 |
 |
 |
| Rabu, 01 September 2010 - 11:48 |
 |
| Antara Merah dan Putih |
 |
| oleh Ari Widjaja |
 | |
 |
| #95 Beef, salah satu karya Ito Joyoatmojo. (foto: dokumentasi seniman) |
 | Irama, cerita yang terbentuk dan cerita yang dibentuk
MERAH putih, merah dan putih, ada merah dan ada putih. Merah itu berani dan putih itu suci, merah itu agresif dan dinamis sementara putih itu pucat dan diam, merah bergairah dan erotis, putih seperti kamar jenasah, mati dan apatis, tetapi sinar putih, kostum dan sepatu putih serta handuk putih malah mengingatkanku pada lapangan badminton. Semua itu masih terngiang ditelingaku, kata-kata guruku di sekolah ketika menjelaskan makna dari warna nasional republik ini. Pengertian yang harus kami serapi dan harus ditelan sebagai doktrin yang harus dihafal, semua bagai sebuah aturan ada begini dan ada begitu, seakan-akan dengan demikian semua jadi jelas dan tertib.
Seperti halnya makna merah dan putih yang harus kami pelajari, banyak pengetahuan yang kita peroleh disekolah melekat demikian eratnya dalam pemahamanku. Seingatku di sekolah seni ada semacam doktrin yang dulu –mungkin itu satu-satunya rumusan yang dikenal waktu itu– selalu dipakai untuk menjelaskan apa itu seni. Masih terbayang hingga sekarang buku pedoman yang harus kami pahami dan telan isinya bulat-bulat –The Meanings of Art, Sir Herbert Read–. Apa itu seni? Buku itu mencoba menjelaskan bahwa seni ada kaitannya dengan apa yang disebut Harmony, satu kata atau istilah yang pada saat itu susah kumengerti. Harmony atau keselarasan saat itu seakan-akan menjadi salah satu rumusan atau resep utama untuk membuat karya yang waktu itu tentu saja masih merupakan tugas-tugas sekolah. Baru kemudian bermunculan berbagai pandangan dan usaha-usaha lain untuk mencoba mendefinisikan kembali apa itu seni, dari berbagai kalangan juga dari para pekerja seni era 70-an. Mereka seperti berlomba mencari kejelasan dan berusaha menjelaskan fenomena (dulu aku menganggapnya sebagai sebuah fenomena) ini, begitupun aku pada saat itu merasakan kebutuhan yang sama. Kebutuhan ini pada ahirnya mereda dengan sendirinya setelah nilai-nilai definitif terasa jadi suatu hal yang semu dan muncul anggapan bahwa “art is fun”, seni adalah sesuatu yang bisa dinikmati. Spontanitas, kejujuran atau aura seperti menjadi sarat utama. Suatu pedoman untuk mencari nilai, untuk membenarkan nilai dan membenarkan bahwa nilai-nilai itu memang benar-benar ada.
Ada hal yang menarik pada usaha-usaha pencarian nilai ini, berbagai pembenaran selalu bermunculan silih berganti. Bagaikan jarum jam yang selalu berputar menyinggahi setiap titik-titik tanda waktu dan melewatinya begitu saja. Ada yang menarik dari titik-titik tanda waktu itu, titik-titik tanda waktu yang membuat jarum jam bergerak dan melahirkan irama. Entah mana yang duluan, irama membuat rutinitas jadi hidup atau kehidupan yang membuat rutinitas jadi berirama. Sejak itu irama jadi menarik perhatianku. Rutinitas dan kehidupan seakan-akan menyatu dalam irama.
Garis-garis horisontal dan vertikal yang sederhanapun mampu menghadirkan irama, walaupun garis-garis tersebut hadir secara rutin, irama akan hadir dengan sendirinya. Rutinitas dalam kehidupan juga menghadirkan iramanya sendiri dan irama ini yang pada ahirnya kuyakini sebagai visualisasi dari kehidupan itu sendiri. Irama yang tak menentu, sesuatu yang tak stabil. Ketidak stabilan ini yang kemudian kurasakan sebagai tanda-tanda kehidupan, yang membuatku merasa sebagai manusia. Ketidakstabilan lengkap dengan segala kesengajaan dan ketidaksengajaan, kesadaran dan kelupaan. Ketidak sempurnaan ini yang ahirnya menandakan kehidupan. Garis-garis yang sudah diusahakan untuk disusun secara sempurna seringkali menari sesuai dengan kondisiku pada saat menggaris.
Di sana terjadi semacam benturan antara tuntutan pikiran dan kondisi fisik. Hasil dari benturan ini kuanggap bukan merupakan cacat atau kegagalan fisik dalam mewujudkan tuntutan pikiran, melainkan menimbulkan suatu hal yang sama sekali baru yaitu irama yang lahir dari dua hal yang disatukan. Perhatianku terhadap irama ini ternyata berlanjut. Dengan mengerjakan garis-garis liar yang secara fisik dengan menggunakan kuas dan acrylic hanya dapat digariskan secara perlahan-lahan, di sana terjadi benturan antara tuntutan pikiran dan keterbatasan fisik yang semakin kuat. Mungkin di sini letak perbedaan antara cerita yang terbentuk dan cerita yang dibentuk.
Antara cinta dan cerita
Aku sendiri tidak jelas apakah aku harus merasa sedih atau malah beruntung. Selama kehidupanku di Eropa, semakin lama aku seperti merasa semakin kehilangan akar. Memang bukan merupakan hal penting, toh sebagai manusia kita mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dan dalam hal ini kemampuanku tidak jelek. Akupun seperti jatuh cinta pada tempat tinggalku sekarang, iklimnya, orang-orangnya, cara bergaul dan berpikir mereka, makanannya, lambat laun aku juga terbiasa dengan semua itu. Tetapi aku memang bukan lahir dan tumbuh besar disana, dalam berbagai hal sepele instinkku selalu bereaksi ke arah lain. Cara-cara orang Jawa memandang keluarga, konsep kekerabatannya, mulai dari tata-cara dan sopan-santun sampai cara-cara mengambil suatu keputusan. Kerinduan pada makanan kampung halaman, hingga lama-lama timbul semacam pertanyaan apa itu realistis? Apa dan mana yang realistis? Apa realitas itu penting? Kegiatan sehari-hari dan kerinduan-kerinduan itu jadi persoalan yang sebenarnya bisa didiskusikan panjang lebar, tapi dalam pengantar ini aku hanya ingin bertutur dan bukan berdiskusi.
Sering juga aku merasa bagai turis ketika berada di Jakarta kembali. Aku masih ingat dan kenal semua tetapi juga merasa asing terhadap semua. Begitu pula dalam kesenian, sering muncul perasaan yang sama. Aku seperti merasa tahu dan kenal ke”seni”an, tapi setiapkali karyaku dihadapkan pada lingkungan “seni”, tiba-tiba aku merasa asing.
Secara teoritis memang ahirnya aku berusaha untuk melupakan dan menghilangkan nilai-nilai atau pengertian-pengertian tentang nilai yang pernah kupelajari dulu tentang apa yang baik dan apa yang kurang baik, toh dalam berke”seni”an aku tidak melakukan kejahatan. Kesenangan dan rasa cinta bisa timbul dan tumbuh dari berbagai macam hal, tapi rasanya sulit untuk menumbuhkan rasa cinta dan kesenangan karena keharusan, jelasnya aku tidak mampu seperti itu.
Sejak kecil aku senang menggambar, aku selalu bercerita waktu menggambar, tentu saja cerita yang sepotong-sepotong. Gambar demi gambar, sebagaimana umumnya anak. Sepotong demi sepotong dan cerita sepotong-sepotong tersebut tidak pernah menjadi sesuatu yang penting, tetapi kegiatan itu sendiri secara keseluruhan, dan rasa suka pada kegiatan itu sendiri yang menjadi faktor pendorong utama. Hampir setiap kertas kosong yang kujumpai selalu kuisi coretan, seringkali timbul persoalan dengan guru-guruku di sekolah karena hampir setiap buku sekolah selalu berisi coretan gambar. Keasikan ini berjalan terus hingga suatu saat dalam pelajaran menggambar, guruku menetapkan suatu tema dan di situ aku merasa buntu!
Di sekolah seni kami dilatih untuk membuat garis yang “artistik” tanpa tahu “artistik” itu apa. Setiap kali terjadi perdebatan di antara kami tentang apa itu “artistik”. Hampir semua teman sebaya di Jogja dulu hafal dengan bentuk Tugu, Pasar Burung, Pasar Beringharjo dan gedung Kantor Pos besar, bertahun-tahun kami menggunakannya sebagai obyek. Bertahun-tahun setiap hari kami diharuskan melatih diri dalam menggaris dan mencapai bentuk “artistik” sebagai modal utama dalam berkarya. Di situ aku merasa beruntung, kesenanganku seperti tersalur, tapi lagi-lagi kertas-kertas itu tidak pernah menjadi penting. Semua berjalan wajar dan kami bergembira, lalu apa sebenarnya yang mengganggu? Mungkin belakangan, cara-cara menilai yang menggangguku. Di sekolah selain penekanan pada pandangan apa yang dianggap “artistik” dan apa yang bukan. sebagai suatu pengertian yang harus dan bisa dipelajari, juga tema atau cerita yang menjadi kandungan dari bentuk-bentuk “artistik” itu yang mungkin lambat-laun menjadi beban dalam membuat sebuah gambar. Kecenderungan ini memang menjadi peninggalan sejarah, kecenderungan seperti ini sudah dikenal sejak jaman antik dan diyakini sebagai unsur utama dalam seni lukis.
Sejak abad ke 13 hingga 15 di Eropa substansi dan cara pemaparannya memang mengalami pembaruan dibanding lukisan2 prasejarah dan cara2 ini bertahan hingga jaman klasik sampai abad ke 18 sebagai substansi yang paling diakui dan diterima di Eropa. Apakah memang karya2 besar seringkali berfungsi sebagai medium untuk menceritakan sesuatu? Apakah memang tujuan para seniman besar menceritakan kembali cerita2 yang sudah diceritakan?
Beberapa pandangan lama atau post modern dalam memahami kesenian sering mengaburkan pandangan kita antara kejadian dan kebenaran dari apa yang digambarkan. Karena itu timbul beberapa pertanyaan. Sebuah lukisan pasti menampilkan sesuatu, apakah ia juga menceritakan sesuatu? Apakah penampilannya identik dengan ceritanya? Apa penampilan dan cerita saling bersinggungan? Apakah yang ditawarkan sebuah lukisan ke pengamatnya? Apa yang didapati pengamat kalau dia tidak mengenal ceritanya?
Kerancuan ini kualami ketika aku memutuskan untuk mulai menggambar lagi setelah berhenti selama lebih dari 15 tahun. Tiba-tiba aku merasa seperti seorang pemula yang frustasi menghadapi persoalan apa yang harus kugambar. Harus kumulai dari mana? Pernah ada yang mengatakan bahwa seorang petani memulai pekerjaannya dengan menebar benih setelah menyiapkan lahan, membiarkan benih itu tumbuh dan kemudian merawatnya, tetapi pada saat itu aku merasa seperti tidak memiliki benih.
Jadi pilihan untuk menggambar berdasarkan pattern yang sudah ada, seperti usaha menggarap lahan dan membiarkan sesuatu tumbuh dengan sendirinya, semua kumulai lagi dengan menggambarkan bentuk-bentuk yang ada disekitarku. Tak terbayangkan sebelumnya cerita apa yang sesungguhnya ingin kuhadirkan dalam gambar-gambar rerumputanku. Realita?
Membicarakan realisme, seketika timbul pertanyaan di kepalaku, realisme yang mana? apakah saat ini masih relevan untuk membahas realisme? Di tengah-tengah dilema tentang hal2 yang kita hadapi sehari-hari, dalam era dimana manipulasi dapat dilakukan dengan mudah dan itu tejadi di mana-mana. Dari mulai berita yang kita lihat di media masa, bukan hanya kata-kata yang terbit melalui suatu sistem edit, elemen audio visualpun sudah dengan mudahnya per mouse-klik dapat diedit sesukanya. Perkembangan tehnologi „filter“ dalam sistem editing audio-visual memungkinkan hal ini. Karena itu aku merasa sudah tidak pada tempatnya lagi kita membicarakan realisme dengan menggunakan kodek klasik yang apa adanya. Realisme dalam seni-rupa bukan lagi dimaksudkan dengan merepresentasikan obyek secara benar, atau merepresentasikan kenyataan secara tepat. Obyek yang seperti apa? Atau kenyataan yang mana? Ketika van Gogh menggambarkan bunga mataharinya, tak satu orangpun menghubungkan hasil representasinya dengan realisme, karena yang digambarkan memang bukan hanya sekedar bunga matahari yang terpotong dan tertancap dalam jambangan bunga. Ada hal yang lebih dalam dari itu, ada hal yang lebih kompleks dari persoalan „angel“-nya Courbert. Di era 80-an, dalam ruang kuliah di IKJ dulupun mendiang Nashar selalu mengatakan tentang realita yang lain dari sekadar merepresentasikan kembali hal-hal kasat mata yang kita lihat, suatu realita dalam yang sering disebutnya sebagai kesan-kesan dalam, itulah yang sering ia coba terangkan dalam mata kuliahnya. Apa itu kesan-kesan dalam? Saya tak berniat menjabarkannya secara panjang lebar. Tapi saat itupun sebenarnya sudah disadari adanya hal lain diluar kenyataan kasat mata yang kita tangkap, kenyataan yang timbul berdasarkan penilaian seseorang sesuai dengan pengalamannya ternyata sangat mempengaruhi hasil interpretasi ini.
Merah putih, terkadang terselip biru dan hijau diantaranya
Seperti waktu menggarap rerumputan, sebetulnya yang kulakukan adalah hal yang sama. Aku mencoba untuk melupakan ide akan sebuah obyek, menghindari keinginan untuk mencari obyek, baik dari luar maupun dari dalam diriku. Mungkin ini disebabkan oleh anggapan dan perasaanku yang mengatakan bahwa obyek itu berkaitan dengan simbol hasil dari rekayasa dalam usaha menerangkan ide dan hal ini jauh dari keinginanku sebenarnya. Aku hanya ingin bekerja mengisi kehidupan ini dengan hal-hal yang kusenangi, dengan hal-hal yang bisa kulakukan, ini memberikan semacam kekuatan dan membangkitkan rasa cinta dalam keseharian. Pertama mungkin karena keyakinan bahwa aku sanggup melakukannya tanpa adanya beban.
Seperti halnya rumput-rumput, begitu juga dengan air di danau Zurich yang mengalir ke sungai Limmat yang membelah kota dan hampir setiap hari kulalui, menyusup begitu saja dalam ingatan, seakan-akan aku bisa hafal akan setiap riak dan warnanya yang berubah mengikuti musim, tapi sebenarnya tidak ada keinginan lain dari pada menggambar itu sendiri, dan kali ini air di danau dan sungai yang mengalir hadir begitu saja secara tiba-tiba. Aku sendiri tidak tahu dan tidak menyadari kenapa, walaupun harus kuakui, kemudian timbul godaan untuk membuat semacam design karena hal itu juga sudah terlanjur menjadi semacam insting yang sangat sulit di hindari. Beberapa bulan yang lalu, bersama teman-teman, kami sempat berdiskusi simpang-siur tentang berbagai hal, yang ahirnya sampai pada masalah interest, setiap orang ternyata memang memiliki dan membangun interest-nya masing-masing. Hal ini juga berkaitan erat dengan proses berkarya atau yang sering dibilang juga proses kreatif. Aku langsung sependapat dengan kesimpulan ini, mengingat ungkapan Hawkings bahwa waktu Newton melihat apel yang jatuh dari pohon, bukan peristiwa itu yang sebenarnya penting, tetapi apa yang sesungguhnya terjadi dalam pemikiran Newton saat itu.
Kemudian antara merah-putih dan ikan-ikan koi? daging dan rerumputan? Apa hubungannya?
Tidak ada sama sekali! Imaji-imaji itu direkam oleh seorang anak berusia 5 tahun, imaji-imaji itu direkam bukan dengan tujuan untuk merekam keindahan atau bentuk ikan-ikan koi di kolam, tetapi lebih bertujuan merekam gerakan dan kehidupan serta aktivitas ikan-ikan di kolam. Sama sekali bebas dari pertimbangan artistik dan fotografis, komposisi bentuk dan warna. Warna-warna merah putih dari tubuh-tubuh ikan memang menjadi daya tarik utama, tetapi itu kemudian tidak lagi jadi penting, bukan lagi ikan sebagai bentuk yang menjadi faktor utama, secara keseluruhan, merah putih, gerakan dan percampuran warna-warni lain, itu semua yang kemudian menjadi kesatuan sensasi. Daya tarik untuk mendokumentasikan momen itu mungkin tidak akan muncul seandainya yang dihadapi hanya seekor ikan koi yang tampil sebagai display. Demikian pula potongan-potongan daging dan lemak bukan hanya membicarakan masalah kematian dan kehidupan.
Isen-isen
Mungkin, lagi-lagi karena aku dilahirkan dan dibesarkan sebagai orang Jawa, maka terasa sangat sulit bagiku untuk memikirkan suatu persoalan apalagi berusaha untuk memecahkannya. Aku tidak dibesarkan dan tumbuh dengan cara berfikir seperti itu, orang tua dan lingkunganku selalu membiarkan waktu berjalan sesuai dengan kecepatannya sendiri dan hidup ini seakan-akan bagai sebuah ruang yang harus diisi. Seperti halnya Gunungan yang mengawali sebuah lakon yang harus dipenuhi dengan isen-isen dan bukan dengan perlambangan. Bukankah Gunungan dan lakon itu sendiri sudah merupakan perlambangan?
Lalu yang menjadi pertanyaanku … isen-isen itu sebenarnya apa? Ruang dalam hidup itu bagaimana? Bulat, segi empat atau bagaimana? Lalu harus diisi dengan apa? Keteraturan? Kekosongan? Gerakan? Gagasan? Naluri? Perasaan? Kemarahan? Kesedihan? atau sekedar catatan pengalaman perjalanan waktu yang telanjang?
Apa semua itu bisa memenuhi katagori isen-isen?
Lalu apa urusannya dengan seni? Apa yang menjadi syarat agar suatu hasil karya bisa dikatakan sebagai karya seni? Mungkin paling gampang kalau kita menyebut suatu karya sebagai karya seni sejauh karya itu tidak memiliki kepentingan lain selain kepentingan seni itu sendiri.
Lho… persoalan tiba-tiba menjadi rumit, kesenangan tiba-tiba menjadi persoalan… Terus terang aku akan mengalami kebuntuan bila harus memenuhi kriteria seni.
Setiap hari, sepanjang hari entah berapa juta kali otot mata berdenyut menggerakkan lensa yang menangkap himpunan informasi yang ahirnya terlewat begitu saja. Tak banyak, mungkin hanya beberapa kalaupun masih bisa terregistrasi secara tertib. Banyak hal yang terlupakan dan lebih banyak lagi yang terlewatkan begitu saja. Warna-warna seakan tarian perca kaleidoskop yang bergemulai tak hentinya.
Bunyi dan bebauan yang terserap, menjadi onggokan potongan-potongan cerita. Hari-demi-hari potongan-potongan ini menghimpun jadi gumpalan yang memenuhi ruang. Setiap saat terbayang kembali sebelum tidur dan setiap saat, tidur menjadi lebih penting dari potongan-potongan cerita hari ini. Dibiarkan menjadi himpunan yang akan berlanjut dan bertambah dengan sendirinya keesokan harinya. Tidurpun menjadi nikmat, potongan-potongan cerita hari kemarin menjadi tilam yang menyenangkan. Bukan lagi klimaks dari cerita –yang akan dilewatkan begitu tercapai– yang jadi penting.
Pengisian Gunungan sebagai awal dan penutup Lakon mungkin merupakan jawaban dari akar yang kucari selama ini.
Kenapa merah dan putih harus dipisah? Merah dan putih bisa juga saling bergaul hingga melahirkan merah jambu tanpa menjadi berani atau suci. Mungkin juga terselip sedikit hijau dan biru diantaranya. ***
Tulisan Ari Widjaja ini merupakan "pembahasaan diri" Ito Joyoatmojo yang dimuat dalam katalog pameran tunggal Ito bertajuk "The Birth of Beef", mulai 11 September 2010, di Artsphere Gallery, Jakarta.
|  |
| *) Peminat seni rupa, alumnus Jurusan Arsitektur, FT UGM, Yogyakarta. |  |
Leave a Comment
Please feel free to let us know your feeling about this |
|
|
|
|
 |
| Comments: |
 |
| Jum'at, 03 September 2010 - 12:12 |
| ari widjaja - ari.widjaja@lycos.com |
 |
| tulisan ini adalah esei pribadi ito joyoatmojo sendiri yang mula-mula dimuat sebagai pengantar pamerannya baru baru ini 'the birth of the beef' di artsphere, jakarta. peran saya hanyalah meminta permisi ito untuk mengirimkan esei ini ke IAN, karena saya tertarik dengan posisi 'liminal'-nya dalam struktur bangsa, maupun pengaruhnya terhadap pilihan atau keputusan tentang cara berkesenian ito.
dengan ini saya meminta IAN meralat kekeliruan kredit penulis esei ini. salam - AW. |
 |
 |
 |
| Jum'at, 03 September 2010 - 03:31 |
| setia nugraha - oezank@googlemail.com |
 |
| Artikel yg sangat bagus sekali,... terima kasih untuk sharing nya.
Salam
Setia
Http://www.snaph.de |
 |
 |
 |
| Rabu, 01 September 2010 - 23:14 |
| denny apriyanto - dennyart90@yahoo.com |
 |
|
 |
 |
 | |
 |
|
|
|
|
 |
 |
 |
05-09-2010 |
| Piano Recital by Sheila Victoria Pietono |
| di GoetheHaus Auditorium
Jl. Sam Ratulangi 9-15,
Menteng, Jakarta Pusat |  | 04-09-2010 |
| à courts d’écran - pemutaran film pendek Prancis-Indonesia #37 |
| di CCF Jakarta - Salemba
Jalan Salemba Raya no. 25
Jakarta, Indonesia |  | 03-09-2010 |
| SIZE DOES MATTER |
| di Danes Art Veranda
Jl. Hayam Wuruk No. 159
Denpasar, Indonesia |  | 03-09-2010 |
| Talkshow "Serunya belajar skenario diluar negeri" bareng Riri Riza, dkk |
| di Sekolah Film Binus University International (lt 3), Senayan, Jakarta |  | 01-09-2010 s/d 07-09-2010 |
| Life/Art # 101, Never Ending Lesson
|
| di SANGKRING ART SPACE
Nitiprayan Rt. 1 Rw.20 Ngestiharjo, Kasihan Bantul, Yogyakarta, 55182
Telp. (0274) 381032, 081227675678, Fax: (0274) 381032 |  |
| read more » |
 |
|
|
|
 |
 |
|
|
 |
 |
|
|
 |
 |
|
|
 |
 |
 |
| 31/08/2010 15:26 | indonesia art news | >joind: maaf, mas, kami belum memiliki naskah-naskah seperti yang Anda inginkan. barangkali di antara sidang pembaca IAN ada yang bisa membantu? makasih |
 | | 29/08/2010 03:27 | joind bayuwinanda | bisaminta data2 biograpi, literatur, catatan yg lain2 tentang Naskah Nabi Kembar krya Slawomir Mrozek, mas kuss? kebetulan sy sdg memproduksi karya teater berjudul itu, terma kasih. salam seni |
 | | 28/08/2010 18:43 | indonesia art news | >rina: Betul, sejak hari Jumat kemarin ada ketidakberesan pada sistem kami selama satu setengah hari. Sekarang sudah normal kembali. Terima kasih atas kunjungan Anda. Salam! :-) |
 | | 28/08/2010 13:06 | Rina | Kok sepertinya opportunity tidak bisa saya buka? saya ingin mengetahui apa saja isi dari judul Lomba Foto Keceriaan Anak-anak. Terimakasih. |
 | | 26/08/2010 20:42 | sugiarto | tiada hari tanpa jepret, hidup seni fotogrfi Indonesia |
 |
| read more » |
 |
|
|
|
|
 |