, dan sejenisnya. Jenis gaya Diwani Jali hampir mirip dengan jenis aksara Diwani namun terdapat perbedaan pada pemberian syakal, hiasan, titik-titik rata, di antara lekukan-lekukan hurufnya. Jenis aksara ini jarang digunakan kecuali dalam dekorasi. Jenis gaya Kufi sangat indah meskipun bentuk huruf berupa garis lurus vertikal, horisontal dan diagonal dengan sedikit lengkungan. Jenis huruf ini banyak digunakan untuk penulisan judul buku, dekorasi, atau lukisan. Jenis aksara Farisi/Taliq berkembang di Iran/Persia. Huruf berupa goresan garis tebal dan tipis, sangat jelas dan sederhana. Jenis huruf ini banyak digunakan oleh masyarakat Iran dan sekitarnya, hingga saat ini untuk berbagai macam penulisan formal maupun informal.

Para master kaligrafi pada abad berikutnya muncul untuk menyempurnakan para pendahulunya, sebut nama Ibnu Muqlah, Ibnu Bawwab, Yusuf Al-Mustas’simi, Hamdullah, Hafidz Usman, Mustofa Al-Raqim,Hamid Al-Hamidi, Nadhif Sami, Ismail Haqqy, Abdul Qadir, Muhammad Amin dan sebagainya.

Ismail R. Faruqi, dalam bukunya Cultural Atlas of Islam mengatakan bahwa kaligrafi Arab, merupakan media ungkap nilai-nilai spiritual yang dipengaruhi oleh kesucian wahyu Al-Qur’an yang dilakukan para seniman Muslim di seluruh dunia. Sehingga, perkembangan kaligrafi dengan aneka ragam alirannya menyeruak kedalam berbagai bidang kehidupan kaum Muslim untuk kemanfaatan keindahan dan keilahian. Maka tidak aneh, kalau kaligrafi Arab ini memenuhi ruangan hidup kaum Muslim, seperti ruang Masjid, kitab ilmiyah, kitab Al-Qur’an, Kitab Hadits, makam, arsitektur gedung perkantoran, ekspresi keindahan yang berbentuk hiasan dinding, tughra, stempel, senjata perang, busana dan sebagainya.

Bukti semangat tersebut dapat kita lihat berbagai hiasan kaligrafi dan Arabeska di masjid Cordoba Spanyol, masjid Al-Hambra Granada, masjid Istambul Turki, Isfahan, Ibnu Toulon, Taj Mahal. Roger R, Garaudy, mengatakan bahwa budaya Qur’ani yang dikembangkan para kaligrafer Muslim, telah berpengaruh didada perupa Barat, seperti Kandinsky, Mondrian, Monet, Gauguin, Matisse yang juga mengembangkan nilai-nilai keilahian pada karya-karya mereka, utamanya setelah di Munich, Spanyol diselenggarakan pameran seni Islam tahun 1910.

Spiritualitas Seni dan Keindahan Kaligrafi Arab

Seni menulis indah atau kaligrafi diciptakan dan dikembangkan oleh kaum Muslim sejak kedatangan Islam, mendapat sambutan luar biasa. Hal ini berbeda bila dibandingkan seni Islam yang lain. Kaligrafi memperoleh kedudukan yang paling tinggi dan merupakan ekspresi spirit Islam yang sangat khas. Oleh karena itu, kaligrafi sering disebut sebagai 'seninya seni Islam' (the art of Islamic). Kualifikasi ini memang pantas karena kaligrafi mencerminkan kedalaman makna seni yang esensinya berasal dari nilai dan konsep keimanan. Oleh sebab itu, kaligrafi berpengaruh besar terhadap bentuk ekspresi seni yang lain. Hal ini diakui oleh para sarjana Barat yang banyak mengkaji seni Islam, seperti Martin Lings, Titus Burckhardt, Annemarie Schimmel, dan Thomas W Arnold. Kaligrafi adalah dasar dari seni perangkaian titik-titik dan garis-garis pada pelbagai bentuk dan irama yang tiada habisnya serta tidak pernah berhenti merangsang ingatan (dzikir) akan situasi hati. Kaligrafi adalah sebutan yang mengarah pada penjelmaan perasaan seseorang, melewati huruf. Penjelmaan jiwa duniawi yang secara terus-menerus memberi pesan spiritual.

Menurut Hossein Nasr, pokok dasar terpenting dalam kaligrafi misalnya: pertama, mengenai hubungan atau pertalian asal seni ini antara Ali (wakil par excellece dari esoterisme Islam setelah Nabi) dengan beberapa tokoh spiritual Islam pertama yang dipandang sebagai kutub tasawuf dalam Islam Sunni serta imam-imam Syafi’i. Kedua, kaligrafi ditulis oleh tangan-tangan manusia yang terus dipraktikkan secara sadar sebagai emulasi manusia terhadap Tindakan Tuhan, meskipun “jauh dari sempurna”. Ketiga, kaligrafi tradisional didasari oleh sebuah ilmu pengetahuan tentang seluk-beluk dan irama geometris yang tepat.

Keistimewaan lain kaligrafi dalam seni Islam adalah sebagai bentuk pengejawantahan firman Allah dan karya seni yang sangat berkaitan dengan Alquran dan Hadits. Karena, sebagian besar tulisan indah dalam bahasa Arab menampilkan ayat Alquran atau Hadits Nabi Muhammad SAW. Di samping itu, kaligrafi merupakan satu-satunya seni Islam yang dihasilkan murni oleh orang Islam sendiri, tidak seperti jenis seni Islam lain (seperti arsitektur, seni lukis, dan ragam hias) yang banyak mendapat pengaruh dari seni dan seniman non-Muslim. Karena itu, tidak mengherankan jika sepanjang sejarah, penghargaan kaum Muslim terhadap kaligrafi jauh lebih tinggi dibandingkan jenis seni yang lain.  

Para seniman Muslim, dalam mengungkapkan nilai-nilai Qur’aniyah tidak hanya berhenti pada tampilan keindahan garapan teksnya yang dekoratif, tetapi lebih jauh mereka mengembangkan teks ayat suci, menjadi kreasi-kreasi dan ciptaan yang mengacu pada alam dan kehidupan. Kamil Al-Baba, tokoh kaligrafer Muslim dunia sangat suntuk mengembangkan teks menjadi karya tematik, seperti teks Basmallah, dikreasikan menjadi seekor burung surga yang indah dan menawan, belum lagi bentuk-bentuk binatang-binatang yang diabadikan Al-Qur’an seperti, macam, gajah, unta dan terkadang berbentuk sosok manusia yang beribadah.

Sekali lagi, nilai ungkap yang digarap Kamil Al-Baba, telah membuka cakrawala kreativitas luar biasa bagi seniman-seniman Muslim diseluruh dunia sampai dewasa ini. Para perupa modern kaum Muslim, mulai dari Shakir Hasan Al-Sayid (Iraq), Hosen Zenderoudy (Iran), Kamal Boulatta (Yerusalem), Rashid Koraishi (Algeria), sampai Muhammad Saber Fiuzi (Iran) terus mengembangkan kemerdekaan seni kaligrafinya dengan semangat keilahian yang terdorong oleh nilai-nilai spiritualitas Qur’ani.

Para pemikir, ulama dan para budayawan juga ikut mendorong semangat para kaligrafer Muslim tersebut, misalnya konsep pemikiran dan pendapat Ali bin Abu Thalib seorang sahabat Nabi, yang akhirnya menjadi menantu Nabi, dalam suatu hari Ali bin Abu Thalib mengatakan, bahwa seseorang yang dapat memperindah seni tulisan (kaligrafi) melalui, gerak-gerik tangannya, dapat dikatakan bahwa seseorang tersebut juga terjaga kecerdasan hati dan pikirannya. Abu Hayyan al-Tawhidi, kaligrafer ulung mengatakan, bahwa seni tulisan tangan, merupakan hasil kepandaian dari tangannya yang indah, karena didorong adanya keindahan intelektualnya. Imam Ghozaly, ilmuwan Muslim, tokoh sufi, syaikhul Islam mengatakan bahwa seni dapat dijadikan media ungkap bagi keterkesanan hati seseorang dalam memahami, menikmati dan mensyukuri adanya alam dunia dan segala keindahannya, sehingga getaran fithrawiyahnya dapat hidup, peka dan terasah, untuk kemudian terbentuk rasa cinta (hub), damai (silm) dan bahagia. Ibnu Arabi, seorang pakar musik kenamaan dalam dunia Islam, mengatakan bahwa seni dapat membentuk dan menciptakan keharmonisan hubungan antara kemurnian hati dan nilai-nilai spiritualitas. Juga antara dapat menjaga hubungan yang bersifat realitas seni (seni hidup yang nyata) dengan komunikasi, ekspressi seni yang sesungguhnya hakiki dan sempurna. Muhammad Qutub, seorang ulama besar yang juga mendalami nilai kesenibudayaan Islam, mengatakan bahwa Seni Islam mengandung unsur ekspresi keindahan atas perwujudan fitrah manusia dalam memaknai wajah alam dan nilai hidup secara benar dan sempurna. Wahedudin Ali, pemikir masalah-masalah Islam dan kebudayaan, mengatakan bahwa, Seni Islam selalu mengupayakan kualitas-kualitas spiritual dan ekspresi ragawi yang tak berbentuk subyek dan tak ada ikatan periodik dan historiknya, tanpa batasan antara ruang dan waktu bagi seorang Muslim. Yaqut al-Mustashimi (seorang kaligrafer kenamaan pada masa Usman) mengungkapkan bahwa kaligrafi itu sebagai seni arsitektur rohani yang terwujud melalui pengolahan keadaan.

Berkenaan dengan beberapa pandapat para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa, seni bagi kaum Muslimin, adalah seni yang melahirkan sebuah kepribadian Muslim yang utuh antara lahir dan batinnya, antara dirinya dan kedekatannya kepada Allah (fitrah dan taqwanya). Inilah sebuah harapan agar kaum Muslim, dapat belajar seni kaligrafi untuk mewujudkan nilai-nilai keluhuran, kelembutan, kehalusan hati yang pada saatnya, akan digunakan dalam mengarungi hidupnya seseuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Qur’aniyah.

Bagaimana spiritualitas seni kaligrafi di Nusantara?

Di Nusantara, seni kaligrafi  telah berkembang mulai abad 12 M atau semenjak kerajaan Islam muncul dan berdiri dibeberapa wilayah Indonesia. Perjalanan  seni kaligrafi ke Timur Jauh, menjadikan seni ini berubah sesuai dengan tempat dan waktunya. Bila kita ambil contoh misalnya mulai dari wilayah Aceh, Medan, Padang, Pekanbaru, Bukitinggi, Bangka, Belitong, Palembang, Lampung, Bandung, Subang, Cilacap, Purworeja, Yogjakarta, Cirebon, Betawi, Surakarta, Demak, Kudus, Tuban, Surabaya, Madura, Mataram, Makassar, Ternate, Ambon, Maluku, Balikpapan, Banjarmasin, Palangkaraya dan  Menado seni kaligrafi berkembang dengan bentuk-bentuk kaligrafi biomorfik, zoomorfik. Kaligrafi biomorfik tersusun dalam bentuk figur mahluk hidup seperti manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan serta buah-buahan. Kaligrafi zoomorfik tersusun dalam bentuk figur hewan.

Wiyoso Yudho Seputra, menulis bahwa perkembangan seni kaligrafi di Nusantara memang tidak begitu menonjol sebagai karya seni kaligrafi seperti di Timur Tengah. Hal ini disebabkan karena penerapan kaligrafi tidak dominan sebagai seni tersendiri, tetapi melekat sebagai hiasan atau pengisi ruang bidang tertentu. Justru yang ditemukan adalah hiasan-hiasan mirip kaligrafi, atau sering disebut hiasan Arabeska. Ragam Hias Arabeska, ialah jenis hiasan yang menggambarkan obyek dan bentuk tertentu, pada bidang obyek tersebut oleh senimannya diisi dan dipenuhi tulisan Arab dengan tampilan indah, dengan teknik saling jalin menjalin simpai, lilit melilit tumpang tindih pada bisang yang dikehendaki. Di Indonesia, jenis hiasan Arabeska diwujudkan dengan bentuk obyek binatang, tokoh pewayangan, ragam tumbuh-tumbuhan dan sebagainya, karena adanya adaptasi dengan budaya Hindu.

Pada bangunan-bangunan tua pada zaman permulaan Islam, tidak menunjukkan bahwa kaligrafi diterapkan dengan baik dilingkungan kasultanan Islam, misalnya di Banten, Cirebon, Demak dan Kudus. Begitu pula, masjid-masjid yang ada di Indonesia, tidak ditemukan perhiasan kaligrafi Arab yang lengkap.

Sekali lagi, ditegaskan disini bahwa peranan kaligrafi Arab, dalam seni dekorasi di Indonesia, belum menjadi bagian ilmu seni yang mandiri. Kehadiran kaligrafi Arab hanya dipakai dan terkadang disatukan dengan aksara Jawa yang berbentuk candra sengkala (peringatan tahun pendirian masjid tersebut). Penerapan kaligrafi Arab pada zaman Islam Purba di Indonesia, dilihat dari sisi spiritualitas seni, belum berkembang dengan baik. Dibeberapa masjid di Jawa dan Madura, kaligrafi Arab difungsikan sebagai penanda bagi monumen Islam. Tentang fungsi kaligrafi Arab David James membaginya menjadi dua, pertama, kaligrafi sebagai monumental art, yaitu produk-produk seni rupa yang menghasilkan kepentingan catatan peringatan, peristiwa tertentu yang diabadikan dengan penanda Islami, berbentuk kesan kaligrafi Arab, seperti karya mozaik Arabeska atau hiasan antropomorfis lainnya. Kedua, bangunan kasultanan yang profan bercirikan monarkhis, seperti bangunan istana yang feodalistik dekoratif.

Ernest J. Grube, menulis bahwa fungsi kaligrafi tidak dominan, hanya pelengkap untuk dekorasi yang bersifat lokal, dengan rincian sebagai berikut; 1) kaligrafi yang menghiasai bangunan masjid, makam dan madrasah, dengan fungsi bertujuan untuk pengagungan kepada Allah, 2) kaligrafi dekoratif arabes, yang berfungsi untuk pelengkap hiasan arsitektur istana sebagai simbol  legitimasi kekuasaan sultan, misalnya berbentuk kaligrafi Tughra, 3) bangunan umum masyarakat terkadang juga mendapat sentuhan kaligrafi sederhana, misalnya pada pertokoan, perkantoran, pasar, rumah sakit, 4) perumahan penduduk dengan kaligrafi berfungsi sebagai hiasan dinding.

Senada dengan David James dan Ernest J. Grube, Hasan Muarif Ambary antropolog Muslim Indonesia, mengatakan bahwa kaligrafi Arab di Nusantara di samping berkembang sebagai penanda simbol, sebenarnya juga memiliki spirit relegius Islam, walau produk-produk tersebut belum sepenuhnya berciri khas Islam seperti keaslian asalnya. Ia contohkan, beberapa makam di Gresik, Barus, Pasai, Trolaya, Gowa Tallo, Bima, Ternate dan di Tidore masih membawa produk kreativitas lokal Nusantara.

Seperti yang dituturkan Wiyoso, juga segaris dengan Ambary, ia membagi dan memilah fungsi kaligrafi Nusantara dengan fungsi sebagai berikut: 1) fungsi perlambangan, pertautan antara Islam dan Hindu pada masa lalu, telah menjadikan seni kaligrafi yang dinamis, menjadi kaligrafi mistis. Kehadiran jenis kaligrafi untuk candra sengkala, penggambaran tokoh pewayangan, juga bentuk-bentuk binatang menunjukkan bukti atas fungsi tersebut, 2) fungsi dekoratif, kaligrafi Arab di Nusantara banyak digunakan sebagai penghias benda-benda rumah tangga, diserap untuk menghias senjata khas orang Jawa, seperti keris, tombak dan sebagainya. Dari situ dapat kita katakan, bahwa kaligrafi masih digunakan sekedar untuk hiasan (ornamen).

Berbeda di zaman keemasan Islam Pertengahan, fungsi kaligrafi hanya semata-mata untuk pengagungan kesucian Qur’an yang ideal, sedangkan di Nusantara sebaliknya kaligrafi digunakan untuk sesuatu yang bersifat perlambangan yang praktis.

Penutup kalam

Bila pada zaman Hindu dan Budha, orang dapat membuat gambar mahluk hidup seperti hewan dan manusia, setelah datangnya Islam ke wilayah Nusantara bentuk-bentuk makhluk hidup direduksi menjadi motif-motif dekoratif dengan dimasukkan unsur kaligrafis secara penyamaran. Motif-motif dekoratif yang kaligrafis tersebut menjadikan hiasan indah, tetapi tidak lagi tampak seperti aslinya bila dilihat mata. Artinya dari sisi spiritualitas Islam, perubahan konsep mendasar tentang tujuan, makna dan kenyataannya, masih mengandung berbagai pertanyaan dan persoalan. Memang sejarah perkembangan Islam di Nusantara, sejak para Wali Sanga membantu kekuasaan Demak misalnya, sangatlah mengagumkan. Tetapi pada perkembangan seni kaligrafi selama lebih kurang tiga abad, perkembangan itu sampai sekarang masih samar-samar.

Sekalipun demikian, seni Islam baik yang berwujud kaligrafi murni ataupun berbentuk Arabeska, tetap mengandung nilai-nilai transedental, keilahian. Hanya pada perkembangannya belum maksimal baik secara konsep, teknis dan perwujudannya.

Kepustakaan:

Hamid Safadi, Yasin, 1996 Kaligrafi Islam, Panca Simpati, Jakarta


Israr. C. 1985 Dari Teks Sampai ke Kaligrafi Arab, Yayasan Masagung, Jakarta


Jabrohim, 1995 Islam dan Kesenian, LPM Universitas Ahmad Dahlan, Yogjakarta


Kamil Al-Baba, 1992 Dinamika Kaligrafi Islam, Darul Ulum Press, Jakarta

R. Al-Faruqi, Ismail, 1999 Seni Tauhid, Bentang, Yogjakarta

----------------, 1988 Tauhid, Penerbit Pustaka ITB, Bandung


Roger Garaudy, 1985 Janji-janji Islam, Bulan Bintang, Jakarta

Schimmel, Annemarie, 1986 Dimensi Mistik Dalam Islam, Mizan, Bandung

Syed Husein Nashr, 1994 Spiritualitas dan Seni Islam, Mizan, Bandung


Ambary, Hasan Muarif, 2001 Menemukan Peradaban, Logos, Jakarta


Wiyoso Yudho Seputro, 1986 Pengantar Seni Rupa Islam di Indonesia, Angkasa, Bandung


*) Pelukis, pembuat kaligrafi dan lukis kaca, juga pengajar seni budaya di beberapa sekolah menengah. Tinggal di Sumberlawang Sragen.
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this
Your Name
Your Comment
Your Email
Utk ganti paragraf silakan klik
Comments:
Minggu, 15 September 2013 - 17:57
William - wil_liam20@yahoo.com
kalau boleh tau itu di baca apa dan artinya apa?? Thanks
Rabu, 29 Agustus 2012 - 22:02
Rendra Sukma P - rendrapujangga@yahoo.co.id
terimakasih atas artikel yang dibuat, kalau ada lagi mohon di cantumkan kembali.
Selasa, 27 September 2011 - 04:29
iXZuPPKEWJrnZ - canmen@inspire.net.nz
There is a critical shortage of ifnromaitve articles like this.
Minggu, 31 Juli 2011 - 15:15
juliah - juliah@yahoo.co.id
kaligrafi itu sangat menarik dan indah.....
Minggu, 19 Juni 2011 - 01:31
agus baqul - agus_baqul@yahoo.co.id
semoga seni khaligrafi arab berjaya !!!
Senin, 06 Juni 2011 - 17:05
lukmantoro - lukmantoro.jogja@gmail.com
Tulisan yang sederhana, mendasar tapi sangat berguna. terima kasih, pak Fajar...
Sabtu, 04 Juni 2011 - 10:35
seno purwanto aji - snpmawar@yahoo.com
terimakasih atas pengetahuannya...sangat membantu....
01-06-2014 s/d 30-06-2014
Pameran Lukisan Yaksa Agus: ‘ART Joke: Menunggu Godot’
di Tirana Art Space Jl Suryodiningratan 55, Yogyakarta
31-05-2014 s/d 08-06-2014
Bolo Kulon Painting Exhibition: "PASURUAN BERKISAH"
di Bromo Art Space Jl. Raya Nongkojajar, Dsn. Mesagi, Ds. Wonosari.. Kec. Tutur, Kab. Pasuruan, Jawa Timur, Indonesia
24-05-2014 s/d 01-06-2014
Thai-Indonesia Art Exchange Exhibition
di Bentara Budaya Yogyakarta, Jl. Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta
23-05-2014 s/d 01-06-2014
Pameran Seni Rupa "Ngalor Ngetan" - Khoiri & Rb. Ali
di Bentara Budaya Jakarta, Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta 10270
23-05-2014 s/d 31-05-2014
Pameran Seniman Residensi: Makan Angin #1
di Rumah Seni Cemeti Jl. D.I. Panjaitan 41, Yogyakarta
22-05-2014 s/d 12-06-2014
Painting Exhibition: "Triwikromo" by Elka Shri Arya
di House of Sampoerna, Taman Sampoerna 6, Surabaya
20-05-2014
Diskusi Kerakyatan: EKONOMI KREATIF BERBASIS SENI & BUDAYA
di Ruang Interaktif Center Lantai I Fakultas Ilmu Sosial & Humaniora, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
20-05-2014
Dialog Budaya & Gelar Seni “YogyaSemesta” Seri-67
di Kompleks Kepatihan Danureja, Jl. Malioboro, Yogyakarta
20-05-2014
Refleksi Dwi Windu Reformasi
di Gedung PKKH (d/h Purna Budaya), Kompleks UGM, Bulaksumur Yogyakarta
17-05-2014 s/d 19-05-2014
Kirab Seni Budaya Kotagede
di Kawasan Kotagede, Yogyakarta
read more »
Kamis, 24-07-2014
MAHA EMPU: Mengulang Baca Tentang Keilahian Perempuan
oleh Fadjar Sutardi
Senin, 14-07-2014
Bukan Tokoh Nusantara
oleh Abah Jajang Kawentar
Senin, 23-06-2014
Dunia
oleh F. Sigit Santoso
Kamis, 29-05-2014
Menelusuri Jalur Ngalor Ngetan
oleh Kuss indarto
Selasa, 20-05-2014
Jas, Maskulinitas, dan Fragmen-fragmen Modernitas
oleh Hendra Himawan
read more »
Merajakan Nalar di Tengah Kepungan Hedonisme
oleh Christian Heru Cahyo Saputro
Buku bertajuk: Acropolis (Kerajaan Nalar) yang merupakan kumpulan kolom karya wartawan SKH Lampung Post Heri Wardoyo (HRW) hadir meramaikan pasar wacana. Buku yang berisi kolom-kolom Heri Wardoyo ini pernah dimuat di rubrik ‘Nuansa’ Lampung Post bertitimangsa tahun...
Fantasi Balzac tentang Pulau Jawa
oleh Sigit Susanto
Merajut Masa Depan Bocah Merapi
oleh T. Nugroho Angkasa S.Pd.
Novel Kasongan, Seliat Tanah Liat
oleh R. Toto Sugiharto
read more »
LOMBA PENULISAN JURNALISTIK
Lomba Foto “Air dan Sanitasi untuk Kehidupan yang Lebih Baik”
6th Beijing International Art Biennale 2015
Sayembara Cipta Kreasi Motif Batik Seragam Dinas Harian RSUP Dr Kariadi 2014
Lomba Desain Sepatu Tingkat Nasional 2014
LOMBA DESAIN MURAL GALERI NASIONAL INDONESIA 2014
LOMBA CIPTA SENI BATIK NUSANTARA 2014
The 4th Bangkok Triennale International: Print and Drawing
Iver Jåks Artist-In-Residency Program 2014
UNDANGAN Pameran Seni Rupa Karya Guru Seni Budaya “GURU SENI BERLARI” - GALERI NASIONAL INDONESIA
read more »
04/07/2014 03:04 | Rev. Ana cole | Apakah Anda perlu bantuan keuangan/pinjaman untuk melunasi tagihan Anda, mulai atau memperluas bisnis Anda? Roya pinjaman perusahaan telah terakreditasi oleh kreditur Dewan memberikan pinjaman pinjaman persentase untuk klien lokal dan internasional. Mohon jawaban jika tertarik. Terima kasih. Wahyu Ana cole Telp: + 447012955490 Email:roya_loans@rocketmail.com
23/06/2014 12:22 | Danielbudi | Salam kenal saya pelukis asal Solo-Jawatengah mohon infonya jika ada pengumuman atau berita perihal kompetisi lukis yang terbaru sehingga saya tidak ketinggalan beritanya terimakasih.
17/06/2014 19:53 | WP | Saya merasa website ini juga berkait dengan aspek keindonesiaan: www.wayangpuki.com. Saya dan kawan2 tidak habis diskusi tentang intinya. Mungkin menarik untuk Anda? Salam.
26/04/2014 01:21 | Luki Johnson | salam kenal dari pulau Borneo
20/04/2014 09:31 | Syakieb Sungkar | terima kasih
read more »
About Us
Indonesia Art News merupakan media tentang dinamika seni yang berkait dengan aspek keindonesiaan. Media ini berusaha untuk mengedepankan segi informasi ihwal seni yang dikemas dengan cara pandang kritis dan muatan yang investigative. Indonesia Art News berkedudukan di Yogyakarta, Indonesia
Gabung di Facebook
Buku Tamu
Pengelola IAN
Editor in chief:Kuss Indarto
Editor:R. Toto Sugiarto
Designer:Andika Indrayana
Email - info@indonesiaartnews.or.id